☆☆
Ruang khusus di lapas tempat dimana Taemi menemui Juni.. Sunyi. Hanya ada suara kecapan-kecapan hangat nan romantis yang tercipta dari bertaut dua bibir milik sepasang kekasih yang melampiaskan rindu.
"Akh!" Juni berjengit ketika perut terasa tidak nyaman. Membuat tautan bibir mereka berdua terputus.
"Kenapa?" tanya kekasihnya khawatir.
"Dedek bayi nya nendang-nendang terus. Yang tadi kerasa kenceng banget, sih. Jadi aku sempat kaget." jawab Juni sambil memandang perut buncit nya.
Muncul mimik wajah yang semakin khawatir di wajah Taemi.
"Dia kok nendang-nendang? Apa dia gak suka kita mm..."
Juni terkekeh.
"Nggak.. bukan begitu, sayang.
Aku pikir, dia ikut merasakan kebahagiaan aku saat sama kamu. Dan nendang-nendang itu ekspresi nya dia di dalam sana. Dia bisa rasain semua emosi ibu nya. Kalo aku sedih, dia ikut sedih, kalo aku seneng dia ikut seneng."
Senyuman pun merekah di bibir Taemi.
"Gitu ya..
Aku yakin, kamu pasti belajar jadi ibu yang baik.
Kamu jaga hati kamu baik-baik, ya.."
"Iya.. Kamu juga.
Aku bakalan setia nunggu kamu, Taemi.."
Taemi bawa si kekasih dalam pelukan.
"Aku dapat info dari pak Heru, kalau dia udah berhasil menyelidiki banyak bukti buat bahan mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali.
Sabar ya.. Doain semoga semuanya berjalan lancar."
"Pasti.. aku gak pernah lupa doain kamu."
Kecupan hangat Taemi bubuhkan di dahi Juni. "Makasih ya.."
"O ya, kenapa kamu belum kasih tau aku jenis jelamin nya dia?" tanyanya seraya membelai lembut perut Juni.
"Sengaja. Aku belum berniat tau. Nanti aku baru mau tau jenis kelaminnya kalo udah masuk sembilan bulan. Biar surprise. Hhehe."
Yang kemudian menyebabkan Taemi tertawa kecil. Dan mengusak gemas rambutnya.
"Oke.. Aku jadi ikut gak sabar nunggu nanti. Dan, mau dia cowok atau cewek, aku akan seneng banget."
Detik berikutnya, Taemi membelalak kaget, oleh hadiah kecupan di bibir dari Juni. Yang menghadirkan banyaknya perasaan manis di dalam hati.
Bisik-bisik antara seorang sipir dengan salah satu tahanan, terdengar dari sudut ruang saat Taemi melewati mereka. Waktu kunjung nya telah habis, maka sekarang dia hendak kembali ke lapas.
Dua botol shampoo di keresek transparan diserahkan si sipir lapas, lalu dia menerima beberapa lembar uang merah dari si tahanan.
Taemi hanya dapat bergeleng-geleng melihat transaksi seperti itu lagi, yang memang masih subur eksis di lapas.
Jangan berpikir itu shampoo asli. Karena isi sebenarnya dalam shampoo itu lah yang membuat Taemi menggelengkan kepala oleh paham nya apa yang terjadi.
Dia bukan ingin sok alim. Namun dirinya memang tidak pernah tertarik atau berani mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Biarkan saja dirinya disebut cemen atau tidak gaul karena tidak berbuat demikian. Dia tidak peduli, meski berbagai macam godaan yang dia temukan di tempat ini ternyata lebih ekstrim.
'Ya Tuhan.. semoga aku bisa bebas.'
Kaki Juni melangkah lamban di depan keranjang yang dipenuhi tumpukan jualan handuk bayi. Matanya begitu cermat mengecek bahan beberapa handuk.
Sehabis dari lapas, dia diantar taksi online ke toko perlengkapan bayi. Hari ini dia ingin membeli handuk, karena agar bisa mengecek langsung bahannya. Sementara bagian besar perlengkapan bayi lainnya sudah dia beli lewat online.
Dikala sibuk memikirkan ingin memilih warna yang mana, perhatiannya teralihkan saat mendengar jelas percakapan sepasang suami istri di dekatnya yang sedang memilih barang di etalase sepatu bayi.
Bukan apa.. tapi yang terdengar olehnya, bagaimana cara sepasang suami istri itu mengobrol.. terdengar begitu manis, hangat, dan romantis. Lalu menikmati moment berbelanja bersama untuk persiapan kelahiran bayi mereka nanti.
Ahh.. bolehkah rasa iri muncul di hati Juni?
Tapi, dia juga ikut senang melihat ibu hamil yang bisa sempat ditemani pasangannya berbelanja.
Tidak seperti dirinya yang kemana-mana selalu sendiri. Meski sosok Seli sempat ada dan pernah beberapa kali menyempatkan diri untuk mengantar dan menemani nya pergi. Arya pun ada.. tapi Arya orang sibuk, walau sering menawarkan diri untuk menemani nya kemana-mana, dan itu tidak mungkin dilakukan Juni yang sangat sungkan mengganggu kesibukan Arya.
Lihatlah, bibir Juni tersenyum menyaksikan tangan si suami menggandeng mesra pinggang istri nya.
Pikir Juni sembari membelai perut buncit besarnya, 'Andai sekarang Taemi ada disini, temenin aku.'
"Hahh.. sudahlah Juni..! Kamu hanya bisa berandai-andai saja. Dan jangan lupa rajin mendoakan Taemi dan kesehatan bayi mu..! Semangat!" gumamnya bicara pada diri sendiri.
Musim panas berganti musim hujan. Hari-hari telah Juni lalui dengan cukup baik. Bahkan dirinya tidak pernah mengalami sakit yang sampai membuatnya sangat kewalahan untuk beraktifitas. Dia selalu fit. Namun hari ini, entah kenapa badannya mengalami demam, panas-dingin. Karena hanya tinggal seorang diri, dia pun harus turun ke bawah untuk mengambil pesanan obat yang dia beli via online. Setelahnya, dia harus mengurus sendiri dirinya yang sakit, mengompres kening nya, memijat badan sendiri yang terasa pegal dan sakit, dan membuat susu. Sampai untuk makan pun dia harus memesan online, karena tidak kuat jika harus memasak.
Di kamar nya.
Perlahan dia makan bubur ayam yang dia pesan tadi. Sementara matanya memandang kosong ke arah jendela yang menghadap halaman di penuhi tanaman bunga.
Lagi-lagi.. di benaknya muncul pikiran; seandainya Taemi ada disini, bersamanya.
Kepalanya menggeleng, menepis pikiran emosi nya yang sedang sangat sensitif. Dan mengalihkannya pada si janin bayi.
Dia belai sayang perutnya yang sekarang telah memasuki usia kandungan sembilan bulan.
"Sehat selalu ya, sayang..! Bunda akan selalu berusaha yang terbaik buat kamu. Semoga bunda segera sehat, ya.."
Keesokan pagi hari.
Tangan Arya begitu semangat memencet tombol bel rumah Juni. Sudah ada satu bucket bunga mawar putih yang begitu cantik di tangan kirinya.
Hari ini hari libur kerja nya, jadi dia menyempatkan diri menemui ibu muda itu.
Pintu terbuka.
"Selamat pagi.." sapanya bersemangat.
"Kak Arya.. Selamat pagi juga."
Juni muncul di depannya. Tersenyum. Tapi dengan wajah yang nampak pucat. Membuat Arya langsung disergap kekhawatiran.
"Kamu sakit apa?"
"Aku.. dari kemarin pagi demam, kak. Panas dingin."
"Ayo, ke dokter!" serobot Arya.
"Aku udah beli obat, kak."
Arya bawa tangan kanan Juni dalam genggaman erat nya.
"Kamu ke dokter, ok?! Aku khawatir banget hari ini kamu masih pucat, apalagi kamu lagi hamil, Juni.."
Sudah terpikirkan di benak Juni untuk menjawab apa, tapi posisi tangannya yang sudah begitu cepat berada digenggaman Arya, membuat dirinya tidak nyaman.
Perlahan dia tarik kembali tangannya.
Tersadar, Arya tersenyum kaku.
"Maaf.. tadi aku refleks."
"Iya, kak."
"Tapi kamu mau kan sekarang kita ke dokter?"
Teringat akan rencana pergi ke dokter kandungan untuk mengetahui jenis kelamin janin bayi nya, Juni pun mengiyakan. Jadi setelah nanti memeriksa keadaannya, dia akan sekalian pergi ke dokter kandungan.
💜 kalau udah vote, hayuk lanjut 😄
KAMU SEDANG MEMBACA
[New] Persona Non Grata [End]
Fiction généraleMereka bilang Ikuti kata hatimu Tapi hatiku telah menyeberangi samudera Dan aku takut Untuk tenggelam dalam ombak Ia akan berdiri kokoh di depanmu, & memegang wajahmu diantara telapak tangannya, lalu berkata, "Tidak apa-apa menjadi dirimu bersamaku...
![[New] Persona Non Grata [End]](https://img.wattpad.com/cover/334288126-64-k939890.jpg)