Remaja kecil itu tampak fokus dengan sebuah buku di pangkuannya yang sang ayah belikan untuknya. Setidaknya, Ammar bisa membaca dan berhitung walau masih dasarnya.
Memandang ke depan, banyak orang yang tengah menikmati udara pagi di taman rumah sakit. Termasuk Ammar yang datang bersama Emiko. Wanita itu tadi pamit ke toilet sebentar.
Kembali ke bukunya, ia mencoret-coret mencari hasil perhitungan. Kemarin Carel sudah mengajarinya pelajaran sekolah dasar kelas lima. Pemuda itu selalu memujinya pintar saat cepat menangkap apa yang Carel ajari.
"Boleh ikut duduk disini?"
Ammar mendongak. Mendapati seorang remaja dengan topi dan masker tengah melihatnya. Ammar memutar pandang ke penjuru taman. Ternyata tempat itu lumayan ramai dan hanya kursi di dekat Ammar yang kosong.
"Boleh. Ini tempat umum kok." Ujar Ammar. Ia menghiraukan orang asing itu.
"Kamu sendirian? Orang tua kamu dimana?"
Tadinya Ammar berusaha untuk acuh seperti apa yang Karl ajarkan. Menjadi bagian dari Dawson bukan tak mungkin Ammar dijadikan target kejahatan.
"Mau permen?"
Merasa dihiraukan, pemuda itu menghela napas pasrah. Ia memandang lekat pada Ammar yang sibuk dengan pena dan buku. Wajah remaja kecil itu berkerut tak nyaman.
"Aku punya adik. Dia manis sepertimu. Tapi, bedanya dia tak suka belajar." Ujarnya tiba-tiba.
"Kenapa?"
Pemuda itu terkekeh saat Ammar mulai tertarik dengan ceritanya. Ammar menampilkan raut penasaran dan memandangnya seolah menunggu jawaban.
"Katanya gak seru. Lebih baik main sama kucing diluar atau mandi hujan." Katanya.
"Aneh. Padahal kan enak kalau ke sekolah. Pasti nanti bakal dapet banyak teman. Gak semua orang bisa dapet pendidikan juga." Komentar Ammar.
Mendengar itu, si pemuda tampak diam sejenak. Ammar hanya melirik dari sudut matanya. Ingin sekali ia kembali ke ruang rawat. Tapi, tidak bisa. Ia memakai kursi roda karena tubuhnya masih lemas. Pemuda itu terlalu mencurigakan dengan memakai pakaian serba hitam.
"Iya, benar. Seharusnya dia bisa hidup seperti anak lain pada umumnya." Ujarnya membuang wajah.
Ammar memandang heran saat mendengar kalimat ambigu itu.
"Gak apa-apa. Nanti, kakak ajarin aja adiknya di rumah. Terus bilang, kalau gak mau belajar bakal dibuang kucingnya."
Ammar tertawa lucu. Ia pernah melihat kejadian ini saat anak dari tukang bubur langganannya tak mau pergi ke sekolah.
"Terima kasih atas sarannya." Ujarnya terkekeh jenaka.
"Kakak mau jenguk siapa?"
Pemuda itu menoleh terkejut saat mendapat pertanyaan dari Ammar yang memandangnya dengan senyum tipis. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa gugup.
"Ekhem, adik kakak lagi sakit."
Ammar memandang iba. "Semoga cepat sembuh ya adiknya." Ia merogoh saku baju pasiennya.
"Ini permen buat adik kakak." Sambung Ammar menyerahkan tiga butir sisa yang Dave berikan.
Pemuda itu tampak terdiam menatap tangannya. Ammar pikir remaja itu pasti sangat sedih dan khawatir pada adiknya.
"Dia pasti akan langsung sembuh saat menerimanya." Katanya lirih.
"Heem. Kata Papa, nanti sore aku udah bisa pulang. Adik kakak juga pasti bakal bisa cepet pulang."
![TUAN MUDA [Sequel] (END)](https://img.wattpad.com/cover/344230643-64-k914071.jpg)