29. SISI YANG MANA?

2.9K 276 5
                                        

Bisik-bisik terdengar di kelas milik Ammar saat kedatangan seseorang yang tak mereka duga. Remaja yang dikenal berandalan dan tak tahu aturan kini malah menghampiri si anak baru.

"Awas ada lalat masuk ke mulut lo." Ujar Saga memutar bola matanya malas.

"Kamu ngapain ke sini lagi?"

Saga menatap beberapa kotak makan susun dan sebuah botol di meja milik Ammar. Lalu ia menyapu pandang ke penjuru kelas.

"Terserah gue dong mau kemana. Minggir gue mau duduk." Saga mendorong pelan bahu Ammar hingga si empu bergeser ke bangku samping.

"Hah?!"

Ammar menatap aneh Saga yang kini membuka satu persatu kotak dan memakan isinya. Itu kan bekalnya.

"Makan! Kalau gak mau bakal gue abisin semuanya." Kata Saga.

Sudah beberapa hari ini Saga datang ke kelas Ammar. Terkadang remaja itu membututinya hingga ke kantin lalu pergi. Kalau Carel lama datangnya, Saga akan ikut duduk di sampingnya dengan dalih itu tempat umum.

"Lo beneran gak punya temen ya? Muka lo gak kayak si Carel tembok tuh." Ujar Saga. Ia menopang dagu meneliti Ammar yang tengah melahap makan siangnya. Wajah anak itu cukup lucu untuk memiliki banyak teman baik.

Dia kan anak pungut. Bagaimana Ammar bisa mirip dengan Carel. Tapi, kalimat itu seolah sulit keluar dari mulut Ammar. Bukankah dengan mengatakan itu Saga juga tak mau berteman dengannya.

"Kak Carel kok gak dateng ya? Ini udah mau bel masuk." Kata Ammar berusaha mengalihkan topik.

"Dia ada rapat Osis. Lo gak tau? Kakak lo itu ketua divisi kedisiplinan dari jaman SMP." Jawab Saga acuh.

Ammar mengangguk, lalu kembali fokus menyendok nasi goreng sosis buatan Emiko. Menghiraukan Saga yang kini membenamkan wajah di lipatan tangan. Remaja itu tertidur.

"Saga sebentar lagi bel masuk." Ammar menyentuh pundak Saga dengan jarinya.

Remaja itu membuka mata. Menatap wajah adik kelasnya yang kini tengah menutup kotak bekalnya. Anak Alpadia mana yang masih membawa bekal ke sekolah dan diantar kakaknya sampai depan pintu kelas.

"Lo mau ikut gue gak pulang sekolah? Carel bakal lama rapatnya." Ajak Saga.

"Kemana?"

****

Sepulang sekolah, Ammar benar-benar mengikuti Saga. Toh hari ini tak ada yang bisa menjemputnya. Carel juga masih belum datang.

Setelah melewati gerbang Alpadia, mereka terus berjalan hingga ke gang sempit. Hanya ada tembok pembatas disisi kanan dan kiri. Tempat itu juga sepi. Namun, tak lama kemudian ada suara sorak ramai terdengar.

"Weh, baru keliatan lo Ga."

Salah satu dari mereka menyapa Saga dan disusul oleh yang lain. Ammar hanya berdiri canggung di belakang punggung Saga.

"Gue mau cosplay jadi anak baik kemarin. Tapi gak betah, jadi gue balik lagi." Ujar Saga.

Beberapa pemuda dengan seragam Alpadia SMP dan SMA terlihat berbaur di sebuah warung kecil sederhana. Ada seorang wanita paruh baya yang Ammar pikir pemiliknya.

"Sini, ngapain lo berdiri disitu."

Ammar baru sadar jika Saga sudah masuk ke dalam warung dan duduk di kursi kayu. Ia terlalu sibuk mengamati sekeliling. Saat ia ikut duduk di samping Saga, beberapa pemuda mendekat penasaran.

"Bukannya lo adeknya si Carel?" Ujar salah satu pemuda dengan rambut pirangnya.

"Gue juga liat nih bocah duduk bareng Mada. Lo siapanya dia?" Cecar yang lain.

"Kalau gitu lo adeknya Eros dong. Kok bisa deket sama musuh kakak lo sendiri?"

Mendengar berbagai pertanyaan yang dilontarkan padanya, Ammar meringis. Ia bingung ingin menjawab apa.

"Kepo banget lo pada. Bubar! Gerah gue dikerubungin gini sama kalian." Ujar Saga sengit.

"Disini cuman ada mie doang, lo pasti gak boleh makan itu kan." Lanjut Saga sok tau. Ia pikir anak manja seperti Ammar ini punya pola makan hidup sehat.

"Gak usah–"

"Lo tunggu bentar. Gue pesenin minum aja." Sela Saga pergi ke dapur.

Ammar hanya bisa pasrah. Remaja yang ia ketahui kakak kelasnya itu sungguh tak bisa ditebak. Kadang sikapnya kasar dan dilain waktu Saga berbaik hati padanya. Tapi tak dapat dipungkiri, jika Ammar senang telah memiliki teman pertamanya.

Menatap langit-langit, Ammar melihat asap putih berterbangan. Ternyata beberapa dari mereka tengah merokok. Dan Ammar yang tak terbiasa hanya bisa mengibaskan tangan menghalau asap agar menjauh.

"Uhuk.. uhuk.."

Ammar terbatuk. Ia menutup wajahnya untuk meredam suara. Ammar merasa tak enak jika mengganggu mereka dengan suaranya yang keras.

Saga yang baru kembali dari dapur dengan segelas susu putih mengernyit mendapati Ammar yang membenamkan wajahnya di meja.

"Lo kenapa?"

Tak mendapat respon. Saga membuka paksa kedua tangan Ammar. Saat terlepas, terlihat wajah Ammar yang kini merah padam disertai batuk.

"Ck, nyusahin! Cuman kena asap dikit doang juga." Kata Saga kesal.

Walau begitu Saga tetap meminta para temannya untuk mematikan rokoknya dan menyuruh Ammar untuk segera minum. Tapi batuk anak itu tak kunjung reda.

Dengan sabar Saga menarik lengan Ammar untuk mengikuti langkahnya menuju keluar. Mungkin karena warung itu didominasi bau rokok membuat pernapasan Ammar tersendat.

Saat sudah keluar dari gang tepat di seberang gerbang Alpadia, Saga kembali menyodorkan botol minum yang ia ambil dari tas Ammar. Untungnya batuk remaja kecil itu menjadi reda.

"Udah jangan nangis. Cengeng banget sih lo anak mama." Kata Saga mengejek.

"Aku gak nangis!" Bantah Ammar kesal.

Saga terkekeh melihat wajah merah padam Ammar. Ia jadi punya hiburan tersendiri seminggu terakhir. Hingga tawa itu berubah waspada saat seorang pemuda menghampiri mereka.

"Mau ngapain lo, Atlas?"

Menyadari ada orang yang selama ini Ammar hindari, remaja kecil itu segera mendekat pada Saga. Menggenggam erat lengan Saga dan menyembunyikan diri dibalik punggungnya.

"Gue cuman mau kasih ini." Atlas menyodorkan sebuah kandang berisi hewan kecil.

"Kucing?" Ujar Saga bingung.

Mendengar nama hewan itu, Ammar makin menjauhkan diri ketika Saga mengambil alih kandangnya.

Atlas menatap Ammar rumit. Sorot mata itu masih sama seperti terakhir kali. Tak dapat ia pungkiri, Atlas merasa sedikit kecewa dengan sikap remaja kecil itu.

"Aku gak mau! Jauhin kucingnya." Ujar Ammar. Saga berusaha mendekatkan benda itu padanya.

"Lo beneran gak mau?" Saga menarik tangan Ammar agar mendekat.

"Hachim.. uhuk.. uhuk.. hachim." Baru saja tadi ia batuk karena asap rokok, kini Ammar mengalami hal yang sama dengan sebab berbeda.

Atlas terkejut begitu pula Saga yang panik saat Ammar bersin disertai batuk. Bahkan ini lebih parah dari menghirup asap rokok tadi.

"Kamu kenapa, hem? Nehan lihat Abang." Atlas menangkup wajah Ammar  khawatir.

Bahkan Ammar menghiraukan rasa takutnya pada Atlas. Ia memegang erat lengan Atlas saat rasa gatal mengambil alih atensinya.

Dengan sigap Atlas menggendong tubuh Ammar dan berlari menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana. Saga yang melihat itu segera mengikuti dengan duduk di jok belakang setelah menelantarkan si kucing.

Atlas memeluk Ammar erat. Ia punya asumsi jika remaja kecil itu alergi kucing. Pemuda itu tersenyum kecut. Ternyata tak semua kesukaan si bungsu akan sama dengan Ammar. Adiknya tak pernah punya alergi apapun.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang