Motor scrambler milik Mada membelah jalanan dengan kecepatan pelan. Angin sore berhembus hangat menerpa dua manusia itu. Tapi, baik Mada maupun Ammar sepertinya tak ingin membuka percakapan.
Satu tangan Ammar menggenggam plastik berisi makanan yang Mada ganti. Sedangkan sebelahnya lagi berpegangan pada jaket hitam yang dikenakan Mada.
Hingga motor berhenti tepat di depan kos, Ammar segera turun dengan bantuan Mada. Motor itu terlalu tinggi untuknya yang tingginya tidak seberapa.
"Makasih, Bang Mada. Udah nganterin saya, sama ini juga." Ujar Ammar mengangkat kresek putih berisi makanan.
Mada anak tunggal. Jadi, ia canggung ketika berinteraksi dengan anak yang lebih muda. Hingga senyuman manis milik Ammar hanya dibalas tepukan pada kepala.
"Sorry. Lain kali gue traktir." Kata Mada tersenyum tipis.
Pemuda itu memutar arah untuk kembali ke cafe. Ia masih ada urusan disana sebelum pulang. Meninggalkan Ammar yang melambai kecil ke arah Mada.
Ammar menghela napas lega. Ia kira Mada itu tipe orang yang cuek pada orang asing. Tapi, sedikit interaksi tadi membuat ia paham jika Mada hanya tak tahu cara menyampaikan emosinya.
Saat hendak masuk ke kamar kos, ia dikejutkan dengan kedatangan pemilik yang datang terburu-buru.
"Ammar, ibu boleh minta tolong gak?" Ujar wanita paruh baya itu.
"Kenapa bu?"
Mendapat respon baik, wanita itu memperlihatkan kandang berukuran sedang pada Ammar.
"Saya mau pulang kampung satu minggu. Ibu saya masuk rumah sakit tadi pagi. Tolong titip kucing saya, ya?" Ujarnya.
Belum mengatakan apapun, wanita itu langsung menyerahkan kandang ke dekapan Ammar lengkap dengan makanan kucing dan berlalu pergi.
"Masalahnya saya alergi kucing." Gumam Ammar menatap nanar kepergian ibu kosnya.
Hachim!
Ammar menjauhkan kandang dari hidungnya. Ia membawanya masuk dan meletakkannya di dekat pintu. Sejauh mungkin dari jangkauannya.
"Emang gak ada yang bener hari ini." Keluh Ammar.
Remaja kecil itu melirik ke arah kandang saat kucing di dalamnya tak berhenti berbunyi. Ia pikir kucingnya lapar. Jadi, ia membuka sedikit pintunya dan meletakkan mangkok kecil berisi makanan kucing.
Ammar pergi mandi. Tapi, ketika ia kembali ada yang aneh dengan kamarnya. Mangkok kosong dan jendela yang terbuka. Melongok ke dalam kandang, tidak ada apapun!
Dengan panik, Ammar mencari di area kamar. Tapi, tidak ada dimanapun. Ia bergegas keluar kos. Arah jendela kamarnya tepat ke kebun yang berbatasan dengan hutan. Tidak! Jangan sampai kucing itu hilang atau dirinya akan berakhir diusir.
"Mpus.. kamu kemana."
Hari makin petang dan Ammar makin masuk kearah hutan. Tapi, Ammar tak menemukan hewan peliharaan milik ibu kosnya. Lagi, ia tak tau rupa persis kucing itu. Yang ia tahu, kucingnya berwarna terang.
"Aduh, kamu dimana sih."
Ammar mengibas setiap semak-semak. Mungkin kucing itu bersembunyi di suatu tempat. Jadi, ia tak melewatkan satu tempat pun.
"Heee.. Kau kira aku percaya?"
Langkah Ammar terhenti saat mendengar suara seseorang. Mata kecilnya meliar mencari sumber suara. Ia melihat ada siluet beberapa orang di kegelapan.
"Yah, kalau jujur pun akan aku anggap itu kebohongan. Well! Dari mana aku mulai."
Ammar bersembunyi dibalik semak-semak. Ia merasa curiga dengan gelagat mereka. Mana ada orang yang berkumpul ditempat gelap seperti ini. Ia mengintip untuk melihat apa yang sedang terjadi.
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)