17; husbandfree

6K 407 12
                                    

Setelah cukup lama tak ada kabar dari Vivian, tak lama gadis agak tengil itu masuk ruanganku tanpa permisi-permisi dahulu. Dia membersihkan tangannya kemudian duduk di hadapanku dan anak-anak.

"Lo dari mana tadi, Vi?" tanyaku, dia yang siap menggendong anakku terhenti dan menatap.

"Lo ada nyariin gue ya, Kak?" Dia malah bertanya balik, wajahnya agak ketakutan.

Ekspresi yang aneh di mataku. "Enggak, sih, cuman kok lo gak ada nongol dari tadi?"

"Eh, i-itu ...." Ia cengengesan. "Gue tadi nonton film, Kak. Entah kenapa alurnya boring, jadi gak sengaja gue ketiduran, lama ya gue ngilangnya? Gak terjadi apa-apa kan?!" tanyanya khawatir.

Aku justru senang dia tepar di saat-saat Pak Ajun tiba-tiba melengos masuk tanpa permisi, sepertinya Vivian tak tahu, entah karyawan di luar. Namun, kalau sampai Pak Ajun masuk, berarti dia mengendap-endap, karena siapa pun dia pasti akan dihentikan mereka dahulu ke area pribadi atasan ini.

"Gak ada sih, gue heran aja, kan biasanya lo mondar mandir sana sini." Bahkan kegiatan mondar-mandir Vivian tak ada, ternyata ketiduran, duh.

Di satu sisi, sangat disayangkan, dia melewarkan peristiwa besar yang sering ia khayalkan di masa lalu. Meski demikian sih, cepat atau lambat, dunia pasti akan tahu jika tiga jagoanku adalah hasil dari aku dan Arjuna Thomas.

"Hehe, sorry banget, Kak. Gue ... dihukum ya?" tanyanya takut-takut.

"Teledor di jam kerja, harusnya iya, tapi ya udahlah toh gak terlalu ganggu kegiatan kerja." Dia mengusap dada lega. "Bantuin gue jaga anak-anak deh, ya."

Saat menyelesaikan kalimat itu, ponselku berdenting. Bukan dari grup pastinya karena masih aku senyapkan, aku mengambil ponselku lagi dan membuka aplikasi hijau itu.

"Siapa nge-chat Kak?" tanya Vivian.

Aku tak menjawab dan hanya diam memandangi ponsel dengan sedikit ternganga, karena pesan tersebut dari seorang Pak Ajun yang Terhormat.

"Romansa, apakah anak-anak bisa diajak ke rumah Minggu depan? Aku sudah menjadwalkan kepulanganku dan orang tuaku akan di rumah saat itu." Ini terlalu cepat, tapi mau bagaimanapun aku tak seharusnya menolak.

Semua rencana yang berantakan, Ajun yang berada di posisi bisa menuntutku kapan saja, dan aku sudah memikirkan dunia akan tahu itu semua. Tak ada lagi yang bisa aku tutupi.

Saat ingin membalas, sebuah kepala perlahan mendekat dari sampingku, aku tak benar-benar melihat selain dari bayangan di ekor mata, jadi segera aku dorong kepala itu menjauh. Pelakunya, Vivian si kepo.

"Apaan, sih? Kepo!" kataku kesal.

"Ya gue nanya pesan dari siapa lo diem doang sambil melongo, Kak. Ya gue kepo, lah. Dari siapa emang? Cowok lo ya?" tanyanya menyengir.

"Bukan, lo gak usah kepo, deh. Urusan gue ini." Aku belum siap memberitahukan kebenaran dengan siapa pun, biarkan semuanya keluar di ledakan berikutnya, aku malas menjelaskan panjang lebar saat ini.

Dengan itu, aku membalas pesan Pak Ajun, dengan emotikon jempol saja. Akhirnya aku bisa membalas pria itu, dia tak akan marah kan? Aku cengengesan berikutnya.

"Mampus," gumamku pelan, puas sekali rasanya.

Namun, siapa sangka, Pak Ajun mereaksi pesanku dengan tawa.

"Kamu membalas perbuatan menyebalkan aku dulu, ya? Entahlah, kalau niat kamu membuatku kesal, mood-ku sangat gembira sekarang." Dia membalas panjang lebar berikutnya, aku mendengkus pelan.

Entahlah, perubahan Pak Ajun menuju lebih baik ini kenapa malah terasa semakin menyebalkan?

"Ish, Vivi!" Aku mendorong kepala Vivian yang kembali melongok dari atas.

"Sebenernya chat apa sih lo, Kak? Tadi seneng, sekarang marah, bingung gue." Dia mendengkus seraya kembali bermain dengan anak-anak.

"Gak usah dipikirin, nanti poni lo keriting!" kataku kesal.

"Romansa, tolong foto anak-anak, aku sangat merindukan mereka." Pesan Pak Ajun kembali masuk.

Baru juga sebentar dia pergi, sudah rindu.

"Malas." Kali ini, balasanku pasti membuatnya kesal. Aku tersenyum puas, tetapi kembali dibuat kaget dengan apa yang dikirim Pak Ajun berikutnya.

Stiker imut, beruang menangis.

Ini sesuatu hal yang sangat 'bukan Pak Ajun'. Bertolak dengan kepribadian tiga tahun lamanya yang pernah aku lihat, stiker imut.

Namun kemudian, aku teringat sesuatu sekitar satu tahunan lalu, waktu di mana aku memperkosanya dan celananya berupa animasi beruang tersial. Aku rasa tak menutup kemungkinan dia punya inner child hingga sangat menyukai hal tersebut. Inner child-nya mungkin sebelas dua belas sepertiku, aku terluka karena perlakuan ayahku, dan dia terluka karena perlakuan orang tuanya.

Aku jadi agak iba.

Setahuku kondisi stres pada pria mempengaruhi kesuburan, berarti saking stresnya dengan masa lalu kelamnya dia mengalami impoten, tertekan akan kehidupan. Masuk akal. Syukur saja dia tak stres saat aku dibuahi.

Menghela napas, aku pun membuka fitur kamera. "Vi, tolong letakkin anak gue, gue mau moto."

"Lo ngasih pap ke orang, Kak? Siapa?"

"Temen, udahlah lo gak usah kepo." Vivian masih menatap dengan penuh rasa penasaran, tampak jelas di wajahnya, tetapi aku mengabaikan itu semua, syukur saja dia penurut, dengan itu pun aku memotret anak-anak, kemudian mengirimkannya ke Pak Ajun.

Dia mengirimi stiker hati besar, aku mengabaikannya saja, dan sekarang aku kepikiran soal pertemuan kami Minggu nanti dengan orang tua Pak Ajun. Apa aku hanya butuh pasang badan? Atau ada ritual lain menyambut mereka para kaum darah biru?

Nanti sajalah, Minggu masih lumayan lama, aku akan tanyakan ke Pak Ajun nanti.

"Vi," panggilku, Vivian yang asyik bermain mendongak. "Lo penasaran gak tadi gue chat siapa dan chat apa?" tanyaku, tersenyum menggodainya.

"Gak bakal lo kasih tau juga, Kak Ros. Gak usah bikin gue sok penasaran, deh," jawabnya mendelik, aku tertawa geli.

"Sesuatu yang besar bakalan terjadi, Vi, cepat atau lambat, tapi gue sendiri belum pasti." Aku menghela napas, sedikit menunduk sebentar.

"Sesuatu yang besar itu apaan, sih, Kak?" Dia menatapku, sepertinya sangat berharap aku melanjutkan kalimat.

"Nanti lo tau sendiri, soalnya peristiwa besar ini gak akan sembunyi-sembunyi."

"Ish, kalau gitu sekalian aja gak usah bilang, nyebelin banget, sih!" Aku hanya tertawa menanggapinya.

"Gue suka liat lo kepo berat, Vi. Poni lo jadi keriting soalnya." Vivian menarik napas kaget, dia menilikkan matanya ke atas, melihat poni kebanggaannya.

"Ish, Kak Rosa!" Dia menghela napas gusar setelahnya.

"Tapi, biar gue kasih clue sedikit, Vi," kataku, tak mau membuatnya mati penasaran, setidaknya sedikit penjelasan.

Mata Vivian menatapku malas, bak takut aku permainkan lagi, tapi sepertinya dia masih ingin tahu sekali.

"Ini soal ayah anak-anak gue, Vi," kataku, tersenyum manis, sedang Vivi melongo, mata belonya membulat sempurna. "Dia bilang dia mau ngurus anak-anak, dan yah gue nerima aja."

"Itu tandanya dia ... mau tanggung jawab dan nikahin elo, Kak?!"

Husbandfree [tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang