"Bisa langsung ke intinya?"
Kalimat itu membuka keheningan. Menarik seluruh atensi pada seorang pemuda yang menatap tajam satu persatu anggota keluarga di depannya.
Plak
"Aws! Sakit, Mam."
Wanita cantik di sebelah pemuda itu memukul lengan putranya keras. Lewat tatapan matanya, ia memperingati sang putra untuk bertindak lebih sopan.
"Ah, maafkan putra saya. Dia memang anak yang nakal. Mulutnya kadang berbicara sembarangan." Ujar Sarah tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa. Dia pasti bercanda. Lagian Mada itu teman Eros ya, kan sayang?" Jawab Emiko menatap putra keduanya menuntut.
"IYA!" Ujar Eros tak ikhlas.
Mada yang mendengar nada bicara Eros menaikkan alisnya. Memang ya, Eros itu aneh sekali. Pertemuan dengannya selalu diawali dengan tatapan benci.
"Saking deketnya dia sampai mukul saya kalau gak sengaja ketemu." Ujar Mada menunjuk pipinya yang lebam dengan senyum miring.
Plak
"Apasih, ma."
Kedua wanita itu tertawa. Mereka seolah berada disatu pikiran untuk mencairkan suasana. Para pria kaku yang hadir itu tak bisa diandalkan.
"Maafkan kami, Nyonya Sarah. Kami pasti mengganggu waktu anda." Ujar Emiko tak enak hati.
"Tidak. Kebetulan hari ini saya sedang senggang. Tapi, bisakah kita mulai saja. Kami harus segera pulang."
Emiko paham. Sekarang ada yang menunggu mereka di rumah. Ia melirik suaminya. Mengangguk memberi kode untuk memulai pembicaraan ke topik inti.
"Ammar, anak itu akan kami adopsi." Ujar Karl.
"Sepertinya anda harus berpikir ulang. Bisa saja putra kedua anda itu akan merundung Ammar saat kalian tidak ada." Sela Mada tajam.
Mendengar kalimat sindiran yang ditujukan padanya, Eros langsung berdiri tak terima.
"Jaga mulut lo!" Ujar Eros marah.
"Loh, emang bener kan. Lo pernah usir dia dari markas. Padahal lo tahu dia gak punya tempat tinggal lain." Sulut Mada tersenyum remeh.
Karl memijit pelipisnya pening. Dua pemuda itu tak tahu situasi. Keributan tak terhindarkan. Emiko dan Sarah bahkan kewalahan untuk menenangkan para putranya.
"Nial, usir mereka berdua."
Brak
Pintu besar pembatas antara private room dan ruang umum restoran tertutup dengan keras. Dua pemuda itu mencoba menetralkan napas yang memburu setelah beradu mulut.
"Lucu banget keluarga lo. Mau adopsi Ammar tapi kelakuan lo aja kayak gini. Gak yakin gue kalau dia bakal aman dirumah lo." Ujar Mada melirik sinis.
"Lebih baik lo diem aja. Lo gak tahu apapun." Balas Eros sengit.
Pemuda dengan jaket kulit berwarna hitam itu berjalan ke arah pintu keluar. Ia sudah diusir. Jadi, sekalian saja Eros pergi.
Ponsel Mada berdering. Itu panggilan dari telepon rumah. Dengan segera ia mengangkatnya. Suara seorang wanita yang terdengar panik menyapa rungunya.
"Belum pulang?!"
Langkah Eros terhenti saat mendengar suara Mada yang meninggi. Menoleh ke belakang, raut Mada yang tadinya menyebalkan berganti dingin.
Ini sudah pukul delapan malam. Mada berdecak saat mendengar aduan wanita paruh baya dibalik panggilan. Ammar keluar rumah tanpa pengawasan dan belum kembali sejak sore.
"Lo mau kemana?" Tanya Eros.
Mada hanya menatap dari sudut matanya. Membiarkan Eros mengikuti dirinya sampai ke parkiran.
"Cari Ammar. Gue takut sepupu lo itu buat ulah lagi." Ujar Mada acuh.
****
"Tadi pas maghrib teh nak Ammar ikut sama laki-laki. Saya kurang tau mereka pergi kemana." Ujar seorang wanita berhijab.
Firasat Mada buruk. Ia melirik Eros yang entah kenapa mengikutinya. Pemuda itu berjalan menuju kamar kos Ammar yang tidak terkunci. Ada tas berisi baju tergeletak di dekat pintu.
"Ibu ingat ciri-cirinya gak?" Tanya Mada mengacuhkan kegiatan Eros.
"Mukanya teh bule, cakep pisan. Dia tinggi, terus bajunya bagus. Kira-kira umurnya tiga puluhan menurut saya." Jelas wanita itu.
Mada berterima kasih. Wajah Atlas memang perpaduan orang eropa dan jepang. Akan tetapi, mendengar umur yang disebutkan sepertinya bukan pemuda itu.
"Challen Tolucan Reyes." Sela Eros. Pemuda itu kini berhadapan dengan Mada.
Dahi Mada berkerut. Marga itu tidak asing ditelinganya.
"Dia kakaknya Atlas. Kalau dari yang ibu tadi bilang, kemungkinan besarnya orang itu yang bawa Ammar." Lanjut Eros.
Tidak ada yang tak mungkin. Challen memang bukan tipe orang yang terlalu terobsesi dengan sesuatu. Tapi, saat tahu ada anak yang mirip adiknya lelaki itu pasti akan tertarik.
"Bukan. Ibu itu bilang Ammar ikut seseorang. Dia mau secara suka rela. Ammar takut sama orang asing setelah kejadian malam itu." Terangnya.
Benar. Tidak mungkin Ammar mau mengikuti Challen yang tidak ia kenal. Tapi, lelaki itu selalu bermain bersih dan rapi.
Mereka terdiam. Berbagai spekulasi bermunculan. Hingga Mada dengan inisiatif menghubungi salah satu temannya, Vincent.
"Vin, bantu gue cari Ammar. Dia hilang sejak sore tadi." Kata Mada agak menjauh dari Eros.
Saat panggilan berakhir, Mada berniat menghubungi seseorang yang ia kira dapat diandalkan. Pak Tua itu punya banyak mata.
Eros hanya memperhatikan punggung pemuda itu dari jauh. Kenapa ya, ia menyeret Mada dalam rasa bencinya pada keluarga Reyes. Padahal pemuda itu tak ada hubungannya. Hanya saja wajahnya itu..
"Halo, sepupu."
Dalam hitungan detik Eros berbalik. Ia menyorot dingin pada remaja yang kini tengah tersenyum pongah padanya. Wajah yang dulu hanya ia lihat dari lembaran kertas saat ini berdiri tepat dihadapannya.
"Adik gue gak ada, ya? Padahal mau gue ajak pulang. Dia pasti kangen banget sama rumahnya." Ujar Atlas tersenyum lebar.
"Maksud lo, sangkar burung yang mirip neraka itu? Kasihan banget adik lo." Kekeh Eros mengejek.
Atlas terdiam. Senyumnya luntur tergantikan dengan raut datar. Ia tidak suka dengan pernyataan itu. Semua hal yang keluarganya lakukan adalah untuk melindungi sang adik.
"Mau buat anak kecil yang lo akuin adik itu makin trauma?" Sela Mada sanksi.
Mendapati sosok yang ia cari muncul dihadapannya, Atlas langsung maju. Mencengkram jaket yang Mada kenakan. Sorot matanya seolah menuntut sesuatu.
"Dimana adik gue?"
Kedua tangan Atlas gemetar. Ingin sekali ia memukul wajah Mada yang sialnya mirip sekali dengan sang kakak, Algis.
"Gimana rasanya bunuh orang, seneng?" Mada menghiraukan pertanyaan Atlas.
"Hah! Gue belajar dari diri lo yang lain. Algis, dia bilang gue boleh hancurin semua yang halangin jalan gue." Ujar Atlas tersenyum manis.
Atlas melirik Eros yang melipat tangan tak jauh dari mereka.
"Tanya dia. Sebanyak apa Algis bunuh orang. Dia bahkan gak mikir panjang buat tebas leher seseorang dalam hitungan detik." Tunjuk Atlas pada Eros dengan dagunya.
"Gue bukan Algis." Tekan Mada mengeraskan rahang.
Atlas tertawa remeh. Ia melepaskan cekalannya dan menepuk kedua pundak Mada.
"Kita tunggu. Seberapa kuat lo hadapin musuh tanpa bunuh mereka."
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)