5; husbandfree

12.7K 475 26
                                    

"Siapa emang?" tanyaku balik, mengangkat sebelah alis.

"Sini deh ikut, Kak Ros! Sini!" Menghela napas gusar, aku pun berdiri dari dudukku dan menghampirinya.

"Kalau gak penting, gue gunting poni lo," ancamku, dia malah tertawa geli bak anak SMA jatuh cinta. Sikapnya menyebalkan, tetapi di satu sisi aku ingin melihat siapa yang dia maksud. Jujur saja, aku tak akan kaget kalau ada selebgram atau artis tiba-tiba yang ke sini dan review makanan kami, biasanya mereka akan mengabari dahulu di halaman resmi kami tetapi kadang ada yang suka tiba-tiba datang.

Dari sikap Vivian, aku rasa memang orang terkenal yang datang, dia memang suka begini, apalagi kalau berhubungan dengan artis K-pop favoritnya yang lumayan sekali, andai tak jauh sudah aku jadikan calon bibit unggul. Sayang sekali.

Namun, Pak Ajun tak kalah unggul.

Kini, aku mengekori gadis yang lima tahun lebih muda dariku itu keluar, menuju area utama kafetaria kue tradisional ini, kemudian Vivian menunjuk seseorang di meja ujung.

"Tu liat!" Mataku pun menyorot sosok di ujung telunjuk lentik berkuku pink itu, ada seorang pria berjas menyendiri yang tengah menikmati hidangan serta kopi, meski kini fokus bermain ponselnya. Pria berambut cokelat gelap rapi, tubuh tampak amat atletis, dan wajah rupawan berahang tegas itu ....

"Oh, tumben, biasanya suka pesan antar." Aku lumayan kaget, tapi bisa bersikap biasa saja, ketika ayah dari anakku ternyata jadi pelanggan kami. Seorang Arjuna Thomas.

"Makanya, Kak. Tumben banget, kan? Keknya sih karena Oppa Ajun kangen Kakak!" Aku memutar bola mata malas akan ungkapan Vivian, pasti dia kebanyakan menelan fanfiction bucin penuh kehaluan. Pak Ajun mana mungkin rindu, punya emosi saja aku masih ragu, dia ke sini jelas hanya mau makan, bukan bersua dengan sang asisten yang sudah jadi mantan.

Dia pasti punya banyak waktu senggang, jadi tak menutup kemungkinan sesekali ingin pula datang, karena cucur yang selesai dimasak lalu langsung dimakan, memang berbeda dengan yang sudah dikemas lalu diantarkan.

Aku heran dengan pemikiran gadis yang bisa dikatakan matang itu, Vivian bahkan pernah berpikir mencomblangkanku dengan Pak Ajun, asisten pribadi dan bos menjalin kasih, pffftt ... dia terlalu didoktrin dengan ragam karya fiksi.

Terlepas itu semua, tetapi memang sudah sepatutnya Vivian memberitahukanku soal ini, aku menghela napas panjang berikutnya. "Ya udah, lo kasih dia menu spesial ya."

"Kakak gak nyamperin Oppa?" tanyanya, rada geli dengan sebutan oppa-nya. Dasar gadis Kpoper.

"Lo mau poni lo gundul?" ancamku lagi, dan dia langsung menutupi poni yang begitu dipujanya tersebut. "Gak ada urusan gue nemuin dia, Vi. Sana deh urus, gue masih banyak urusan, jangan terlalu banyak halu, dia ke sini sebagai pelanggan, layanin, bukan kangen-kangenan sama mantan bawahan."

Setelah mengatakan itu, aku melengos berbalik, mulai berjalan kembali ke habitatku tadi. "Duh, Kakak, apa salahnya sih nemuin?" Vivian sepertinya menggerutu di belakangku, dan setelahnya aku menghela napas sambil menghentikan langkah.

Memang sih, sepertinya tak ada salahnya aku sedikit menyambut pria itu. Akting kamuflase seakan tak pernah terjadi apa-apa kan poin bagus, toh aku pandai mawas diri agar tak salah tingkah di hadapan pria yang pernah aku perkosa saat tidur. Jika hubungan kami berjalan biasa, tanpa kecurigaan, itu jelas menguntungkan bagiku, ide bagus juga.

"Ya udah, lo siapin menu spesial yang gue bilang, biar gue yang anterin ke Pak Ajun."

Vivian cengengesan. "Siap, Kakak!" Vivian cepat juga kalau soal comblang mencomblang, tetapi dia sepertinya tak tahu jika aku berada di level antara dianggap tak memiliki ketertarikan seksual atau parahnya lesbian karena trauma di masa lalu yang tak aku ceritakan pada siapa pun di dekatku. Pria ada dalam daftar blacklist di catatan pikiranku, termasuk seorang Arjuna Thomas dan lidah tak bertulangnya.

Dia masih duduk di sana menyendiri, bak introvert yang men-charger energi tanpa dikelilingi orang lain selain gawainya.

"Nih, Kakak! Semangat gaet Oppa!" Aku mendelik kala menoleh pada Vivian yang sudah sampai bersama nampan berisi kue-kue spesial yang ada.

"Dih." Aku mendengkus seraya menerima nampan tersebut, tetapi Vivian hanya tertawa pelan sembari membenarkan poninya, kemudian membentuk tanda love atau apalah yang sering dilakukan idol kesukaannya.

Setelah itu, aku berbalik, dan mulai menghampiri Pak Ajun yang sibuk, atau entah sok sibuk, aku memasang senyum terbaikku saat ini hingga sampai di hadapannya yang seakan tak sadar kehadiranku, tetapi segera aku menyerahkan piring dari nampan berisi kue-kue yang dia suka.

"Pak Ajun, selamat sore!" sapaku hangat.

Saat itulah, Pak Ajun mendongak, datar sekali seperti papan catur, tetapi hal itu bagus karena jelas dia tak menyadari apa pun soal kebejatanku padanya. Namun, ditatap begitu, aku agak kesal dan menyampirkan rambut ke belakang telinga.

"Ya, sore, Romansa." Dia menjawabku sok cuek, kemudian matanya menilik apa yang aku bawa, ada siratan bingung di sana. "Sepertinya kamu salah meja."

"Ah, tidak, kok, Pak. Ini buat Bapak, saya traktir." Anggap saja ucapan terima kasih dengan benih yang diberikan. "Terlebih, Bapak kan langganan setia kami, silakan dinikmati, ya, Pak. Soalnya tumben Bapak mampir."

"Oh, thanks, kamu harusnya tak perlu repot-repot menyuguhkan labamu ke saya terlalu sering, saya tak mau disalahkan kalau kamu mengalami kerugian." Dia berujar sok tau, tetapi aku tak mau berkomentar soal itu, hanya memasang senyum manis. Aku mungkin akan menyalahkannya bagian penyakit hipertensi, bukan soal keuntungan tempat ini yang meski tak sebanyak penghasilan perusahaannya, tetapi sangat menguntungkan.

"Gak, kok, Pak. Rezeki sudah ada yang mengatur, saya sema sekali tak rugi, kok. Toh, Bapak dan yang lain sangat baik dan berjasa bagi saya." Itu jawabanku, ucapan baik yang membuatku sedikit mau muntah mengakui kebaikan Pak Ajun yang bahkan cuek bebek soal itu, dia terlihat tak berniat menanggapi pujianku itu, sepertinya aku harus lekas-lekas beranjak sebelum emosiku kacau.

Namun, saat aku siap permisi pergi, Pak Ajun ternyata kembali bersuara.

"Bagaimana kabarmu, Romansa?"

Aku sedikit melongo karena pertanyaan seorang Arjuna Thomas yang dari dulu seakan tak punya simpati empati pada orang sekitar, barusan dia ... tengah bertanya kabarku? Kesambet apa makhluk papan es kutub ini? Kue cucur?

Aku segera menepis wajah bodohku. "Oh, baik, Pak. Bapak sendiri?"

"Ya, baik, perusahaan berjalan lancar meski tak ada kamu." Nyelekit juga, tapi memang benar, kala karyawan keluar, tak banyak perubahan dari perusahaan sebesar Thomas Corp, mereka bisa dengan mudah mencari kandidat baru, menggantikan posisi orang lain, manusia di bawah manusia berkuasa bisa semudah itu dipermainkan.

Makanya, aku juga ingin naik ke sana, bersama anak-anakku nanti, akan aku jamin mereka tak akan menderita semenderita keadaanku terdahulu.

Husbandfree [tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang