Matahari sore menembus kaca besar di hadapan Ammar. Tepat disisi lainnya gemericik air yang jatuh ke kolam ikan terdengar. Ia menikmati suasana hangat itu sendirian.
"Dek Ammar gak mau main di luar?" Ujar seorang wanita paruh baya.
Ammar menoleh. Tersenyum tipis mendapati asisten rumah tangga di rumah Sarah. Wanita setengah abad yang begitu baik memperhatikannya selama berada di sana.
"Gak mau." Katanya menggeleng.
Biasanya jam segini Mada sudah ada di rumah dan Sarah sedang masak di dapur bersama Bibi. Tapi, ibu dan anak itu tak kunjung pulang. Bibi bilang keduanya ada urusan penting.
"Nyonya Sarah titip pesan sama Bibi, katanya mereka bakal pulang malam. Dek Ammar disuruh makan duluan sama Nyonya." Jelas wanita itu.
Tadinya, hari ini Ammar ingin meminta Mada untuk menemaninya ke kos untuk mengambil barang dan mencari kucing yang hilang waktu itu. Mungkin ia harus keluar sendiri. Toh, ia tidak lama dan akan langsung kembali.
"Saya izin keluar sebentar ya, Bi. Nanti saya balik lagi kok." Ujar Ammar berdiri.
Wanita itu panik mendengar perkataan Ammar. Ia diberi amanah oleh Sarah agar tak membiarkan Ammar keluar tanpa pengawasan.
"Apa gak besok aja? Biar ditemani Den Mada." Katanya khawatir.
"Kucing punya ibu kos hilang, Bi. Bentar lagi Ibunya balik. Saya harus cari." Kata Ammar. Anak itu mengecek sakunya yang terdapat uang sepuluh ribu.
"Kalau gitu, saya izin dulu sama Nyonya." Wanita itu hendak meraih telepon rumah. Namun seruan Ammar menghentikannya.
"Jangan! Nanti ganggu mereka. Saya cuman sebentar aja kok." Ujar Ammar mencoba meyakinkan.
Walau ragu, wanita itu mengangguk. Ia menawari untuk diantar oleh satpam yang berjaga. Lagi Ammar menolak. Hanya ada satu satpam sore ini. Mana mungkin rumah itu dibiarkan tanpa penjagaan.
Wanita itu mengamati dari gerbang. Ammar diantar penjaga sampai depan komplek perumahan untuk mencari ojek. Hingga Ammar menghilang dari pandangan, ia tak berhenti khawatir.
"Perasaan saya gak enak."
****
Pikiran Ammar melayang. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke luar tanpa Mada setelah malam itu. Rasanya dunia tak lagi aman. Dan Ammar pikir ini juga bentuk ketidakadilan lain yang ia dapat.
"Dek, bener ini jalannya?"
Ammar terkesiap saat suara pengemudi motor itu mengintrupsi. Menatap sekeliling, ternyata ia sudah di area perumahan elit dekat Alpadia.
"Iya, bener Pak. Nanti habis halte depan Alpadia belok kiri." Ujar Ammar menunjuk jalan.
Saat gedung Alpadia yang megah itu terlihat, Ammar tiba-tiba merasa merinding. Ia menutup mata, berusaha mengusir pikiran negatif yang seketika menghantui dirinya.
"Udah sampe, Dek."
Benar. Tidak apa-apa. Ia hanya akan mengambil uang dan beberapa baju lalu kembali. Mungkin Ammar juga harus menitipkan kucing itu ke tetangga kosnya.
Ceklek
Remaja kecil itu menghela napas lega. Untung saja Mada mengambil kunci kamarnya sehingga semua barangnya masih utuh.
Dengan tergesa Ammar segera mengambil tas dan memasukkan barang yang sekiranya ia perlukan. Ia tak perlu waktu lama untuk mengemasi barangnya yang sedikit.
Sudut mata Ammar menangkap benda di dekat pintu. Membuat pergerakannya terhenti seketika. Ia termenung.
Jika saja ia mencari kucing itu saat pagi, mungkin Ammar tak akan pernah bertemu dengan Atlas dan menyaksikan hal mengejikan yang pemuda itu lakukan.
Mungkin saat ini ia sedang mengemasi barang dan bersiap untuk pulang kerja. Berjalan sepanjang trotoar dan berpikir akan makan apa malam nanti.
"Hah! Gak apa-apa." Gumam Ammar mengusap dadanya berusaha menenangkan diri.
Sudah pukul lima. Ia tak punya banyak waktu sebelum kegelapan mengambil alih. Ammar takut akan malam.
Tok
Tok
"Loh, Ammar. Kamu kemana aja empat hari ini?" Tanya seorang pemuda. Dia tetangga sebelah kamar Ammar.
Remaja kecil itu menatap tak enak pada lelaki di depannya. Ammar mengangkat kandang kucing yang dibawanya.
"Emm, Bang. Boleh temenin saya cari kucing gak? Saya takut ke hutan sendirian." Ujarnya tersenyum sungkan.
"Boleh, deh. Abang juga lagi gabut." Katanya mengikuti langkah Ammar.
Keduanya memasuki perkebunan. Saat melihat perbatasan hutan, Ammar beringsut mendekati pemuda di sampingnya.
"Terakhir kali kamu liat dimana kucingnya?" Tanya pemuda itu.
"Saya kurang tahu. Tapi, jendela kamar saya ngarah ke sana." Tunjuk Ammar pada area hutan.
Ammar semakin mengeratkan genggaman pada kaos yang dikenakan pemuda itu. Hawa dingin menusuk kulitnya dan merasuki memori malam tempo hari.
Nafas Ammar kian pendek dan rona wajahnya menghilang. Kilasan balik saat tangan penuh darah dan tubuh tanpa nyawa menyambangi pikirannya.
Grep
"Huh!"
Ammar terkejut saat tepukan di pundaknya membawa ia kembali pada kenyataan. Tidak ada mayat. Dan tidak ada darah dimanapun.
"Kamu gak apa-apa? Mukamu pucet banget." Kata si pemuda khawatir.
Bulir keringat dingin membasahi dahi Ammar. Matanya bergetar ketakutan. Sepertinya bukan hanya malam yang menjadi sumber ketakutannya sekarang.
"Hey, tenang. Gak usah panik. Ayo duduk dulu." Ujarnya.
Setetes bulir air mata turun dari pelupuk mata Ammar. Suara milik pemuda itu tak bisa membuat hatinya tenang. Seolah bahaya tetap hadir dengan ada atau tidak adanya pemuda itu.
"Ini udah mau gelap. Mendingan kamu balik aja ke kamar. Biar Abang saja yang cari kucingnya."
"Tapi– Bang."
Ammar menatap punggung pemuda itu yang kini menghilang di antara pepohonan. Dengan berat hati, Ammar berbalik arah. Benar, lebih baik ia menunggu di kosnya daripada menjadi beban.
Remaja kecil itu terduduk di pembatas pintu. Menyenderkan kepalanya karena terlalu lemas. Ia merasa lebih baik saat melihat lampu yang terang dan banyak orang yang berlalu lalang.
Jujur, Ammar merasakan sesuatu yang lain saat malam itu. Bukan rasa takut akan kematian. Ia masih ingat dengan jelas sorot mata yang sangat berbeda dengan wajah psikopat Atlas. Ada kesedihan mendalam yang terlihat di kedua matanya.
"Adik, ya?" Lirih Ammar.
Saat itu, Atlas mengatakan jika sang adik sudah meninggal secara tidak langsung. Ammar berpikir. Pasti Atlas sangat sedih ditinggal adiknya. Ia tak pernah merasakan punya sosok saudara. Jadi, rasa kehilangan itu tak pernah Ammar alami.
Tidak. Kenapa ia harus memikirkan perasaan Atlas sedangkan dirinya saja tenggelam dalam rasa takut akibat perbuatan pemuda itu.
"Ammar?"
Remaja kecil itu mendongak saat seorang lelaki memanggil namanya. Senyum lebar menghiasi wajah Ammar saat mengenali wajah yang sudah lama tak ia lihat.
Ammar berlari kecil. Menubruk tubuh tinggi lelaki itu dan mendekapnya erat. Selain Mada, orang inilah yang pernah memberikan rasa aman serupa.
"Kamu masih aja pendek, ya?" Kekeh lelaki itu saat menepuk kepala Ammar yang tingginya hanya sebatas perut.
Ammar melengkungkan bibir hampir menangis ketika mendengar ejekan lelaki itu. Sudah berapa tahun ya, Ammar tidak mendengar suara lelaki itu.
"Kak Vince, jangan pergi lagi."
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)