26. SEKOLAH

3.8K 322 6
                                        

Vince memandang jauh ke arah gerbang sekolah yang ramai akan kendaraan pribadi dari dalam mobilnya. Trotoar dipadati siswa yang turun dari mobil karena kendaraan tak boleh memasuki area sekolah.

Hingga salah satu mobil berwarna putih menyita perhatiannya. Seorang pria turun disusul anak kecil berseragam biru putih. Sudut bibir Vince tertarik saat melihat anak itu merajuk pada ayahnya.

Sebatas ini. Ia tak bisa terlalu dekat dengan siapapun dengan identitasnya sekarang. Vince termenung. Wajah anak itu berubah. Berkilat berganti menjadi sosok yang sejatinya ia rindukan.

Memalingkan wajah, Vince berusaha menyadarkan diri. Ia berkedip dan saat itu juga Vince berselisih tatap dengan seorang pemuda berjaket hitam. Vince tersentak saat melihat senyum miring pemuda itu.

"Kenapa dia ada disini?" Gumam Vince heran.

"Sial!"

Lagi, Vince dikejutkan oleh suara lain dari kaca samping kemudi. Pemuda berseragam SMA itu turun dari motornya dan memandang kesal ke arah roda belakang.

Beberapa detik Vince memandang rumit pemuda itu. Ia merasa kedatangannya ke Jakarta seolah membawanya ke masa lalu.

"Lo- Vince?"

Mendengar pemuda itu menyebutkan namanya, Vince segera menurunkan topinya. Baru saja ia bersiap menginjak gas, Vince tertegun saat si pemuda melanjutkan kalimatnya.

"Kita bertemu lagi. Right? Kak Vince." Ujarnya tersenyum senang.

"Siapa kau?"

Vince menatap tajam pada sang pemuda yang tertawa remeh. Wajah itu memang sama persis dengan seseorang yang ia kenal. Tapi, tidak dengan tatapannya. Ia merasa melihat Akio dalam diri pemuda itu.

Pemuda yang tadinya kesal karena mengira kena sial pagi itu mengubah pikirannya. Ia dapat jackpot!

"Gak penting." Pemuda itu melirik ke arah Vince dari sudut matanya.

"Gue cuman mau bilang, jangan terlalu percaya sama orang deh. Atau lo bakal nyesel untuk kesekian kalinya."

Pemuda itu tersenyum miring saat mendengar nada dering dari ponsel Vince. Ia berlalu pergi dengan mendorong motornya menjauh.

Nomor tak dikenal. Ia mengangkat panggilan. Menempelkan benda pipih ke telinga dalam diam.

"Lupa dengan tujuanmu, Vince?"

Suara yang amat familiar itu membuat Vince terdiam. Satu-satunya orang yang membuat seorang mafia terkemuka di Eropa seperti Vince tak berkutik.

"It's not your business." Ujar Vince sarkas.

Pria itu tertawa menanggapi ucapan Vince yang tak ramah. Hingga suara dingin terdengar kembali di rungu Vince.

"Adikmu pasti akan kecewa padamu. Kakak yang paling dia sayangi melupakan orang-orang yang telah membunuhnya." Diujung kata ia terkekeh.

Tangan Vince terkepal. Giginya bergelatuk marah. Jauh dalam dirinya ada pembenaran dalam lontaran kalimat pria itu.

"Adikku tak pernah berpikir sekotor itu." Sanggahnya.

Ada keheningan sejenak. Vince tau setelah adiknya meninggal, tali kekang yang selalu melilit lehernya seolah terlepas. Tapi rasa syukur itu terasa tak benar. Vince rela menjadi anjing setia selamanya selagi adiknya berada disisinya.

"Hah! Hanya karena anak kecil itu kau melupakan balas dendam tujuh tahun lalu. Oh atau karena Akio kau berubah pikiran? Sungguh menarik."

Tubuh Vince membeku. Pikirannya melayang pada enam tahun lalu. Dimana ia masih berperang dalam ego dan amarah. Memikirkan banyak hal untuk menjatuhkan hirarki mafia dunia yang telah merenggut segalanya.

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang