Dalam beberapa hari, aku sudah banyak melakukan perubahan untuk kedai kue tradisionalku. Lima cabang sudah dibuat, dan beberapa lokasi sudah ditandai, dan karena bangunan tak langsung jadi dalam sehari maka mau tak mau aku memakai kedai mini selayaknya aku dan ibu di masa lalu guna menandainya seraya pelan-pelan mengembangkan itu. Dengan uang ternyata segala proses bisa lebih cepat, uang memang seperti segalanya. Bahkan aku tak perlu sangat kerepotan dalam itu semua--aku masih bisa menjadi ibu dan bahkan istri yang baik ternyata.
Persaingan antara aku dan Victor, sepertinya tak terasa persaingan, karena dari kasat mata--Victor kalah banyak. Aku punya branding cukup bagus, sementara dia yang baru terjun sepertinya kelimpungan. Entahlah, aku tak mau menyombongkan diri berlebihan, bisa saja aku malah lengah dan membuat celah.
Dengan itu, tak akan aku biarkan ada celah di sana.
Aku dibuat senyum, kalau begini sih akan mudah bagiku balik modal, karena jujur saja meski katanya diberi, aku tetap menganggap ini hutang sajalah. Aku tak mau dia merasa berjasa sudah menciptakan sebuah sabung kekayaan ini.
Hari-hariku berjalan cukup baik, sempat ada penyesalan aku punya mertua serta ipar agak menyebalkan, tetapi karena mereka jarang ke sini rasanya bebas. Ajun juga amat sangat penurut, anak-anak terus berada di bawah pengawasan, Sarah dan Tyona belum berkunjung dan Vivian juga masih agak sibuk karena aku meletakkan banyak hal di pundaknya. Inikah hidup yang aku inginkan?
Mungkin saja ....
"Nyonya, Tuan Victor datang berkunjung," kata seorang pelayan, aku mengangguk mendengarnya.
Ini kali pertama setelah terakhir kali dia datang. "Suruh aja dia masuk." Aku tidak takut karena dalam penjagaan super ketat. Toh, memang dia bisa melakukan apa.
Tak lama, pria itu datang, dan aku terkejut ternyata dia membawa anak perempuannya bersamanya. "Dedek!" kata Queen, itu nama anak Victor, dia tak seperti ayah ibunya, kelihatan hangat dan manis.
Dan Ajun bilang, dia lebih sering dirawat pengasuh kebanding orang tuanya, yah masuk akal.
"Halo, Tante, aku main sama Dedek, ya," izinnya begitu sopan.
"Iya, Sayang. Sini."
Dan berikutnya, aku menatap sang ayah yang terlihat masih diam, tetapi ada senyuman di sana. Kami pun sedikit berjalan menjauh dari anak-anak yang aku minta dijaga oleh babysitter-ku, karena aku rasa kami akan bicara empat mata tentang hal orang dewasa.
"Jadi ... kamu benar-benar melebarkan sayap?" tanyanya, seakan tanpa basa-basi di awal. Pun duduk di sampingku membelakangi anaknya. "Apa kamu merasa tersaingi?"
"Lebih ke arah, saya tau kamu udah ngambil lokasi strategis yang udah lama saya tandai, ya saya gak akan tinggal diam. Mumpung saya udah punya modal lebih dari cukup, kan?" Aku tersenyum manis padanya.
Dia tertawa. "Yah, aku mengerti, aku mengerti. Lagipula, aku kalah telak dibandingkan kalian. Keluarga Thomas. Kalian bisa melakukan apa pun."
Mendengarnya, aku menaikkan sebelah alis. Dia kelihatan emosi, meski tetap tersenyum, kelihatan pahit.
"Apa kamu sudah sadar posisi kamu?" tanyaku tersenyum angkuh, sedikit menyombongkan diri.
"Yah, dari dulu, aku kira mereka akan mengubah pikiran memberikan perusahaan ke tanganku, nyatanya aku hanya berandai-andai. Aku bukan seorang Thomas, dan akan seterusnya begitu. Aku hanya bayangan seorang Arjuna Thomas."
Senyumku sedikit memudar, dia membuatku sedikit merasa bersalah sekarang. Kasihan juga nasibnya, tetapi kan itu kelakuannya sendiri.
"Ya kalau kamu gak mau dikatai bayangan Ajun, memulainya dengan membuat usaha sendiri ... itu cukup bagus." Aku menggedikan bahu, walau agak miris karena kesannya dia ingin menyaingiku. Bukan bayangan Ajun, malah jadi bayanganku.
"Aku sudah mulai, dan aku terinspirasi dari seseorang yang menamparku dengan kata-katanya, sekaligus dengan tangannya, sih." Aku menatapnya dengan pandangan bingung. "Itu pun kalau kamu bukan menganggapnya persaingan."
"Oh, terinspirasi."
"Ya, kamu benar-benar mengubah pandanganku, Rosa. Kamu memang wanita unik yang berbeda. Arjuna yang penakut bahkan jadi macan menakutkan di singgasananya."
"Kalau soal macan itu, Ajun sudah membentuk kepribadiannya dari lama, cuma dia akan jadi kucing--dulu--karena gampang terdoktrin kata-kata. Dia pria yang lumayan lembek, tapi gampang disemangati." Aku menghela napas panjang. "Dan kamu ternyata gak berbeda jauh."
Dia tertawa geli. "Kamu tidak keliru. Dan ... maksudku ke sini, bukan mengibarkan bendera perang, aku memakai bendera putih sekarang, karena aku tau aku ini awam dalam bisnis begitu. Niatku, sepertinya menguntungkanmu dan aku juga--"
"Kerjasama? Kamu mau kita kerjasama?" tanyaku, memutus penuturannya yang berbelit-belit.
"Yah ... begitulah. Bagaimana menurutmu?" Memperluas relasi memang hal bagus, dan memperbanyak menu pun demikian, beberapa lokasi juga sudah dijinakkan pria ini. Namun, kerjasama dengan pria ini tak ada pengaruh apa pun sekarang untukku ....
"Oke, oke, aku ralat. Aku perlu bantuan kamu, untuk menghilangkan bayangan Ajun dariku, oke? Aku ingin berubah jadi sepupu yang baik, sungguh." Aku menatapnya dengan teliti. "Tak perlu mempercayai aku seratus persen, aku mengerti aku seorang yang berengsek."
"Saya tidak pernah percaya seseorang seratus persen, jadi tak usah dikatakan."
"Trust issues?"
"Lebih ke arah, self defense." Aku tersenyum kecil padanya. "Jadi ... minta bantuan ya?"
"Yah, pria yang awam dalam bisnis sepertimu ini, perlu bantuan. Aku juga mau jadi wirausahawan. Bukan menjadi Arjuna Thomas two point o."
"Apa keuntungannya bagi saya?" Menyenangkan juga bermain-main dengan pria ini.
"Apa saja yang kamu mau, aku tak tahu harus memberikan apa, karena aku yakin Arjuna sudah memberikan semuanya." Matanya tertuju ke Queen kecil yang begitu senang bermain dengan ketiga anak kembarku. Tatapan itu terlihat sendu.
"Katakan, alasan bagus lain kenapa saya harus membantumu," kataku, dan dia menatapku kali ini.
Masih dengan wajah sendunya.
"Aku seorang ayah, dan aku gak mau putriku juga ... seperti ayah ataupun ibunya. Dia pantas mendapatkan keinginannya sendiri. Jadi bayangan itu memang menyebalkan."
"Baiklah, saya akan membantu, tapi ini bukan demi dirimu ...." Aku menatap Queen. "Itu untuk keponakan saya."
"Terima kasih, Rosa."
"Dan sebaiknya kamu gak menghancurkan kepercayaan saya, Victor."
"Yah, aku bisa saja menusukmu dari belakang, tapi kamu bisa mendorongku ke jurang sekarang." Ternyata punya power membuatku bisa semenyebalkan ini, apa ini yang dirasakan banyak orang berkemampuan kadang?
"Kalau begitu--"
"Rosa!" pekik seseorang, aku menoleh karena mengenali suaranya, dan ternyata itu Arjuna, suami polosku.
Dia langsung berlari begitu saja, bahkan tanpa babibu melayangkan bogem mentah. Untungnya, anak-anak tak melihat itu. Ajun kelihatan amat emosi melihat keberadaan Victor yang kasihan sekali, sampai tersungkur keras ke lantai, akhir-akhir ini Ajun sering latihan gym dan melakukan boxing di rumah jadi ... aku baru sadar tubuhnya semakin berisi saja.
"Kenapa pria ini bisa masuk ke sini? Rosa, Sayang, kamu gak papa kan?" tanya Ajun, khawatir. "Anak-anak mana? Kamu gak papa kan?" Dia memelukku posesif, menatap sekitaran.
"Ajun, jangan begitu, astaga. Ada anak-anak di sana dan anak Victor. Dia tak melakukan apa pun, kok." Aku memberikan pengertian, dan Ajun menatapku bingung.
Aku menyuruhnya melirik ke Victor saat ini. "Yah, aku pantas mendapatkannya." Victor kelihatan pasrah sambil mengusap pipi.
Kasihan, tapi dia tak keliru, memang pantas.

KAMU SEDANG MEMBACA
Husbandfree [tamat]
Romance[21+] Nekat dan TOLOL Adalah hal yang bisa disematkan pada Romansa Nugraha, wanita 27 tahun, seorang asisten pribadi yang di luar kalem, nyatanya di dalam rada gila. Bagaimana tidak? Dirinya bukan penganut childfree, melainkan husbandfree--menurutny...