35. INI NAMANYA KELUARGA

2.8K 263 4
                                        

"Sudah puas dengan acara kaburnya?"

Gagal. Mada ternyata terlalu meremehkan Akio. Pria itu berhasil menangkapnya dan membawa dirinya kembali. Ia menatap Akio yang duduk di atas sofa.

"Saya harus mencari pelakunya. Dia berhasil mengadu domba kalian selama bertahun-tahun." Ujar Mada kesal.

"Oh, apa kamu tau siapa orangnya?" Tanya Akio menatap Mada yang berlutut di hadapannya.

"Tidak. Tapi suara orang itu–"

Perkataan Mada terhenti saat melihat Akio berdiri. Lelaki itu menatap tajam Mada dengan raut dingin. Namun jelas sekali, ia melihat sorot lelah dari kedua mata Akio.

Akio membungkukkan badan. Menatap lamat wajah yang amat mirip dengan mendiang adiknya.

"Kamu pikir aku sebodoh itu, hem? Aku sengaja membiarkanmu kabur, tapi lihat. Bagaimana remaja sepertimu berpikir untuk mencari orang yang telah merusak dunia bawah selama bertahun-tahun jika kabur dariku saja kamu tidak bisa."

Senyum tipis tersungging di bibir Akio. Pria itu menepuk kepala Mada yang terlihat marah. Namun dimata Akio, ia seperti melihat ekspresi yang jarang Algis perlihatkan.

"Tidurlah dengan nyaman." Ujarnya berjalan pergi.

"Saya akan mengantarkan anda kembali ke kamar, Tuan Muda." Seorang lelaki berdiri di belakang Mada.

Pemuda itu menunduk. Ia terlalu gegabah. Kabur tanpa rencana apapun berakhir lebih buruk. Sekarang ada satu penjaga yang ditempatkan Akio untuk mengawasinya. Dan lagi, ia tak tau dimana dirinya berada sekarang.

"Lepas! Gue bisa sendiri." Sentak Mada saat lelaki itu menyentuh lengannya.

"Tapi, kaki anda terluka parah dan perlu diobati, Tuan Muda."

Benar juga. Bahkan untuk berdiri saja ia tak mampu sekarang ini. Akio benar-benar menembak kedua kakinya saat berusaha berlari.

"Sialan!"

Mada mengumpat keras. Ia merasa tidak berguna. Disaat dirinya mengira Akio adalah penolongnya, kini pria itu malah berbalik mengurungnya. Untuk saat ini, ia hanya bisa berharap ayahnya segera menemukannya.

"Ck, minggir. Gue bisa jalan sendiri." Kesal Mada.

Walau terbilang lambat dan pincang, Mada berusaha berjalan menuju kamar yang sengaja Akio siapkan untuknya. Jendela yang tadinya terbuka lebar, kini ditutup dengan teralis.

"Saya akan membantu mengeluarkan pelurunya." Ujarnya setelah meminta rekannya untuk mengambil peralatan.

Akio bukan sembarang orang yang bisa ditipu oleh remaja biasa seperti dirinya. Mada bahkan merasa, bawahan Akio bukanlah orang biasa. Bagaimana tampang datar dan menyeramkan ini dengan santai menjahit lukanya.

"Tolong anda turuti semua perintah Tuan Akio. Ini demi kebaikan anda." Ujar lelaki itu memperingati.

"Tutup mulut lo!"

Meneliti ruangan, ada beberapa orang yang ditempatkan di kamarnya. Mereka memang diam, tapi mata mereka tak pernah lepas fokus. Dan Mada merasa merekalah yang menemukan dirinya saat ia kabur semalam.

Orang berkompeten yang akan membuat jalan bagi Akio meraih kekuasaan yang lebih besar dari Khaled Reyes.

*****

Meja makan terlihat sunyi. Emiko yang biasanya mengajak Ammar mengobrol kini menyiapkan sarapan dalam diam. Ammar merasa ada sesuatu yang aneh.

"Mama sakit?" Tanya Ammar saat Emiko duduk melamun di sampingnya.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang