♡42

472 74 38
                                        

☆☆


"APA?" ny. Antony dan sang suami tercengang.

Begitu pula para pembantu.

Salah seorang pembantu laki-laki berbisik pada teman-teman nya. "Tuh kan.. Bener yang pernah saya ceritain ke kalian!"

Para pembantu lain mengiyakan, dan menggelengkan kepala oleh pikiran tidak menduga.

"Pak, tadi saya sempat lihat mereka berdua pergi dari gerbang belakang rumah." lapor salahsatu pembantu perempuan yang teringat sempat melihat Widy dan Ben pergi menaiki mobil.




Warna langit telah menggelap menjadi abu-abu. Hujan telah turun lagi, dan perlahan semakin deras mengguyur bumi.

Tangan Ben terus bergerak memacu mobilnya. Kecemasan semakin nampak tergurat di wajahnya dan Widy kala mendengar suara mobil polisi terus semakin mendekat berusaha mengejar mereka.

"Ben!" panggil Widy ketakutan.
"Ayo, tambah cepet lagi!"

Kilometer mobil terus bertambah. Dan dua mobil polisi terus berusaha mengejar hingga harus memperingati mereka berdua dari megaphone untuk menepi berhenti.

Tetapi Ben dan Widy tidak menyerah. Mereka terus menyalip kendaraan-kendaraan lain untuk dapat kabur dari kejaran polisi. Bahkan Ben tidak peduli ketika kecepatan mobilnya sudah terpacu penuh sampai batas maksimal di tengah cukup padat nya jalan raya.
Terus, dan terus melaju kencang tanpa mengingat bahwa kondisi jalan tengah sangat rawan oleh licinnya aspal yang masih diguyur hujan.

Hujan berubah menjadi gerimis.
Sementara seorang supir mobil besar pengangkut bahan bakar milik Pertamina sontak terkejut melihat kecepatan mobil BMW hitam milik Ben yang muncul dari arah berlawanan tanpa peduli telah berada di jalur yang salah. Refleks dia putar stir mobil dan kakinya menginjak rem sekuat mungkin, menyebabkan mobil besar itu mendadak belok untuk menghindari tabrakan.

"BENNNNN!!!" Widy berteriak saat mobil yang mereka tumpangi sebentar lagi tampak akan menabrak kepala mobil besar tepat di depan mereka.

Ben yang baru tersadar tidak dapat menahan panik yang luar biasa. Dia putar stir nya ke arah kiri. Tetapi sebuah mobil ekspedisi pengiriman barang muncul, menghantam mobilnya hingga terbanting kencang ke roda bagian tangki mobil Pertamina tadi.

Lagi. Bunyi tabrakan hebat pun terdengar memekakan telinga setiap orang yang berada di jalan raya sana.

Mobil Ben terguling. Kemudian meledak dengan cepat.

Sedangkan dua mobil polisi tadi telah berhasil menyusul, menepikan mobil mereka untuk menghindari tabrakan. Lalu turun untuk mengamankan para pengguna jalan raya.

DDUARR DDDUARRR

Dua kali ledakan susulan terjadi begitu hebat. Membuat semua orang terkejut dan ketakutan.




Mata Rosi merem melek oleh rasa pijatan Taemi yang membuat kepalanya perlahan terasa mulai membaik. Tetapi, sekarang dia merasakan tangan anak buahnya itu malah diam tak bergerak.
"Taemi! Taemi!"

Taemi yang semula melamun kembali sadar mendengar panggilan bos nya.
"Iya?"

"Napa ngelamun?"

"Hm, gak apa-apa. Cuma tiba-tiba ngerasa gak enak nih perasaan." jawab nya sembari kembali memijat kepala Rosi.

"Jangan kebanyakan ngelamun! Disini banyak setan! Gue gak mau repot-repot ngurus orang kesurupan."

Tawa kecil Taemi keluar oleh mendengar ocehan si bos.
"Amit-amit, deh.." sahutnya yang mulai mengabaikan perasaan tidak enak nya tadi.



Ny. Antony semakin gelisah dalam pelukan suaminya.
"Pah.. perasaan mamah gak enak." keluhnya diikuti deraian air mata.

Jelas. Perasaan tuan Antony pun sama. Semua rasa sakit bercamuk hebat dalam dada nya. Satu tangan dia memeluk sang istri, sedang satu tangan kanan nya memeluk Steffy erat-erat. Entah harus perasaan apa yang dia pilih. Satu yang paling jelas, yaitu rasa bersalah nya yang sangat besar oleh pikiran merasa gagal menjadi seorang ayah dan orangtua.

Seandainya saja.. sekarang dia ingin menangis dan berteriak sekencang mungkin.









☺ oke..
Bagaimana? Pasti kalian merayakan kecelakaan ini. 😂
Terimakasih sudah baca.. Jangan lupa vote 💜

[New] Persona Non Grata [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang