13; husbandfree

6.8K 399 9
                                    

Vivian sudah pergi usai puas bermain dengan trio kembarku, tangisan tadi nyatanya karena mereka ingin asupan, selain aku beri susu mereka juga makan bubur khusus bayi, serta kue yang segera dibuatkan oleh Vivian sendiri kala tahu putra-putraku lapar. Dia memang aunty yang pengertian meski agak menyebalkan karena kadang tak bisa mengontrol rasa gemasnya.

Setelahnya, aku makan siang, dan memutuskan tidur mengisi tenaga untuk lusa nanti. Syukur saja, para pangeranku ikut terlelap bersama, setidaknya beberapa jam tenang sampai mereka bangun dan bermain lagi.

Lalu, malam harinya, usai selesai makan malam dan bermain untuk beberapa saat bersama trio jagoanku, ketukan di pintu terdengar.

Bibi membukakan pintu, dan siapa sangka nyatanya dua karibku semasa bekerja sebagai babu Pak Ajun datang, aku langsung berdesis saat kehadiran mereka yang pasti akan begitu heboh, apalagi melihat tiga bayi tampan itu. Aku tak mau mereka kaget atau menangis, akan susah menidurkan kalau sampai demikian.

Sarah dan Tyona mengangguk paham, mereka pun duduk di samping kiri dan kanan, gemas dengan putra-putraku, dan baru aku sadari mereka ternyata membawa banyak sekali bingkisan, yang mereka letakkan ke atas sofa di belakang kami.

Dalam diam, mereka memelukku. "Kangen banget kami sama lo, Ros!"

Aku tertawa akan ungkapan Tyona, aku balik memeluk mereka.

"Setahun gak ada kabar, ngeri tau." Sarah menimpali, aku hanya tertawa.

"Udah udah, maaf ya gue pergi gitu aja, gue kepaksa demi kesehatan mental gue sebagai calon ibu." Kemudian, mataku tertuju pada si kembar.

"Aaaa bibit unggul banget, sih. Mukanya unch mirip banget ya satu sama lain, ganteng bangeeet. Sini, Sayang, sini sama Tante!" Sarah berusaha menggedong Yuda, tetapi segera aku tepis.

"Steril!"

"Oh, iya iya lupa." Sarah cengengesan, dia dan Tyona pun mulai membersihkan tangan masing-masing. Kembali, Sarah siap menggendong Yuda, tetapi sayangnya putraku itu merengek kala ingin diangkat. "Eh, aduh, sakit ya? Ini gimana cara gendong bayi, sih?"

"Yuda emang gak suka diangkat sama orang asing, kenalan dulu aja pelan-pelan. Pangku dia." Aku menggendong Yasa dan meletakkannya ke paha Tyona.

"Eh eh ini gak papa kan? Kudu dipegang ya? Aaah gue takut dia jatoh, pantatnya gak sakit kan?" Aku tertawa karena Tyona ternyata lumayan panik, dan aku sadari sepertinya wajahnya sedari tadi tak nyaman dan agak takut. Namun, Yasa terlihat diam seraya menyemili kue di tangannya.

"Santai aja, rileks."

"Ja-jangan deh, angkat aja ini, gue takut nanti kenapa-kenapa, angkat Ros!" kata Tyona, aku kaget karena reaksinya mengkhawatirkan, jadi segera aku gendong Yasa. Tyona menghela napas lega.

"Lo jangan gitu, Tyo. Nanti gimana ngendong anak lo di masa depan?" ucap Sarah tertawa, kini Yoga ada di pangkuannya.

"Gue khawatir, gimana kalau tu baby kenapa-kenapa, ish gue takut tau! Lo sendiri juga gak pernah gendong bayi sok-sokan gendong, nanti anak orang kecengklak!" Tampaknya Tyona takut sekali melukai bayiku, lucunya temanku satu ini.

"Udah, udah. Kalau gak bisa, ya belajar aja, toh naluri seorang Ibu nanti bakalan bikin kalian ahli, kok." Aku terkikik geli. "Barengi ilmu parenting aja," timpalku lagi.

"Tuh, denger, liat ini ... ini siapa, Ros? Susah banget bedain keknya, mirip ih." Aku menghela napas, sepertinya memang harus selalu dijelaskan cara membedakan Yoga, Yuda, dan Yasa dari rambutnya kepada semua orang.

"Iya, imutnya, mirip banget juga satu sama lain," tambah Tyona, dia bahkan takut-takut memegang pipi Yuda, seakan-akan takut melukai.

"Itu Yoga, yang ini Yuda, dan ini Yasa." Aku menunjuk satu-satu putraku.

"Maaaa maaa!"

"Ih, pinter banget manggil mama, sih." Aku tersenyum akan pujian Sarah pada anak-anak yang sedari tadi memang mengoceh lucu.

"Kok bisa lo bedain, muka mereka mirip banget lho," kata Tyona heran.

"Dia kan ibunya, gimana sih?" Sarah mulai bermain dengan Yoga di pangkuannya. "Tante, coba sebut Tan-te."

"Yah, dari rambut mereka udah beda, Yasa agak terang, Yuda sama Yoga gelap, cuman Yoga agak tipis."

"Oh iya iya, I see ... eeeeh udah bisa berdiri kyaaa!" Sarah heboh sekali, tapi memang menyenangkan melihat perkembangan para anak-anak. "Jadi pengen deh punya bayi."

"Yeee, punya suami dulu." Jawaban Tyona entah kenapa seakan terjeda. "Eh iyaya, bisa program gitu kan ya?"

"Baiknya kalian punya suami yang baik dulu, gitu, jangan kek gue. Gue parah." Aku mengakui kesalahanku dan sejenak mereka terdiam. "Udahlah, jangan sedih-sedih lagi, mending kalian bantuin gue nidurin si kembar. Udah waktunya tidur."

"Yaaah, tapi kan gue masih pengen main sama mereka." Sarah cemberut.

"Salah lo sendiri dateng pas malem begini."

"Iya, Sarah maksa, soalnya dia pengen liat anak-anak lo, padahal besok kan bisa."

"Besok gue gak bisa, gue mau full rest, soalnya Minggu kan ada acara." Sarah terlihat semakin sedih. "Gak usah cemberut, gue sama anak-anak gak ke mana-mana, dateng aja kalau ada waktu, kan masih ada hari lan."

"Iya, deh iya."

Setelahnya, kami pun menidurkan tiga pangeranku itu, Sarah beradaptasi dengan baik, meski Tyona masih agak takut-takut melakukannya. Cukup lama berusaha, akhirnya mereka bertiga tidur nyenyak.

Kini, aku dan ketiga sobatku keluar kamar, dan menuju meja tamu lagi.

"Mau minum apa?" tawarku kala kami sama-sama duduk di sofa.

"Apa aja deh, yang anget-anget," jawab Tyona.

"Oke, deh." Aku memanggil bibi, tak lama wanita itu datang dan segera berpesan padanya, dia mengangguk dan pergi. "Oh ya, ampe lupa, kalian bawa apaan nih? Banyak banget." Aku membuka bingkisan itu, oh ternyata perlengkapan bayi.

"Oh, itu gak cuman dari kami, tapi ada yang titipan dari temen sekantor juga yang katanya hari Minggu belum tentu bisa dateng." Aku mengangguk paham. "Oh ya, termasuk punya Pak Ajun juga lho, kaget gue dia ikut nitip barang."

"Aduh, Pak Ajun lagi, pagi tadi juga dia barusan TF uang ke gue, banyak banget pula ngasihnya," kataku jujur. "Dan sekarang dikasih lagi."

"Keknya itu tanda-tanda sih, Sis." Aku mengerutkan kening menatap Tyona dan Sarah bergantian, wajah mereka tampak serius.

Mereka tak seperti Vivian, jadi aku rasa bukan karena kehaluannya.

"Tanda-tanda apaan?"

"Dia pengen nyogok elo, jadi asisten pribadi dia lagi, lo tau kan si bos julid itu udah gonta-ganti asisten kayak ganti tisu abis ingus dibuang, dan sekarang tu posisi kosong. Ketahuan sih gak ada yang mau meski gaji sekarang nambah dua kali lipat." Sarah menjelaskan panjang lebar.

Mataku melotot. "Gila, serius?!" Satu kali lipat saja sudah besar, tambah dua kali, tapi siapa yang tahan?!

"Iyalah, cuman dia pasti terlalu angkuh ngakuin dia butuh elo, orang gila emang. Gue pengen sih jadi asisten pribadi dia, cuman risikonya aduh, emang dia sejulid itu ya ampe gak ada yang tahan?"

Aku menggedikan bahu, semua pengalaman tiga tahun sudah aku katakan pada mereka, jika saja aku bukan manusia yang pernah mengalami masa-masa abusif lebih parah, mungkin aku sudah gila.

Atau mungkin, karena aku dari awal sudah gila, makanya tak ada efek pasti saat bekerja dengannya. Iya, sih, aku rasa aku memang sudah segila itu dengan segala perbuatan busukku.

Husbandfree [tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang