33. KEBINGUNGAN

2.6K 265 3
                                        

Brak

Sepasang mata itu menatap takut ketika dirinya di dorong paksa memasuki sebuah ruangan di salah satu geledak kapal. Ia meringkuk ke pojokan saat banyak orang menatapnya.

"Hey, nama kamu siapa?"

Bocah lelaki itu beringsut mundur saat seorang remaja tanggung menepuk pundaknya. Ia menatap waspada seolah siapapun akan melukai dirinya kapan saja.

"Apa kau takut? Aku tidak akan melukaimu." Ujarnya lembut.

Namun, anak berumur lima tahun itu tetap bergeming di tempat. Melipat kaki dan menyembunyikan wajahnya disana.

"Jangan hiraukan dia. Toh, kita semua punya nasib yang sama. Dia juga akan dijual seperti kita." Kata yang lain.

"Tapi, dia masih kecil." Bantah remaja itu keras. Si anak baru memang paling mungil diantara yang lain.

"Tidak ada bedanya. Kita semua akan menjadi budak atau mungkin mati sebentar lagi." Sahutnya.

Keheningan terjadi. Anak itu menutup telinganya saat mendengar kata mati. Ia tak bodoh untuk mengetahui artinya. Lalu suara yang tadi mencoba membuat dirinya tenang kini lenyap.

Sakit. Hanya itu yang ia rasakan. Entah dimana rasa sakit itu berasal. Semua seolah bercampur aduk menjadi satu. Mengintip dari sela lengannya, anak itu hanya mendapati kegelapan. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk lewat ventilasi kecil.

Bibir pucatnya terkatup rapat. Ia tak berani mengeluarkan suara apapun mengingat terakhir kali di pukul tanpa ampun karena menangis.

"Kami bisa mengambilkannya untuk anda, Tuan."

Ada suara pria dewasa diluar pintu. Refleks, anak itu semakin merapatkan diri ke dinding. Hingga punggungnya tak sengaja menabrak sebuah peti besar disana. Ia takut dipukul lagi.

"Apa kau pikir aku tak tau kalian menjual senjata palsu pada pelanggan? Jangan bercanda. Kau meremahkanku karena aku tak membawa senjata apapun ya."

"Tidak, Tuan!"

Suara gaduh membuat suasana makin mencekam. Semua anak kecil yang hendak dijual itu menatap pintu was-was. Jeritan melengking meminta ampunan menambah ketakutan.

"Minggir! Berikan kuncinya."

"Ini, Tuan."

Ceklek

Cahaya memasuki ruangan. Namun, anak itu malah jatuh meringkuk dengan menutupi kepalanya. Karena insting, ia memejamkan mata gematar. Ada aura kematian yang mendekat padanya.

"Singkirkan anak ini."

Tubuhnya melayang dan dihempaskan keras ke lantai. Ia merintih kesakitan saat salah satu kakinya tergores paku berkarat hingga mengoyak kulitnya.

Pria dengan pakaian kasual itu merasa terganggu dengan suara kesakitan anak itu walau terbilang lirih. Ia memberi perintah pada lelaki yang mengikutinya untuk mengangkut peti berisi senjata ke dalam mobilnya.

Lalu pria itu berjalan mendekat dan mencodongkan badan. Menatap lamat si anak kecil di depannya yang berusaha menutup kepalanya meskipun kakinya terasa amat sakit.

"Apa sakit sekali, hm?" Lelaki itu menyentuh luka yang menganga dan menekannya tanpa kasihan.

"Arrghhh.. hiks.."

Refleks anak itu memegang kakinya. Tak apa jika nanti ia dipukul lagi, untuk sekarang ia ingin menangis agar rasa sakit itu reda sedikit.

"Nehan?"

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang