♡35

421 70 15
                                        

☆☆

Perempuan bernama Dini itu abai, karena amarah nya sedang tertuju pada Juni, yang melihatnya kebingungan.
"Udah hamil pun lo masih godain pacar orang? Cewek murahan!"

Juni terhenyak. Syok.
Kemudian dia harus terkejut ketika Dini tiba-tiba sudah mendorong bahu nya, hingga dia sempat terhuyung ke belakang.

Segera Seli tarik tangan pacarnya.
"Dini!"

"Diem lo!" bentak Dini. Dan kembali memandang Juni dengan amarah.
"Pantes pacar lo gak tanggung ceweknya hamil! Gak tau diri!"

Seli hampir hilang kewarasan. Terlebih lagi melihat wajah menyedihkan Juni yang pasti terluka oleh sikap Dini.
"Udah, Din..! Stop!"

"Lo mau belain cewek sok cantik ini? Hah?"

"Gak gitu..Tap-"

Dini tepis tangan Seli.
"Halah!
Sekarang lo pilih! Gue? Atau cewek jablay ini?"

Juni tersentak setiap kali mendengar ucapan buruk Dini untuk dirinya. Dia usap perut buncit nya bersama air mata yang keluar.
'Ya Tuhan.. Cobaan apa lagi ini..?'

"Jangan sembarangan, Din! Ayo, pulang!" ujar Seli memohon dan berusaha menggenggam tangan Dini.

Dini kembali menatap Juni.
"Kalo lo berani macam-macam sama pacar gue lagi, awas lo!"

Hanya diam dan berurai air mata. Juni sudah merasa sangat lelah dan sakit hati, jadi tidak mau harus lebih lelah lagi hanya untuk beradu mulut dengan perempuan itu. Yang kini telah diseret pergi oleh Seli.









Menjelang pukul dua belas siang, Juni sudah berada di rumahnya kembali, pulang sendiri dengan taksi online. Menatap kosong pada kotak makanan di atasa meja yang diberikan Seli tadi pagi. Kakinya berjalan pelan menuju ruang makan.

Disana, dia membayangkan, andai saja saat ini ada Taemi yang memeluknya, menenangkannya, dan menghiburnya. Tapi membayangkan itu semua membuat air mata nya semakin deras mengalir.
Belum selesai menangis, bel pintu terdengar berbunyi.
Segera dia hapus air mata.

"Siang, Juni.."
suara Arya terdengar dari luar saat Juni membuka pintu rumah.

"Siang juga, kak." sahut Juni.

Dan Arya tertegun melihat wajah sendu Juni yang masih jelas terlihat habis menangis.
"Kamu kenapa?" tanyanya lembut.

Setelah diam sejenak, Juni berkata, "Kak.. maaf ya.. Aku sedang perlu sendiri."

"Hh?" Arya terkejut.
"Ahh, oke. Gak apa-apa. Hm.. Nanti kalo ada apa-apa, hubungi aku aja, ya.."

Bibir Juni hanya perlu menyunggingkan senyum.

Pintu mobil tertutup kembali. Arya memandang pasrah pada paper bag berisi makanan yang tadinya akan dia makan bersama Juni.

Sementara itu, Juni kembali ke dalam rumah, berdiam diri di kamar Taemi. Duduk di kasur, dan memeluk bantal Taemi.

Terkadang.. semua yang kita dengar adalah kebencian
Tetapi.. cinta ada dan lebih banyak di dunia ini
Dimana itu sangat mungkin untuk kita bayangkan







"Minggir! Minggir!" teriak Firda pada para tahanan lain. Dia dan Taemi cengkram kuat tong sampah berukuran besar dan penuh sampah itu untuk mereka buang ke tempat penampungan sampah yang lebih besar.

Hari ini, para penghuni Lapas sedang gotong royong membersihkan Lapas dengan tugas yang telah dibagi-bagi dari kelompok masing-masing.

"Ffiuh!"
Taemi mengelap keringat di leher nya dengan lengan, lalu bernafas lega setelah berhasil membuang sampah puluhan kilo itu.

[New] Persona Non Grata [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang