28. ALARM BAHAYA

3.5K 278 7
                                        

Vince meneliti sebuah gedung tinggi dengan arsitektur modern di depannya. Banyak media dan penjagaan super ketat saat ini. Kedatangan dewan ketertiban dunia bawah akan tiba tak lama lagi untuk mengadakan pertemuan penting.

Pria itu turun dari mobilnya. Dengan memakai masker, topi dan kacamata ia menyelinap diantara para wartawan. Lalu dengan mudah memasuki gedung. Saat melewati pintu, ia menunjukkan identitas sebagai salah satu pegawai.

Memanfaatkan keramaian, Vince berbelok ke arah berlawanan menuju lift paling ujung. Namun karena terburu buru Vince tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.

"Maaf."

"Vince? Kenapa lo juga ada disini."

Seluruh mata langsung memandang ke arah mereka saat mendengar nama Vince. Bagaimana mungkin mereka tak tau buronan yang tengah mereka cari.

Sial! Dengan cepat Vince menyeret pemuda yang tadi mengintrupsinya ke tempat yang jauh dari keramaian. Menyorot tajam si pelaku yang kini tersenyum mengejek padanya.

"Takut banget kayaknya lo." Ujarnya tertawa remeh.

"Aku memang tidak mengenal semua adik Akio dengan baik. Tapi aku yakin, kau Algis bukan?" Kata Vince mengintimidasi.

"What are you talking about? Algis udah mati. Lo yang bunuh setelah dia mohon buat gak bunuh adiknya juga." Mada berhasil membuat seorang Vince kini dalam kebingungan.

"Bagaimana kamu tau? Tidak ada orang lain saat itu." Gumam Vince.

"Kalau gitu jawab semua pertanyaan gue dulu. Gimana lo bisa ketemu sama Ammar? Dan apa yang lo rencain sekarang?" Cecar Mada.

Vince menyugar rambutnya. Lalu ia tersenyum tak percaya. Dulu segalanya dapat dengan mudah Vince dapatkan. Tapi, informasi kecil seperti ini saja sekarang tak ia ketahui.

"Emm– menyerahkan diri?" Ujar Vince dengan senyum lebar.

"Jangan bercanda!"

Mada menggertakkan gigi. Menatap tajam Vince yang kini terlihat acuh dan terkesan main-main saat menjawab pertanyaannya. Benar, terlepas dari lengsernya status mafia terkemuka di Eropa, Vince tetaplah orang gila dari dunia bawah.

"Aku menunggu semua tamu datang. Apa kau tau? Kakak sulungmu juga akan hadir." Vince menatap jam tangannya sekilas.

"Lalu BOOM! Aku akan menyambut mereka dengan meriah." Lanjutnya terkekeh.

"Lo mau bunuh mereka semua?" Tanya Mada tak percaya.

"Wow aku tak sekejam itu. Tentu aku akan menyisakan beberapa. Apa kau mau aku untuk melepaskan kakakmu?" Vince dengan enteng menawarkan sesuatu seolah kematian adalah hal yang mudah berada ditangannya.

"Dia bukan kakak gue!" Sangkal Mada keras.

"Oke, putra Challen pasti akan sedih mendengar berita kematian ayahnya."

Vince beranjak pergi ketika perhatian Mada teralihkan pada panggilan dari ponselnya. Ia tak punya banyak waktu. Ini kesempatan langka dan setelahnya Vince akan benar-benar lepas dari belenggu.

"Oh, iya." Vince berbalik sejenak.

"Aku memungut anak itu saat akan dijual. Dia cukup lucu untuk dibeli di acara pelelangan."

****

Khaled mengetuk jari ke meja. Ia baru saja mendapat kabar jika pertemuan kali ini tak berjalan dengan lancar. Berita adanya pengkhianat menyebar dengan cepat.

"Para dewan tewas saat insiden terjadi. Beberapa petinggi mafia ikut terluka karena kejadian tidak terduga." Ujar Arlo memberi informasi.

"Bagaimana dengam Challen?" Tanya Khaled.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang