6. DICULIK

11.7K 926 2
                                        

Ammar menyenderkan kepalanya pada sekat di halte. Ia lelah. Berjalan jauh hanya untuk menghindari gerombolan remaja itu. Jalanan terasa lebih sepi. Mungkin karena anak Alpadia menutup akses kendaraan saat tawuran tadi.

Bisa jadi hari ini ia juga tidak akan mendapat bus lagi. Apa Ammar harus berjalan lebih jauh. Setidaknya satu kilo dari sini pasti ada kendaraan umum yang lewat.

Dari sini, Ammar hanya melihat mobil pribadi melewati jalanan itu. Sesaat, rasa iri memenuhi hatinya. Ammar tidak pernah meminta diberikan mobil mewah untuk mengantarnya kemana saja. Dia juga tak minta uang banyak. Ammar hanya ingin hidup seperti anak normal lainnya.

Tidur, makan, sekolah, berteman, dan bermain. Kenapa diusianya sekarang Ammar malah memikirkan dimana besok dia akan berteduh. Makan saja dia harus berhemat. Ammar benci bubur. Tapi, hanya Mang Mamat yang memberikan harga murah untuknya.

Beranjak dari halte, Ammar pergi tak tentu arah. Dengan uang lima ribu yang ia bawa, Ammar tidak bisa membeli makanan. Itu uang sisa hari ini yang ia bawa untuk naik bus saat pulang.

Remaja kecil itu berhenti berjalan dan menatap uang di tangannya. Ia mencebik, matanya berkaca-kaca. Selama ini dia menjalani kehidupan dengan rasa ikhlas. Makan sekali dalam sehari saja ia bersyukur.

Tapi, dia hanya anak berusia tiga belas tahun. Sekuat apapun ia menghadapi kehidupannya, mental Ammar belum siap. Hanya karena dia tak punya orang tua dan hidup menggelandang membuat semua orang menatapnya remeh dan hina.

"Hiks.. Gak adil." Ujar Ammar lirih.

Tangis kecil mengisi jalanan. Ammar menutup matanya dengan satu lengan. Biarlah ia mengeluh untuk hari ini. Selagi tidak ada yang melihat. Ia tidak mau dikirim ke panti asuhan atau diadopsi jika ada yang mengetahui Ammar merasa susah.

"Nak, kamu tidak apa-apa?"

Ammar langsung menghentikan tangisannya. Membuang wajah, ia membersihkan air mata dan ingusnya.

"Gak apa-apa kok." Ujarnya. Ia menoleh dengan senyuman.

Wanita asing itu mengeluarkan sapu tangan dari tasnya dan meminta izin untuk membersihkan wajah remaja kecil itu. Dengan telaten si wanita mengelap setiap inci wajah Ammar.

"Kamu mau pergi kemana?" Tanya wanita itu. Heran saja ada anak sekecil ini berkeliaran di area sepi seperti ini.

"Mau pulang." Ujarnya serak.

"Tante anterin, ya?" Tawarnya.

Tak lama kemudian, mobil mercedes benz s600 guard hitam berhenti tepat di samping mereka. Seorang lelaki yang diyakini supir membungkuk hormat. Ammar mengamati keduanya dan mobil mewah itu.

"Tante bukan orang jahat kok. Mau, ya? Udah malem banget, gak baik anak kecil diluar jam segini." Bujuknya lembut saat tau anak itu terlihat ragu dan takut.

"Makasih, Tante. Tapi saya bisa pulang sendiri." Tolaknya.

Ammar menarik tangannya yang di genggam erat oleh wanita di depannya. Tapi, kenapa tidak bisa lepas. Mata Ammar makin gelisah saat ia dibawa paksa masuk ke mobil hingga menangis ketakutan.

Saat mobil mulai berjalan, wanita itu terlihat bingung ketika anak di sampingnya menangis lagi.

"Udah sayang, cup tante gak apa-apain. Husstt.. rumah kamu dimana? Ayo ini jalan kerumahnya." Katanya mencoba menenangkan.

Wanita itu terlihat bingung. Ia memang sudah punya tiga anak. Tetapi, ketiganya tidak pernah menangis di hadapannya. Bukan karena tidak dekat, hanya saja sang suami mengajarkan untuk selalu bersikap dewasa dan mandiri sejak kecil. Membuat hubungan orang tua dan anak tidak seterbuka itu.

Tak mendapat jawaban, si wanita menyuruh supir untuk ke mansion. Ia panik saat remaja kecil itu makin mengeraskan tangisannya.

Ammar berbalik, meraih pintu mobil. Tapi, ia tak bisa membukanya. Ia tak pernah naik mobil. Hingga mobil itu berhenti di pekarangan rumah besar yang lagi, Ammar belum pernah lihat selain dari luar pagar.

Pintu sebelah Ammar terbuka. Tapi, ia beringsut ke arah berlawanan. Enggan turun karena takut ini penculikan.

Merasa bujukannya tak berhasil, wanita itu memasuki mansion tanpa remaja itu. Membuat Ammar yang melihat celah kabur, segera keluar dari mobil dan berlari ke arah gerbang.

"Buka! Saya mau pulang. Gak mau disini." Teriaknya.

"HUWAA!"

Ammar terkejut saat tubuhnya melayang. Memberontak hebat saat tau seorang lelaki mengangkatnya paksa dan membawa ia masuk ke rumah itu. Tapi, saat ia rasa itu sia-sia Ammar hanya bisa menangis hingga di dudukkan pada kursi.

"Sayang, tenang. Tante gak berniat jahat. Itu, lihat kesana." Tunjuk wanita itu ke arah telepon rumah.

"Kalau kamu merasa gak aman, kamu bisa hubungin polisi lewat sana. Tante udah kasih nomornya dimeja." Ujarnya.

Wanita cantik dengan dress peach motif bunga itu bersimpuh di hadapan Ammar. Ekspresi lembut itu membuat ia meredakan tangisannya. Menyisakan sesegukan.

Remaja kecil itu meremat bajunya saat baru sadar ada pemuda yang sedari tadi menatapnya penasaran. Tapi yang Ammar lihat adalah wajah dingin dan raut tidak suka.

"Mau pulang." Cicitnya.

"Ikut makan malam dulu, ya? Nanti Tante anterin kamu pulang." Katanya penuh harap. Tapi, diamnya Ammar dianggap setuju oleh wanita itu.

Saat wanita itu pamit pergi untuk menyiapkan makan malam. Ammar setia menundukkan kepala saat tatapan pemuda yang kini duduk di depannya terasa menusuk. Sangat familiar. Ammar seperti pernah mendapat tatapan serupa. Tapi anehnya, lelaki itu tidak membuka suara apapun.

"Nah, sudah siap. Bibi, tolong panggil Carel." Ujar wanita itu.

"Oh iya, kita belum berkenalan. Hai sayang, nama tante Emiko dan dia anak pertama tante. Namanya Nial." Tunjuk Emiko pada pemuda yang kini sibuk dengan ponselnya.

Ammar melirik pada Nial. Lalu matanya kembali melihat Emiko. Ada ekspresi penasaran pada wajah wanita itu.

"Halo, nama saya Ammar." Katanya malu.

Emiko gemas pada sikap Ammar. Ia mencubit kecil pipi anak itu. Kenapa tidak ada dari salah satu putranya yang seperti ini.

Hingga seorang remaja lain datang dan duduk di samping Nial, Ammar bisa tau jika ini adalah Carel yang tadi disebut oleh Emiko.

"Kalau itu, bungsunya tante. Namanya Carel." Ujar Emiko senang.

"Ayo kita mulai makan. Suami tante ada urusan lain. Jadi, gak perlu ditunggu."

Ammar hanya bisa tersenyum sampai dia tau kalau dua lelaki di depannya ini mempunyai ekspresi yang serupa. Seketika suasana menjadi canggung. Hanya Emiko yang berbicara dengan nada riang menawarinya ini dan itu.

Ammar tidak bertanya apapun. Ia hanya menatap sekeliling dengan takjub. Interior mewah dan barang mahal ada dimana-mana. Ia jadi merasa kecil dan tak pantas berada disana. Lihat pakaian lusuh dan kusam serta sendal jepit yang sudah tipis itu. Ia seperti anak pembantu.

Ternyata janji Emiko ditepati. Ammar diantar pulang oleh Nial karena Emiko tak bisa keluar tanpa izin suaminya. Anehnya, mereka tak bertanya apapun padanya hingga ia masuk ke markas.

Saat Nial pulang, sang ibu ternyata masih berada di ruang makan. Emiko terlihat termenung sejenak.

"Dia terlihat mirip dengan seseorang." Ujar Emiko.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang