"Sarah, kapan kamu sampai?"
Emiko baru kembali setelah mengurus administrasi. Saat masuk, ia mendapati Sarah sedang memeluk Ammar. Sepertinya anak itu sudah bangun sedari tadi. Ia memandang ke penjuru ruangan. Seharusnya Nial atau Carel sudah tiba lebih dulu.
"Ah, baru saja. Kalau kamu mencari Nial, dia sedang ganti baju." Ujarnya menunjuk kamar mandi yang ada disana.
Wanita itu tersenyum menanggapi. Baru saja hendak duduk di sofa, tak sengaja Emiko melihat buket bunga di nakas. Mungkin Sarah yang membawanya.
"Seharusnya kamu tak perlu membawa bunga, Sarah. Ini pasti merepotkanmu." Ujar Emiko mengambil bunga dan hendak menyusunnya ke dalam wadah.
"Bukan. Aku kira itu kamu yang bawa." Jawab Sarah bingung.
Senyum yang terpatri di wajah Emiko luntur. Tangannya yang sedang menata bunga terhenti. Keluarganya datang bersama tadi. Mereka tak membawa apapun kesini karena terlalu panik.
Ceklek
"Nial, apa ada seseorang yang datang tadi?" Emiko menatap si sulung yang baru keluar dari kamar mandi.
"Tidak ada."
Emiko termenung, tangannya menggenggam bunga itu erat. Ada seseorang yang datang disaat ruangan kosong beberapa menit lalu.
Sret
Nial merebut dan membuang bunganya ke tempat sampah tanpa kata. Dari kejadian Ammar hilang dan buket tanpa tahu pengirimnya ini sudah membuat kesabarannya habis.
Sarah hanya menatap bingung keduanya. Ia tak paham dengan apa yang mereka pikirkan. Wanita itu sibuk mengusap wajah Ammar yang kini terus menatapnya.
"Mungkin itu salah kirim, Emi." Ujar Sarah mengambil perhatian.
Tidak mungkin. Karl sengaja memilih ruang rawat VIP agar Ammar cepat pulih. Hanya ada dua kamar di lorong itu dan satunya kosong. Menghiraukan perkataan Sarah, Emiko mendekat ke arah ranjang.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Emiko mengecek keadaan Ammar.
Remaja kecil itu menggeleng kecil. Ia tak merasakan sakit apapun selain pusing yang mendera kepalanya. Matanya terpejam sejenak untuk menetralisir dan terbuka kembali.
"Apa ada yang masuk ke sini sebelum Kak Nial datang?" Cecar Emiko.
"Daddy." Ujar Ammar lirih. Ia mencoba mengingat sesuatu.
"Aku denger suara. Katanya dia rindu aku. Tapi–"
Semua orang menunggu kalimat Ammar selanjutnya. Ada seorang pria yang datang saat Ammar masih diambang kesadaran.
"Aku gak tau." Sarah mengeratkan dekapannya. Ia menatap Emiko yang termenung.
"Aku tidak tau apa yang kamu takutkan. Tapi setidaknya Ammar baik-baik saja, Emi." Kata Sarah.
Benar. Tidak ada yang lebih penting dari keselamatan Ammar untuk saat ini. Emiko duduk di sofa diikuti oleh Nial yang sibuk dengan ponselnya. Ia menatap Sarah. Sepertinya wanita itu juga harus tahu sesuatu.
"Sarah, ada yang ingin kuberitahukan padamu." Ujar Emiko. Ia menatap wanita itu penuh arti.
"Biar aku yang akan menjaga Ammar." Sergah Nial. Ia menggantikan tempat Sarah.
Dua wanita itu keluar. Mereka duduk berhadapan di kursi. Beberapa saat terjadi keheningan. Emiko yang berpikir untuk memulai dari mana dan Sarah yang dengan sabar menunggu.
"Keluargaku tidak sebaik yang kamu duga." Emiko menunduk. Otaknya menggali memori dimana ia masih tinggal bersama orangtua dan kakaknya.
"Apa maksudmu?" Sarah menggengam tangan Emiko.
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)