40; husbandfree

2.2K 146 12
                                    

"A-aku akan coba ...." Dia kelihatan ragu mengatakannya.

"Aku tahu itu berat, tapi duniamu bukan dia, duniamu ya dirimu sendiri dan orang yang menyayangi kamu. Itu tahapan paling utama, dan bisa dilakukan secara praktik. Learning by doing." Aku menggangguk-angguk, benar benar.

"Learning by doing?"

"Ya, kamu bisa memulai hal kecil, apa kebiasaan kamu pada Victor?"

"Kebiasaan?"

"Misal, menyambutnya tiap pulang kerja, memasak, menyiapkan pakaiannya, atau melayaninya di ranjang." Aku sedikit berbisik sambil tersenyum geli.

"A-aku selalu melakukan itu."

"Mulai sekarang, cobalah cuek bebek padanya, dan fokus ke dirimu sendiri dan Queen saja. Misal, saat dia sarapan, kamu gak bikin dan mengantar anakmu, pakaiannya? Bodoh amatlah. Ranjang? Tolak saja sesekali."

"I-itu ... aku malah takut dia semakin pergi terlalu jauh, Rosa. Bukannya itu malah makin melepaskan dia?"

"Oh, aku belum selesai, selain melakukan itu, kamu selingi melakukan hal lain. Mulailah mendominasi rumah tanggamu, lakukan bela diri, kalahkan dia di ring. Buatlah dia merasa, dialah yang membutuhkan kamu sekarang, bukan sebaliknya."

"Apa, itu hal yang kamu lekukan pada Ajun juga?"

Aku tersenyum. "Setiap pria berbeda, tapi kurang lebih aku memang mendominasi di hubungan kami, karena Ajun itu seorang baby boy. Yah, kalau Victor, aku rasa metode yang cocok adalah menundukkannya di atas heels yang kita pakai secara paksa."

"Dan lagi, kamu harus belajar soal mencintai diri sendiri dan orang yang mencintaimu balik, Melissa. Gak semua orang pantas mendapatkan cinta kamu, cinta kamu itu mahal. Kamu berhak bebas, kalau memang Victor memang pantas dilepas."

"A-aku gak mau berpisah sama dia!" Melissa tampak bersikeras, wajahnya begitu polos sekarang, apa ini sifat aslinya?

"Lama-kelamaan kamu pasti sadar, kok. Apa pun akhirnya nanti, keputusan tetap di tangan kamu. Aku semata-mata cuman bisa ngasih tips ini." Melissa tampak gigit jari berikutnya. "Bukannya kamu Melissa yang ahli dalam bicara angkuh, sarkastik, dan modis kan? Ini bukan kamu banget tau, gak."

"Itu semua ... permintaan Victor."

Sudah aku terka.

"Kalau begitu, biarkan dia mencicipi sifat kamu ini juga, aku yakin kamu gak kalah manipulatif kebanding dia."

Kali ini, Melissa menatapku. "Apa akan berhasil?"

"Menurut hipotesis, delapan puluh persen cukup, asalkan kamu pandai mengatur perasaan."

Dia mengangguk cepat. "Baiklah, aku akan coba."

"Good." Aku tersenyum manis padanya. "Kamu bisa konsultasi langsung samaku di lain waktu, kalau mau."

"Ya, pasti, aku butuh kamu, Rosa." Aku harap aku bisa menyelamatkan rumah tangga mereka, atau setidaknya menyelamatkan Melissa dari rumah tangga toxic itu. Karena akan ada dua kemungkinan jika Melissa melakukan apa yang aku suruh.

Victor akan membucininya balik dan merasa membutuhkan Melissa, karena dari kacamataku Victor menyukai wanita yang agaknya keras dan pembangkang.

Atau ....

Perceraian.

Melissa mungkin akan benar-benar bisa melihat Victor sesungguhnya setelah lama dibutakan cinta, hingga memilih berpisah. Dia wanita cantik yang kelihatan kuat.

Sepertinya aku memang memberikan tips agar cara pikirnya sepertiku, wanita yang tak mau diinjak-injak oleh siapa pun.

Setelah percakapan itu, aku memesan beberapa makanan kecil bersama Melissa dan akhirnya menuju ke tempat Ajun berada.

"Kalian tadi ngomongin apa?" tanya Ajun to the point.

"Aku sudah bilang, Arjuna. Masalah sesama perempuan." Aku menatap Melissa yang bagus sekali menyembunyikan wajah sendunya tadi. Seakan tadi tak pernah terjadi apa-apa. Meski ada sedikit sisa air mata di sana.

"Kamu hamil lagi?" terka Ajun, kami berdua tertawa setelahnya, terlebih wajah bingung pria itu. "Kamu jangan terlalu akrab sama dia, dia pengaruh buruk buat kamu." Ajun berbisik padaku.

"Tenanglah, tak ada apa-apa."

Ajun malah memicingkan mata curiga pada Melissa, aku mencubit dada bidangnya gemas. Dadanya terasa semakin kencang saja, latihannya intens sekali, tetapi syukur saja masih bisa dicubiti begini.

"Uh, jangan begitu, ini di umum." Dia menatapku dengan tatapan polos itu.

"Kalau begitu, sepertinya kami harus duluan. Aku pergi, Arjuna, Rosa. Dan terima  kasih untuk yang tadi." Senyum Melissa kelihatan tulus. "Queen, ayo."

"Yah, Mommy ...." Queen seperti biasa, tak mau lepas dari adik-adik sepupu kecilnya.

Namun, akhirnya mereka pergi, meninggalkan aku dan Ajun sekeluarga.

"Kalian ngomongin apa sih? Setabu apa sampe aku gak boleh tau?" tanya Ajun, dia ternyata masih penasaran. Apa penasaran setengah mati?

"Ya, memang tabu, tapi kamu enggak usah khawatir. Bukan hal buruk, kok."

Ajun menghela napas. "Baiklah ... apa pun itu, sepertinya aku akan liat sendiri nantinya."

Benar, memang akan begitu. Aku penasaran akan akhir kisah cinta Melissa dan Victor nanti walau sudah membayangkan dua kemungkinan pasti di kepala.

Kami pun kembali bersenang-senang bersama anak-anak, hingga akhirnya pulang. Melakukan aktivitas seperti biasa dan malamnya ....

"Enggak, enggak, jangan rasa mint," kataku, menahan Ajun memakaikan itu ke perkasaannya. "Aku gak suka, rasanya dingin aneh."

"Kalau begitu cokelat? Susu? Atau ... oh, lemon?"

Aku menghela napas, kadang aku heran dan bertanya-tanya kenapa benda itu, penahan agar milik pria tak menguar ke sana kemari, beragam rasa bak permen karet, meski sekilas bentuknya serupa bahkan kotaknya juga mirip. Beberapa anak kecil mungkin tak sengaja membeli ini berpikir itu permen.

"Rasa dragon fruit, buah naga, hm ...." Aku menatap Ajun yang mengangkat kotak merah ranum di tangannya dengan tatapan bingung.

"Oh, buah naga." Kurasa tak seburuk itu. Setidaknya jangan mint yang membuat mulut bawah sana semriwing tak nyaman.

Dia lekas menyobek kotak dan mengambil satu, pun memakainya dengan cepat sebelum akhirnya menghampiri. Berbaring di sampingku dan membiarkanku duduk di atasnya. Aku mengenakan ikat rambutku kemudian.

"Kenapa, lebih enak tergerai."

"Begitukah?" Aku tersenyum jail dan dia tersenyum malu-malu. "Kalau gitu, kamu aja yang makai, sekalian sama ini." Aku kembali melepaskan ikan rambut, dan menggulungnya bersama celana dalam, sebelum akhirnya menyumpalkan ke mulut Ajun. Dia hanya tertawa dan tak terlihat jijik.

"Omong-omong, badan kamu semakin ...." Aku menggoyangkan kedua dada bidangnya, naik turun, seperti roti tapi terlalu alot. "Kamu memperkeras pelatihan kamu di gym?"

Ajun mengangguk, dia kelihatan menahan napas kala aku mulai mempermainkan badannya, dan dia tertawa kala aku menggelitiki ketiak pria itu.

Lalu, dia tampak berbicara.

"Ha?" Aku tak tahu, hanya gumaman yang terdengar.

Dia kembali berbicara, tapi jelas percuma, dari balik mulut tersumpal itu hanya gumaman terdengar. Mau tak mau, aku melepaskannya.

"Aku mau jagain kamu." Oh, hanya itu alasannya. Kalau itu, sih, sering aku dengar.

Siap menyumpal, aku tertahan oleh kalimatnya berikutnya. "Dan aku mau sebenernya, kamu lebih ekstrem melakukan ... itu."

"Ekstrem?"

"Kamu pasti tau aku cepet lemes di ranjang, aku mau lebih kuat biar menahan itu semua, aku ... aku mau kamu lebih ekstrem mainin aku, Rosa. Aku mau kamu ... mempermainkanku di sini. Aku candu dengan itu, Sayang ...."

Husbandfree [tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang