18. SATU LAGI

6K 499 9
                                        

"Udah tiga hari dia gak mau keluar kamar."

Mada menggeram kesal mendengar kalimat Eros dibalik panggilan. Ia yakin pasti Eros mengatakan sesuatu yang menyinggung Ammar. Sudah ia duga. Pemuda itu tak bisa dipercaya.

"Awas kalau dia kenapa-napa pas gue pulang nanti." Ancam Mada.

Tut

Sialan! Eros memutuskan panggilan secara sepihak. Gigi Mada bergeletuk kesal. Dia tak punya pilihan lain untuk mempercayakan keamanan Ammar pada pemuda itu untuk saat ini.

"Tuan Muda, kita sudah sampai."

Bangunan dengan gaya klasik terlihat ramai pengunjung. Mada masuk dan disambut beberapa pelayan. Salah satu dari mereka mengikuti langkah Mada untuk memandu menuju private room.

Pintu besar dengan ukiran khas eropa terbuka lebar dan ditutup kembali setelah Mada masuk. Matanya menyapu ruangan, ada seorang lelaki yang duduk dengan menyilangkan kaki. Pria itu tersenyum ramah.

"Senang bertemu dengan anda, Tuan Muda Vidor." Ujar lelaki itu mengulurkan tangan.

"Ya, senang bertemu dengan anda juga Tuan Noah." Mada menyambut tangan itu dan saling berjabat.

Pemuda dengan setelan jas itu duduk berhadapan dengan Noah. Pertemuan bisnis seperti ini sudah biasa Mada lakukan. Jadi, secara natural obrolan dapat ia tanggapi.

"Saya kira ayah anda yang akan datang kali ini." Ujar Noah terkekeh.

"Maaf, Tuan Noah. Ayah saya punya urusan lain di Toronto. Akan saya sampaikan pada beliau untuk mengajak anda makan malam lain kali." Jawab Mada tersenyum tipis.

Beberapa pelayan masuk untuk mengantarkan makanan. Mada merespon mereka yang bertanya apakah ada yang ia perlukan atau tidak. Ia tak sadar ditatap seseorang.

"Kasihan."

Mada menoleh ketika mendengar sesuatu. "Apakah anda mengatakan sesuatu?" Ujarnya pada Noah.

"Ah, tidak. Mungkin anda salah dengar." Kata Noah tersenyum tipis.

Mengangguk percaya, Mada mengibas tangan mengkode pelayan untuk pergi. Pembicaraan ini akan berlangsung secata tertutup seperti biasa.

"Bisa kita mulai?"

****

Seorang lelaki yang tak muda lagi itu menghisap rokoknya. Sorot matanya menatap keluar kaca kecil di hadapannya. Hanya awan putih dan langit biru cerah yang ia lihat.

Pria itu menyisir rambutnya ke belakang menggunakan sela jarinya. Wajahnya memang tampak segar, tapi tidak dengan kedua matanya.

"Sebaiknya anda tidur sebentar, Tuan." Ujar seorang lelaki yang setia berdiri di sisi majikannya.

"Aku tidak bisa tidur."

Helaan napas terdengar. Padahal sang Tuan belum tidur selama dua hari. Dokter pribadinya juga sudah berpesan padanya untuk mengurangi dosis obat tidur yang dikonsumsi.

"Setidaknya berhentilah merokok, Tuan. Anda sudah menghabiskan terlalu banyak." Bujuknya lagi.

"Tutup mulutmu, Arlo! Kembali saja ke anak itu. Aku tidak membutuhkanmu." Katanya acuh.

"Tuan Challen mengutus saya untuk tetap berada disisi anda." Katanya menundukkan kepala.

Puntung rokok yang masih setengah itu dijatuhkannya. Dengan gerak cepat Arlo menginjaknya agar padam. Baru saja lega karena mengira sang Tuan menuruti ucapannya, ia hanya bisa bersabar saat lelaki itu beralih mengambil wine.

"Anda dilarang minum alkohol oleh Tuan Deris."

Prang

Gelas itu pecah berkeping-keping. Air berwarna merah keunguan itu mengenai dinding hingga meninggalkan bekas yang kentara.

"Dokter sialan itu sungguh menganggu. Padahal aku sudah memecatnya enam tahun lalu." Katanya mendengus.

Menghiraukan itu, Arlo hanya terdiam mendengarkan. Ia hanya ditugaskan untuk mengawasi lelaki di depannya ini atas perintah Tuannya agar menuruti ucapan dokter pribadinya.

"Sebentar lagi kita akan tiba, Tuan." Ujar Arlo.

Pria itu berdiri. Ia berjalan menuju satu lemari berisi beberapa pakaian formal dan kasual. Lelaki itu mengambil overcoat cream dan memakainya sebagai luaran outfit serba hitamnya.

"Dimana Harace?"

Arlo mengikuti lelaki itu hingga duduk di kursi. Pesawat sebentar lagi akan landing di salah satu tempat tujuan sang Tuan dalam perjalanan bisnis.

"Tuan Ace akan menyusul dan tiba nanti malam." Jelas Arlo.

Pintu terbuka dan ada banyak orang menunduk sejajar menyambut kedatangan. Lelaki itu berjalan melewatinya tanpa mengatakan apapun.

Sampai di luar bandara, lelaki itu diarahkan menuju mobil yang telah disiapkan selama sang Tuan berada disana. Baru saja hendak masuk, ia berhenti bergerak saat melihat sesuatu yang menarik.

"Anda mau kemana, Tuan Khaled?" Tanya Arlo menyamakan langkah lebar pria itu.

Melihat sebuah toko mencolok yang lelaki itu masuki, Arlo menatap tanya. Kini Khaled hanya punya dua putra dan mereka tak berada dalam kondisi untuk membutuhkan yang namanya boneka.

"Where are the koala dolls that you display in front of the shop?" Tanya Khaled pada salah satu pegawai.

"Ah, a teenage boy had taken it." Tunjuknya pada pemuda yang sedang mengantri di kasir.

Khaled menatap punggung seorang pemuda yang mengenakan kemeja putih formal. Ia segera menghampiri remaja itu untuk mendapatkan bonekanya. Khaled berniat mengunjungi sang putra bungsu lusa.

"Sorry, can you give me the doll? My son really likes koalas." Ujar Khaled.

"Pardon?"

Tubuh Khaled membeku. Bibirnya terkatup tak bisa berkata-kata. Tangannya yang tadi menepuk pundak si pemuda, kini terkulai lemas.

"Algis. Ah tidak, pasti aku sedang berhalusinasi." Kata Khaled berusaha menyadarkan diri. Ia pasti sangat kelelahan.

Khaled berkedip pelan. Mencoba menyingkirkan perasaan menyeruak yang tiba-tiba memenuhi hati dan pikirannya. Tapi berapa kalipun ia mengusap mata, wajah pemuda itu tidak berubah.

"Anda salah orang."

"Benar. Maaf, kamu mirip sekali dengan putraku." Ujar Khaled linglung terkekeh ringan. Ia pasti mabuk. Bahkan suara dingin dan tajam itu sama dengan sang putra.

Pemuda itu menaikkan alis bingung melihat Khaled yang mengulurkan tangan padanya. Menatap bergantian tangan dan wajah pria itu.

"Maaf, Tuan. Saya duluan yang mengambil bonekanya."

Lagi Khaled tertawa pelan. Setelah sekian tahun, baru kali ini lelaki itu melupakan sejenak kesedihannya. Ia menurunkan tangannya. Padahal ia hanya ingin berjabat tangan dan tahu namanya. Benar, mereka hanya orang asing.

"Apa kau suka mengoleksi benda-benda lucu? Sepertinya bukan untukmu, ya." Kata Khaled basa-basi. Rasanya ia sedang berbicara dengan mendiang putranya.

"Ini untuk adik saya." Ujarnya melengos.

Mengusap wajahnya pelan, Khaled pikir ia memang harus tidur. Dirinya terlalu lelah. Bahkan sang putra yang selalu hadir dalam mimpinya, kini dilihatnya berdiri tegak dengan sehat.

Mungkin kali ini ia hanya akan membawakan bunga saat berkunjung ke makam seperti biasa. Ia melangkah pergi keluar toko hingga ia mendapati Arlo tengah melakukan panggilan.

"Saya melihat seseorang yang mirip Tuan Muda Algis di bandara Singapura, Tuan Challen."

Dia tidak salah lihat. Arlo juga melihatnya. Ia berbalik menuju kasir. Matanya menyapu seluruh penjuru toko dengan penuh harap. Tidak ada. Khaled kehilangan presensi pemuda itu.

Berusaha tenang, Khaled berjalan cepat menuju mobil. Sepertinya ia akan mengundurkan jadwal mengunjungi putra dan istrinya.

"Semuanya harus kembali ke tempat semula."

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang