20. KERJA SAMA

4.9K 478 16
                                        

"Habis dari mana?"

Noah menatap heran pada Vince yang masuk ke rumah dengan keadaan basah kuyup. Pria itu berhenti dan menoleh padanya.

"Bertemu dengan teman lama." Jawab Vince tersenyum tipis.

"Akio? Tapi aku dengar dia ada di China." Ujar Noah bingung.

"Kau sendiri habis dari mana?"

Tanpa menjawab, Vince melempar tanya saat beberapa hari ini tak melihat presensi Noah. Ia berhadapan penuh dengan lelaki itu. Meneliti beberapa bagian pakaian Noah yang kusut.

"Bisnis. You know? Uang tidak datang sendiri. Aku juga harus mencari wanita." Katanya menaik turunkan alisnya dengan senyum jahil.

Vince memutar bolanya malas. Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk mengganti baju. Setelah itu Vince duduk di sofa dan menyalakan pemantik. Asap rokok menemani dirinya seperti biasa dengan suasana gemuruh hujan.

"Aku harap dia tidak kedingingan." Monolognya.

Suara air yang mengalir deras dari langit mengingatkannya pada arus sungai. Malam itu, ketika ia membuang dua adik sahabatnya ke sungai yang tengah banjir hidup-hidup. Pasti sangat dingin dan sepi berada diambang kematian sendirian.

Puntung rokok disela jari Vince jatuh ke dalam gelas berisi bir yang tergeletak di meja. Ia menutup wajah dengan satu lengan. Suasana malam itu mengantarkan Vince ke dalam jurang mimpi buruknya selama tujuh tahun terakhir.

Tidak ada hari tenang untuknya.

****

Bugh

"Gak becus! Lo emang gak bisa jaga Ammar kayak yang Atlas bilang waktu itu." Teriak Eros marah.

Mendengar celaan itu, Mada merasa tak terima. Dengan sekali hentakan, pemuda itu membalikkan keadaan dengan memukul Eros. Tak peduli mereka menjadi tontonan banyak orang karena berkelahi di luar rumah sakit dibawah guyuran hujan.

Bugh

"Jadi, lo merasa lebih baik HA?! Coba sebutin apa aja yang udah lo lakuin selama ini." Ujar Mada menatap remeh.

Perkelahian tak terhindarkan. Mereka saling menyalahkan atas apa yang terjadi pada Ammar. Anak itu hilang selama berjam-jam dan saat sudah menjelang malam ada panggilan dari rumah sakit tentang kondisi Ammar.

Srek

"Apa-apaan ini?"

Karl yang baru datang setelah mendapat kabar dari salah satu teman Eros menatap keduanya tak habis pikir. Bukannya menunggu diruang rawat Ammar, dua pemuda itu malah saling adu tinju.

"Kalau aja lo gak ninggalin dia sendirian, pasti Ammar gak bakal hilang dan masuk rumah sakit kayak gini." Kata Eros menatap nyalang. Ia memberontak saat Karl mengunci pergerakannya.

"Lepas!" Mada menyentak tangan Nial yang menahannya.

"Oke, fine. Gue yang salah kali ini. Tapi, mana tanggungjawab lo sebagai kakak?!"

Sorot mata tajam itu saling beradu. Nial yang sudah geram, menyeret keduanya hingga keluar area rumah sakit. Ia mendorong kasar mereka sampai tersungkur.

"Jangan temui Ammar sampai kalian berbaikan." Ujarnya dingin dan berlalu pergi.

"Hah!"

Mada memandang jalanan yang tergenang air. Ia menghela napas berusaha menetralkan deru yang memburu. Menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari dan meregangkan otot wajah yang kaku.

"Ada yang mainin kita." Ujar Mada. Ia tak berniat bangun. Toh, tidak ada pejalan kaki yang lewat.

"Lo kira gue gak sadar?!" Kata Eros ketus.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang