42. MASA LALU TELAH USAI

4.4K 229 11
                                        

"Kakak pernah punya adik. Dia nakal, tapi manja sekali sama ayahnya."

"Enak dong. Aku juga pengen manja kalau punya ayah."

Anak berusia tujuh tahun itu tersenyum hingga nampak deretan giginya yang ompong beberapa. Ia suka sekali cerita apapun yang keluar dari mulut pria disampingnya.

"Kamu ingin punya ayah?" Tanya si pria ketika mendapat reaksi berbinar dari anak itu.

"Iya! Nanti aku bisa main bareng sama ayah. Terus, diajarin naik sepeda. Aku juga pengen makan sama ayah." Celotehnya menceritakan rencananya setelah ada yang mengadopsinya dari panti asuhan.

"Dan lupain Kakak?" Pertanyaan ini membuat imajinasi anak itu terhenti.

"Kakak kan udah punya adik sendiri sama ayah. Kak Vince bisa ajarin adik biar bisa main sepeda juga." Ujarnya polos.

"Benar juga. Nanti, Kakak ajak adik main bareng." Vince mengelus surai Ammar lembut dengan senyum tipis.

Tak lama dari itu, Ammar diadopsi oleh orang Bandung. Vince hanya bisa memperhatikan dari jauh ketika senyum anak itu tak kunjung luntur dari wajahnya. Manis sekali saat langkah kecil itu mengikuti sang ayah.

Hingga ekspetasi Vince tentang si kecil yang bahagia dengan keluarga barunya tergantikan oleh kenyataan pahit.

"Menjijikan."

Dengan satu pemantik, Vince membakar satu keluarga hidup-hidup sehari setelah Ammar dikembalikan ke panti asuhan. Itu adalah kematian pertama bagi orang yang telah berani membakar punggung Ammar tanpa alasan yang jelas.

"Kata Ayah, Ammar nakal. Jadi dapat hukuman biar besok bisa dibeliin sepeda."

Vince benci dengan anak-anak. Mereka terlalu naif dan polos. Tapi, entah kenapa ia bisa bertindak seimpulsif itu saat mendengar kejadian yang sama terulang saat Ammar diadopsi oleh keluarga lain.

"Aku yang salah udah jatuhin air minum dikertas kerjaan Ayah." Ujarnya tersenyum cerah. Ia hanya harus menunggu sedikit lagi.

Ammar menatap Vince yang kini berkunjung ke panti setelah mendapat kabar jika untuk kedua kalinya anak itu dikembalikan ke panti asuhan dalam keadaan terluka.

"Ampun! Saya janji akan menuruti semua keinginan anda."

Sring

"Aakkhhh!!"

"Lakukan saja dineraka."

Vince tidak tau, jika senyuman tulus Ammar waktu itu adalah yang terakhir ia lihat. Anak itu lelah dengan fantasi yang ia buat tentang sosok ayah. Saat dimana dengan teganya sang ayah berusaha membunuhnya.

Malam itu, dengan mata kepalanya sendiri Ammar melihat jati diri Vince saat membunuh ayah angkatnya. Bagaimana seorang Vince kalap mencabik setiap inci tubuh pria yang telah memberi luka pada Ammar.

"Mati adalah pengampunan dari diriku."

Menolak kenyataan itu, memori Ammar bekerja cepat. Menghapus semua ingatan dan rekam jejaknya dari kecil. Mengubahnya menjadi ilusi yang ia karang sendiri.

"Dimana Ammar?"

Seorang wanita paruh baya menoleh dengan raut bingung. Ia kenal pria ini, tapi kenapa dia menanyakan Ammar yang jelas-jelas telah pergi dengan keluarga barunya saat itu.

"Anda kan tau jika Ammar sudah diadopsi lima bulan lalu." Ujarnya heran.

Dalam hitungan detik Vince sadar jika perkiraannya salah. Ia kira Ammar telah dikembalikan ke panti seperti sebelumnya.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang