Udara kian berat dihirup. Mata tajam dan tatapan menyelidik membuat Ammar bergidik. Remaja kecil itu hanya mampu berdiri ciut. Baru pertama kali Ammar melihat sosok menyeramkan seperti Eros ini.
"Lo siapa?" Eros memperhatikan sosok asing di markasnya.
Salah satu pemuda yang mengejek Eros tadi menghampiri. Ingin sekali ia tertawa melihat wajah menahan tangis Ammar yang tengah ketakutan. Ia merangkul pundak kecil Ammar.
"Oh iya, lo belum pernah ketemu sama Eros kan, Mar?"
Ammar mendongak. Menatap Abyaz, lelaki yang dulu menemukannya tidur di luar gerbang dan membawanya masuk ke markas. Ia menggeleng mendengar pertanyaan Abyaz.
Bukan hanya Eros, bahkan Abyaz saja ia jarang melihatnya. Sudah lama Ammar tinggal disana, tapi pertemuan mereka dapat dihitung jari. Kalau memang bertemu, Abyaz hanya akan menyapa lalu pergi. Apalagi Eros yang notabennya ketua geng mereka.
"Jangan takut gitu. Muka dia emang agak serem, tapi gak bakal gigit kok." Bisik Abyaz.
"Gue denger." Ujar Eros dingin.
Abyaz tersenyum lebar. Lelaki itu mengapit pipi Ammar dengan sebelah tangannya. Lalu tangan kanan Ammar digerakkan melambai oleh Abyaz. Membuat empunya terkejut dengan perlakuan random pemuda itu.
"Halo, Bang Eros. Nama gue Ammar aja."
Sumpah itu suara Abyaz. Si pemilik nama hanya melotot horor pada si pelaku. Apa boleh bersikap begini pada ketua mereka. Padahal lelaki di depannya ini malah makin menekuk wajahnya.
"Gue gak lagi bercanda." Kesal Eros.
"Emang gue lagi ngelawak. Nama dia emang Ammar doang, ya kan?" Kata Abyaz minta dukungan.
Reiki, pemuda yang sedari tadi melihat percakapan aneh itu maju untuk menengahi. Tak akan ada habisnya jika meladeni perkataan Abyaz.
"Namanya Ammar. Dia udah tinggal di bekas gudang markas tiga tahun lalu karena gak punya tempat tinggal. Abyaz yang bawa." Jelasnya.
Pandangan Eros tak teralihkan. Ia merasa familiar dengan wajah milik remaja kecil yang kini menjadi bahan cubitan Abyaz karena merasa gemas.
"Kenapa gak dibawa ke panti asuhan aja?" Tanya Eros heran.
"Udah, tapi dia malah kabur. Biarin aja lah, toh dia gak macem-macem anaknya." Ujar Reiki menghentikan aksi Abyaz. Ekspresi Ammar seperti sudah sangat tersiksa.
Eros berbalik, kembali bergabung dengan teman-temannya. Mungkin dia pernah melihat Ammar di suatu tempat hingga merasa ia kenal dengannya atau dia yang salah mengenali.
Melihat sudah tak ada tontonan, yang lain melengos. Mengerjakan kegiatan yang tadi sempat tertunda karena ada tontonan menyenangkan.
Dari arah dalam, Gani keluar dengan raut penasaran. "Gue ketinggalan apa, nih?"
****
Ammar menggosok permukaan motor dengan lemas. Kejadian semalam merupakan awal mimpi buruk baginya.
Ketika acara selesai, Eros yang bahkan biasanya pulang awal malah menginap. Membuat Ammar yang ingin ke kamar mandi dekat dapur saja menjadi sungkan. Takut bertemu secara tidak sengaja.
Berusaha menghindar, Ammar berangkat kerja lebih awal. Matahari belum menampakkan diri, tapi kenapa orang yang dihindarinya malah berada di halaman depan sepagi itu.
"Kenapa, Mar. Ada masalah? Belum sarapan apa gimana." Tanya pemilik tempat cuci motor itu.
Ini bukan sekedar masalah seperti lemas karena belum sarapan. Ini lebih parah dari itu. Mungkin bisa jadi dirinya akan segera diusir dari tempat tinggalnya sekarang.
"Bang, kalau saya diusir nanti boleh gak numpang tidur disini?" Ujar Ammar melantur. Ia menatap lelaki itu memelas.
Pria itu menatap heran. "Lah, siapa yang mau ngusir kamu?" Tanyanya.
Ammar menyembunyikan wajah pada lututnya. Rasanya ia ingin menangis kalau tidak ingat ia masih punya rasa malu. Ia harus memilih salah satu pilihan yang dikatakan Eros tadi pagi.
Remaja kecil itu dipaksa Eros untuk diantar. Ammar yang ingin menolak malah mendapat delikan tajam. Jadi, dengan berat hati ia mau diantarkan. Tapi ketika tau tempat kerjanya, Ammar dituduh sebagai mata-mata anak Alpadia hanya karena dekat dengan sekolah itu.
Tentu ia marah. Sudah dua kali ia dikatai seperti itu oleh dua orang yang berbeda. Memang wajahnya ini mirip muka penjahat kah.
Melihat orang yang semalam menunduk takut padanya malah berteriak tepat di depan wajahnya membuat Eros tertawa merasa lucu. Dalam sekejap, kata-kata Eros membalik keadaan. Amarah Ammar yang tadi tersulut tergantikan dengan rasa frustasi.
Gue kasih waktu seminggu. Keluar dari tempat kerja lo atau markas gue.
Boleh tidak kalau ia menghilang saja dari bumi. Kalimat terakhir Eros sebelum pergi itu terdengar seperti usiran baginya. Ia tidak bisa mengundurkan diri dari sini. Tempat mana yang menerima anak tiga belas tahun tanpa pendidikan untuk bekerja. Sepertinya Ammar harus mencari kos besok.
"Udah, Mar. Nanti saya bantuin. Sekarang kerja aja dulu. Tuh, ada pelanggan." Ujar pria itu menunjuk seseorang yang tengah mengobrol dengan pegawai lain.
Ammar mendongak. Siang ini memang sedang hujan. Jadi banyak orang yang mampir untuk mencuci kendaraan atau hanya sekedar numpang berteduh.
Meninggalkan motor yang tadi ia bersihkan, Ammar beralih ke motor lain yang baru datang. Menatap sejenak, ia merasa pernah melihatnya. Motor cruiser warna hitam. Tidak mungkin. Banyak yang punya motor jenis ini.
"Loh, bocil. Lo ngapain disini?"
Atau mungkin tidak.
Menghiraukan pemuda itu, Ammar mengambil sabun dan mencuci motornya. Ia harus cepat agar lelaki itu segera pergi dari tempat kerjanya. Kenapa hari ini Ammar kena sial terus.
Pemuda itu berdecak saat ucapannya diacuhkan. Ia duduk di kursi tak jauh dari sana. Mengambil satu batang rokok dan menyalakan pemantik.
"Lo diusir dari markas Leysin, ya?" Ujar pemuda itu tepat sasaran.
Uhuk
"Beneran?"
Ammar menyorot tajam saat pemuda yang ia kenal bernama Mada itu tertawa keras. Suka sekali lelaki ini tertawa diatas penderitaannya. Ingin sekali Ammar menyumpal mulut itu dengan busa yang ia pegang.
"Kamu jadi orang kepo banget, sih." Ujar Ammar kesal.
Pemuda itu, memang menghentikan tawanya. Tapi, tidak dengan ocehan tak jelas yang membuat Ammar mencibir. Ini seperti sesi curcol. Namun, keduanya tidak sedekat itu untuk bertukar masalah.
"Gue lagi kesel. Ada anak baru songong banget." Curhatnya.
Abaikan ucapan si Mada. Ammar lebih fokus mempercepat tangannya menggosok bodi motor.
"Pengen banget gue tonjok mukanya, tapi gue gak berani. Ketua gue aja pengen dia jadi anggota geng gue."
Menghembuskan asap rokok, pemuda itu menghela napas. Mengingat betapa hebohnya satu sekolah ketika si anak baru pertama kali masuk tadi pagi.
"Katanya dia psikopat. Namanya Atlas Caldwell Reyes."
Tangan Ammar berhenti bergerak. Ia jadi ingat pembicaraan tempo lalu. Katanya akan ada anak baru bernama Atlas di Alpadia. Mendengar nama yang sama, sepertinya kali ini Ammar harus lebih berhati-hati saat berada di sekitar Apladia.
Melirik remaja kecil yang kini malah melamun, pemuda itu merubah nada bicaranya menjadi serius.
"Rambutnya dia kuncir. Lari kalau dia tanya nama lo. Dia mau jadiin lo target selanjutnya."
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)