12. RENCANA

9.2K 681 3
                                        

"Dia ada?"

Dani, pekerja di tempat pencucian itu menatap bingung pemuda yang datang. Ia ingat, lelaki ini merupakan orang terakhir yang ia lihat bersama Ammar tiga hari lalu.

"Bukannya Ammar ikut anda, ya?" Ujarnya heran.

Sudah tiga hari remaja kecil itu tak berangkat kerja. Bosnya bilang untuk tidak menanyakan anak itu. Katanya ada seseorang mendatanginya dan meminta izin untuk memberikan waktu luang pada Ammar.

"Ah, mungkin dia bersama adik saya." Ujar Nial melenggang pergi.

Mobil crossover hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Kali ini Nial mengendarainya sendiri. Ia sengaja datang ke tempat Ammar bekerja untuk memastikan laporan dari adiknya.

Saat gerbang berwarna putih terlihat, satpam langsung membukanya dengan sigap ketika mengenali mobil milik salah satu majikannya.

Nial memasuki rumahnya. Hingga di ruang tamu terdapat para anggota keluarganya. Karl Dawson, ayahnya itu bahkan berada di rumah walau hari masih siang.

"Dia hilang. Aku sudah mencarinya ke tempat biasa." Ujar Nial. Ia melirik adiknya yang membuang muka.

"Tidak ada. Aku sudah mengeceknya di markas."

Karl menghela napas melihat respon dari putra keduanya. Ia sudah memberi pengertian jika kejadian masa lalu harus dilupakan.

Tapi rupanya Nial tidak terlalu mempercayai perkataan dari adiknya itu. Ia memicingkan mata curiga. Hingga si empunya sadar dan berdecak sebal.

"Aku tak sejahat itu." Ujarnya membela diri.

Emiko menggeleng melihat dua putranya yang saling beradu pandang. Keduanya memang tak terlalu akur karena jarang berinteraksi.

"Eros, sayang. Dia bukan orang yang sama. Putra bibimu sudah meninggal tujuh tahun lalu." Ujar Emiko lembut.

Memang benar. Akan tetapi melihat wajah yang mirip dengan bajingan tua itu membuat rasa bencinya seketika mengambil alih emosinya.

"Aku sedang berusaha untuk berdamai." Kata Eros menatap wajah ibunya.

"Terima kasih." Ujar Emiko tersenyum hangat.

Carel yang melihat drama itu memutar bola matanya jengah. Ada yang lebih penting dari ini.

"Jejak terakhir anak itu saat berada di restoran. Kris bilang ada pemuda yang mengaku sebagai kakaknya." Ujar Carel mengalihkan topik.

"Tapi, dia yatim piatu." Sambung Emiko khawatir.

"Aku sudah mengecek cctv. Remaja yang  membawanya itu teman Eros." Sahut Karl.

Eros yang mendengarnya mendelik pada sang ayah. Walau tak ada suara protesan apapun yang keluar dari mulutnya. Tapi, dari rautnya saja sudah terlihat tidak setuju dengan pernyataan yang Karl katakan.

"Musuh lebih tepatnya." Ujarnya kesal.

Emiko berdesis. Putranya satu ini selalu saja keras kepala. Hanya karena wajah yang mirip, pemuda yang tak tahu apapun itu terkena imbas kebencian Eros yang tak berdasar.

"Mada hanya mirip dengan Algis, sayang. Bibimu juga tidak akan suka jika kamu membenci para putranya." Kata Emiko memberi pengertian.

"Begitu juga Ammar." Lanjutnya.

Eros mendengarkan. Hari itu setelah ia menuduh Ammar, keluarganya tahu. Sang ayah yang mendapat laporan segera turun tangan untuk memberinya pelajaran. Pria itu tak pernah mengajarkan para putranya untuk bertindak tanpa pikir panjang.

"Mungkin adopsi adalah opsi terbaik." Ujar Nial mengambil atensi.

"Setuju. Aku tak bisa membiarkan anak tak berdosa hidup tersiksa dengan keluarga itu. Tidak untuk kedua kalinya." Sergah Emiko.

"Keluarga itu sudah gila."

Dalam diskusi menegangkan itu, Carel memilih menjadi pendengar. Anak itu, Ammar memiliki nasib buruk dengan mempunyai wajah yang mirip anak bungsu bibinya. Kalau tidak segera diamankan, takdir tragis akan menunggunya kemudian.

Namun sepertinya usaha keluarganya beberapa hari ini dengan mendekati Ammar secara perlahan harus dihentikan. Tidak ada waktu untuk membujuk secara halus dengan mendapat kepercayaan remaja yang penuh waspada pada orang asing itu.

"Kita tidak tahu pemuda itu ada di pihak siapa. Hanya ada satu cara untuk memastikannya." Ujar Nial menatap penuh pada Eros.

Bukan hanya Nial, semua atensi mengarah pada pemuda yang paham kemauan keluarganya.

"Merepotkan."

****

Remaja kecil dengan kaos putih kebesaran itu menatap diam seorang wanita yang beberapa hari ini mengurus dirinya. Ia memperhatikan kegiatan wanita itu dari kursi pantry dekat dapur.

"Mami buatkan cookies untukmu. Kata Mada, makanan apapun yang Mami buat itu enak. Nanti kamu pasti bakal suka." Ujar wanita itu dengan senyum lebar terpatri.

Tapi, tampaknya hal itu tak mampu menarik atensi. Wanita itu menghela napas sabar. Ia berusaha terus mengajak remaja itu berbicara walau tak mendapat respon apapun.

"Ayo kita ke ruang tengah. Ammar lebih baik nonton tv saja. Sebentar lagi Bang Mada turun." Katanya menuntun Ammar.

Wanita itu, Sarah sudah mengusahakan apa yang dokter katakan padanya. Ia menatap nanar anak lelaki di depannya itu. Sang putra juga sudah mengatakan apa yang terjadi. Ammar syok dan pikirannya membentuk trauma.

Sarah mengganti chanel pada film kartun. Ia harus masak makan siang. Jadi, Mada yang baru pulang ia suruh untuk segera mengganti baju dan turun menemani Ammar.

"Mami, ada kemajuan?"

Mada datang menghampiri ibunya yang hendak kembali ke dapur. Wanita itu menggeleng lesu. Masih sama. Sudah tiga hari Ammar diam. Lalu saat malam anak itu akan menangis dan mencari Mada.

"Kamu temenin dia dulu. Mami mau masak makan siang. Bibi lagi gak ada soalnya." Ujar Sarah berlalu.

Saat sampai di ruang tengah, Mada melihat Ammar menatap layar di depannya kosong. Anak mana yang tidak terkejut mendapati pembunuhan tepat di depan matanya.

"Mau keluar? Kita duduk di gazebo samping rumah. Disana ada kolam ikan juga." Ajak Mada.

Ammar mendengarnya. Tapi, ia takut hanya dengan menginjakkan kaki ke luar rumah. Padahal ini bukan rumahnya. Hanya saja, Ammar pikir tidak ada tempat paling aman selain di samping pemuda di sampingnya.

Remaja kecil itu menoleh. Menatap wajah Mada yang kaku. Sekelebat rasa tak enak hadir dihatinya.

"Maaf ngerepotin Abang." Kata Ammar lirih.

"Lo– maksud Abang, kamu bisa tinggal disini selama yang kamu mau." Ujar Mada.

Senyum kecil terbit dari bibir Ammar. Ia merasa lucu dengan ucapan Mada yang terkesan kaku dan canggung itu. Ammar jadi teringat saat Sarah mengomeli Mada karena menggunakan bahasa gaulnya saat berbicara padanya.

"Lagian Mami jadi ada teman di rumah." Kata Mada beralasan.

Benar. Rumah besar itu terlihat sepi. Hanya ada Sarah, Mada, satu pelayan, dan dua satpam yang Ammar lihat sejauh ini.

Saat Mada berdiri dan melangkah menuju taman samping rumah, Ammar mengikuti. Tangannya menggenggam ujung kaos hitam yang digunakan Mada. Remaja kecil itu sudah tidak canggung lagi pada lelaki itu.

Hingga di tengah jalan, langkah Mada terhenti. Getaran dari ponsel mengambil alih atensi. Ammar hanya memperhatikan saat wajah Mada berubah masam.

"Mau apa lo?"

TUAN MUDA [Sequel] (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang