Ajun memang bertahan lebih kuat dari sebelum-sebelumnya, tetapi mungkin karena aku terlalu kuat, dia masih kalah imbang. Padahal, olahraga yang aku lakukan jelas tak seekstrem dirinya, apalagi setelah melahirkan aku mangkir cukup lama karena proses penyembuhan selepas sesar. Aku kembali menciumi pipi suamiku yang kini terlelap dengan gemas.
Kalau dilihat-lihat, dia memang sebesar gorila, kebanding beruang kutub sekarang. Gorila albino mungkin.
Sebenarnya, kalau latihan ekstrem begini, sih. Ada kemungkinan dia bisa lebih cepat lelah karena tenaganya ke arah gym tersebut. Mungkin aku harus memintanya meringankan intesitas latihan itu.
"Nggh ...." Ajun tiba-tiba melenguh, aku menoel lembut pipinya.
"Hey, what's up?" bisikku lembut.
"Mau nenen ...." Ajun merengek tanpa membuka mata, aku tersenyum geli seraya memasukkan dua jari ke mulutnya, tak mungkin aku bisa membuatnya langsung menyesap ke sumber milik anak-anak. Membiarkan pria itu mengedot bak bayi.
Bayi besar nan imut.
"Ajun, sebaiknya kamu olahraga yang ringan-ringan aja, benar sih fisik kamu kelihatan kuat sekarang, tapi kamu juga bakalan cepet capek kalau tenaganya dipake buat memperbesar badan begini," nasihatku, dan berikutnya mata memejam itu terbuka menatap. "Oke?"
Ajun mengangguk tanpa melepaskan kenyutannya, manisnya
Malam pun berlalu, kegiatanku seperti biasa bersama Ajun di pagi itu, tetapi kali ini ada yang berbeda.
"Kamu hati-hati, ya, Sayang. Kalau ada apa-apa, telepon aku." Ajun mengingatkan, dia menciumku sekilas.
"Iya, iya." Setelah cipika cipiki dengan anak-anak, pria itu pun pergi.
Setelahnya, aku pun juga pergi bersama anak-anak dan bibi. Sebenarnya Ajun sempat ingin mengantarkanku, tetapi mengetahui lokasi beda jauh dan dia harus tepat waktu bekerja, aku bernegosiasi dengannya dan memilih diantarkan sopir. Ke tempat, di mana toko kue tradisionalku berada. Sudah lumayan lama aku tak berkunjung, tak banyak perubahan, dan aku serta anak-anak disambut Vivian hangat.
Kami pun memasuki ruanganku.
"Lama gak ke sini, Kak! Gue kangen banget sama lo dan anak-anak!" Vivian terlihat amat antusias. "Gimana kabar kalian? Ajun?"
"Yah, as you can see ... we're good." Vivian si poni unyu itu cengengesan, dia mengambil Yoga dari pelukan babysitter-nya, dan begitu gemas.
"Kangen Aunty, gak? Kangen dong, ya! Ya? Iiih, lucunya, adududuh ini ada giginya ya? Giginya mau tumbuh? Utututu lucunya." Pasti Vivian sangat rindu mengubek-ubek anak-anak. "Oh, ya, Kak. Hari ini kita kedatangan seseorang yang lo bilang itu, kan? Siapa, sih?"
Oh, benar, topik utama hari ini.
"Nanti dia dateng, lo sambut aja kek tamu. Dia ... orang yang lumayan penting." Walau tak penting bagiku, sih. Setidaknya berkepentingan. Siapa lagi kalau bukan Victor yang memohon ingin kerjasama.
"Ih, siapa sih? Cogan ya?" Aku mendengkus pelan tak menjawab, biarlah Vivian kepo, toh dia juga akan ter-distracted dengan keimutan tiga pangeranku.
Kami pun menunggu ....
"Kak, dia sebenernya jam berapa dateng sih? Kok belum dateng juga?" tanya Vivian, heran, aku pun heran.
Jam di ponsel menunjukkan pukul 8 lewat, padahal kami sudah janjian jam 8 tepat. Dia telat. Apa Victor nyasar? Tak mungkin, sih. Dia harusnya tahu lokasi ini dengan baik.
"Vi, lo jagain anak gue oke? Gue keluar bentar." Aku pun keluar ruangan menuju depan, melangkah ke parkiran, mungkin ada mobil Victor di sana yang aku ingat, abu-abu.
Namun, tak ada mobil itu sama sekali, apa bukan mobilnya.
Siap beranjak, aku dihentikan oleh mobil yang akhirnya datang. Abu-abu. Ada klakson yang terdengar dan aku rasa, itulah orangnya. Mobil tersebut memakirkan diri ke salah satu spot yang ada di sana, pun pengemudinya keluar, tetapi aku terkejut dengan yang aku lihat.
Victor ... lho?
Victor kini memakai jas yang kelihatan butek, seakan tak disetrika. Dia pun mengeratkan dasinya yang seakan dipasang seadanya lalu sedikit disembunyikan di balik kerah. Sayang, dasinya kelihatan terlalu pendek. Keluar dari mobil, rambutnya yang biasa rapi agak urakan, dan sepatu serta kausnya ....
Aku mau tertawa tapi menahan diri, dan Victor tampak sadar jika warna sepatu serta kausnya berbeda satu sama lain. Dan celananya, dia menurunkan lipatan agar semua itu tersamarkan.
Oke, oke, tampaknya ada sesuatu ... yang entah kenapa aku tahu penyebabnya.
Pembangkangan sang istri babu penurut.
Victor tampak kewalahan sebelum akhirnya menghampiriku, dia memicingkan mata. "Eh, Romansa."
Tunggu, dia tak mengenaliku? Sedari tadi aku berdiri di sini, dan tak sadar itu aku? Dari sorot matanya, apa dia juga minus? Sepertinya demikian. Dia mungkin tak memakai soft lens sekarang.
"Ah, sialan ...." Victor mengusap wajah frustrasi.
"Victor, ada apa denganmu? Kamu kelihatan sangat berantakan." Victor mendengkus pelan, dia mengeluarkan sesuatu dari saku, kacamata, kemudian memakainya. Sebenarnya ini pertanyaan retoris, tapi aku suka bagian di mana Melissa cukup baik di hari pertamanya. "Kamu telat beberapa menit juga."
"Maaf, aku ... yah, sedikit ada masalah." Helaan napas terdengar. "Apa kamu bisa memasang dasi dan membantuku dengan ini?"
"Sudahlah, tak apa, saya kan ipar kamu jadi informal juga gak papa." Ini penolakan paling halus, ogah membantunya, biarlah dia kelihatan kek gembel.
"Tunggu, tapi--"
"Cepatlah, kamu telat, saya ini sibuk!" Aku melenggang pergi meninggalkannya dengan senyum tak lepas, sedikit melirik tampak Victor membungkuk lesu.
Mampus.
Saat masuk ke ruanganku, Vivian menyambut hangat, tetapi saat melihat ke belakang, dan aku ikut menoleh--tatapan Vivian yang tertuju pada Victor tampak melongo.
"Ganteng-ganteng kek gembel ...." Vivian berbisik pelan.
"Vi, abaikan itu," tegurku pelan. "Vivian, ini Victor, orang yang akan kerjasama dengan bisnis kita, sekaligus sepupu Arjuna Thomas. Dan Victor, ini Vivian, tangan kanan sekaligus adik angkat saya."
Keduanya pun bersalaman sebentar, Victor terlihat sangat malu.
"Oh, sepupu Oppa Ajun, pantes ganteng meski gak mirip, sih. Cuman, kok penampilan dia begini, sih?" Vivian berbisik padaku lagi.
"Biasalah, masalah rumtang, jangan urus."
"Yah, sayang banget udah ada yang punya. Padahal gue pengen sulap gembel jadi ganteng, Kak." Aku memutar bola mata malas.
"Jadi, Victor. Duduklah. Kita bicarakan semuanya." Aku mempersilakan Victor duduk, Victor duduk dan kelihatan tak nyaman, selalu saja membenarkan dasinya.
"Maaf sebelumnya, tapi, apa kamu bisa memasang dasi?" tanya Victor pada Vivian.
Vivian menggeleng. "Maaf, saya gak pernah kerja kantoran, paling cuman pake dasi kupu-kupu. Kak Ros bisa."
Aku sedikit mendelik akan ucapan Vivian. "Udahlah, gak papa kok begitu, kan gak informal. Cepat, oke? Saya sibuk."
Aku mau lihat sejauh apa pria ini bisa bertahan tanpa istri super penurutnya yang mulai membangkang. Akan menyenangkan jika mendengar dari Melissa langsung. Lihatlah, dia ternyata hanya pria dekil yang tak bisa apa-apa, lucu sekali.

KAMU SEDANG MEMBACA
Husbandfree [tamat]
Romance[21+] Nekat dan TOLOL Adalah hal yang bisa disematkan pada Romansa Nugraha, wanita 27 tahun, seorang asisten pribadi yang di luar kalem, nyatanya di dalam rada gila. Bagaimana tidak? Dirinya bukan penganut childfree, melainkan husbandfree--menurutny...