♡31

398 61 15
                                        

☆☆


Tiga minggu berlalu.

Dan disaat waktu kunjung telah habis, Taemi selalu memeluk kekasihnya lama. Selalu seperti itu sebelum dia dibawa ke ruang sel kembali.

Dalam pelukan, Juni pun sering tidak bisa menahan matanya untuk tidak basah.

"Hati-hati di jalan ya, sayang.." ucap Taemi seusai mengecup hangat kening Juni.

Bibir Juni tersenyum manis.
"Iya.. Kamu juga jaga kesehatan ya.."

"Pasti.. Aku balik dulu, ya.."

Juni mengangguk. "Huum."
Walau sebenarnya selalu tidak rela.

Semenjak kekasihnya ditahan, aktifitas Juni menjadi lebih mandiri meski sedang hamil. Dia lakukan semua sendirian.
Setelah mengunjungi Taemi, dia pergi ke minimarket dengan menaiki taksi online. Karena tidak mungkin jika dia harus meminta Arya menjemputnya pulang pergi.

Sesampai di minimarket, dia berjalan mengambil keranjang. Melangkah menuju etalase bahan-bahan dapur, dan masih ada beberapa barang lain yang harus dia beli. Tetapi, perutnya mulai terasa kurang nyaman. Dia elus-elus perut buncitnya.
"Hhuft. Ada apa sayang?" bisiknya pada dedek bayi.
"Sabar, ya.. bunda belanja dulu. Kamu temenin bunda belanja.."
Dia menghela nafas sejenak.
"Semangat Juni.."

Bumbu-bumbu masak, susu ibu hamil, tisu dapur, tisu wajah, sabun mandi, yogurt, telah berada di keranjang belanja. Ketika hendak memilih roti, terdengar suara seorang perempuan menyapanya dari samping. Juni menoleh, menemukan sosok perempuan bermata kecil namun tajam, berambut pendek, ber-hoodie warna putih itu menatapnya dari jarak satu setengah meter.

"Iya?"

"Kamu Juni kan?" tanya perempuan muda itu.

"Betul, kak. Mmm..."
Juni berpikir karena dirasa sepertinya dia pernah bertemu orang ini.

Perempuan itu tersenyum kecil. "Aku Seli. Temannya Taemi."

Mulut Juni terbuka membentuk bulat.
"Ohhh.. iya, aku ingat sekarang. Maaf, kak.."

"Gak apa-apa..
Taemi gak ikut kamu belanja?"

Juni tersenyum hampa.

Melihat itu, membuat Seli bertanya, "Gimana kabar kalian berdua?"

"Sekitar tiga minggu yang lalu.. terjadi sesuatu yang menyebabkan Taemi.. Taemi...."
Juni berusaha menahan bibir yang bergetar. Tapi tetap saja matanya berkaca-kaca. Wajahnya turun menunduk.
"Hm.. Taemi ditahan di sel."

Terkejut bukan main. Seli terdiam bersama rasa kaget. Terlebih lagi ketika menyadari keadaan Juni yang terlihat jelas tengah mengandung.
Dia turut bersimpati.

"Aakh!"
Tiba-tiba Juni merasa perutnya sakit.

Segera Seli bantu menahan tubuh dan keranjang belanjaan Juni.
"Eh! Kamu kenapa?"





Bunyi air mengalir dari teko kaca terdengar di dapur rumah Taemi dan Juni. Seli menuangkan air minum ke sebuah gelas tinggi.
Sekarang, Juni duduk di kursi makan dan menerima air minum dari Seli.
"Terimakasih. Maaf kak.. jadi malah merepotkan tamu."

"Gak apa-apa. Minum dulu.."

Juni menurut.

"Sekarang perut kamu udah kerasa baikan?"

"Sudah, kak.."

Dengan nikmat Seli seruput kopi botol kemasan yang dibeli nya tadi.
"O ya, apa kamu dan Taemi belum terpikir pakai pengacara?"

Iya. Sebelumnya Juni sudah menceritakan masalah keluarga Taemi.

"Sudah kak.. Tapi aku belum nemu yang ku rasa pas. Masih cari lagi."
Bibirnya tampak merengut.

[New] Persona Non Grata [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang