♡48

1.1K 77 77
                                        

☆☆

Mata Juni melebar kaget.

'Bi Ida?'

Aktivitas Taemi terhenti saat melihat ekspresi Juni yang mengundang tanya. Lalu memperhatikan perempuan asing bertubuh tinggi kurus di depan mereka.
Tetapi, perasaannya menjadi tidak enak oleh mendapati mimik tidak menyenangkan dari wajah perempuan itu.
Sementara Juni sudah terlihat gelisah, memegang stroller bayi nya kuat-kuat.

Mata perempuan bernama Ida itu berkilat amarah. "Juni! Ka mana wae maneh? Mang taun-taun euweuh kabar, euweuh ngirim duit. Leungit sia!"
( Kemana aja kamu? Bertahun-tahun gak ada kabar. Gak ada kirim duit. Kamu menghilang! )

Juni terhenyak. Syok. Gemuruh luka trauma masa kecil nya kembali terjadi. Wajah penuh emosi itu, suara kasar itu, semua perlakuan kekerasan yang dia alami karena sang bibi membayangi dirinya lagi.

Iya, sosok penguntit itu adalah Ida, bibi kandung Juni yang telah merantau dari kampung ke Jakarta sejak suaminya meninggal dua tahun lalu. Dengan tujuan utama nya, adalah menemukan Juni. Agar dia dapat memanfaatkan sang keponakan lagi.

Taemi sendiri tidak kalah terkejut. Dia mendekat untuk berjaga-jaga melindungi kekasihnya.
"Ibu siapa? Dan apa yang ibu bilang pada Juni?"

Tapi Ida tidak mempedulikan.
"Dasar alo teu boga ka era maneh! Geus di bere gawe kalah ngaleungit! Boga budak! Boga budak ti saha maneh?"
( Dasar keponakan gak tau malu! Udah dikasih kerja malah ngehilang! Punya anak! Punya anak dari siapa kamu? )

Gemetar badan Juni.
"Bi Ida.." lirihnya ketakutan.

"Ibu siapa sih berani-berani nya bentak Juni? Ibu ada urusan apa?" gertak Taemi tidak terima.

Giliran Ida memandangnya.
"Saya bibi nya Juni! Adik ibu nya Juni! Kamu gak usah ikut campur! Ini urusan saya dan anak gak tau diri ini!" telunjuknya bahkan tidak segan menunjuk wajah kekasih Taemi yang tengah berusaha mengontrol diri.

Dada Juni kembang kempis oleh gemuruh emosi. Matanya sudah perih.

Beberapa warga yang sedang berlalu lalang pun menjadi berhenti karena penasaran menonton mereka.

"Stop!" geram Juni.
"Kamu memang adik kandung ibu aku! Tapi kamu gak pernah tulus memberi kasih sayang! Gak pernah takut siksa aku habis-habis an! Gak pernah punya hati sakiti diri aku! Bahkan gak punya hati buat jual aku jadi pelacur!"

Ida memalingkan wajah sembari bersidekap tangan di dada.

Wajah Taemi menunduk. Hatinya ikut sakit.

"Pernah gak bibi nyesel secuil aja perbuatan bibi ke aku? Enggak kan?! Pantes gak aku menghargai keluarga yang dorong aku ke jurang derita?
Apa bibi belum puas liat aku menderita? Masih mau siksa aku sampai kapan?" teriak Juni emosi.

Sementara Taemi terkejut menyaksikan amarah Juni sebesar itu. Dia dekap si kekasih yang menangis terisak-isak.

"Lebih baik ibu pergi sekarang!" tegas Taemi pada Ida. Dimana Ida malah berusaha sok tenang.

Syukurnya, seorang satpam perumahan tiba disana. Tampaknya, dia mendapat laporan dari salahsatu warga.

"Ibu! Maaf, ibu harus pergi dari sini!" ucapnya mengambil satu lengan Ida.

Ida protes. "Loh? Apa-apaan ini?"

"Ibu sudah membuat keributan. Sekarang harus pergi dari sini."

"Tolong bawa dia, pak." kata Taemi.

Pak satpam mengangguk, lalu terpaksa menyeret Ida yang tidak menurut.

"Awas kalian berdua!" teriak Ida sebelum semakin menjauh diseret pergi.



[New] Persona Non Grata [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang