nih yang satunya
.
.
.
Kalau ada yang berpikir Claire kembali menginjakkan kakinya di sini karena saran idiot Kai, maka kalian sama bodohnya dengan dia. Tentu saja ia akhirnya mau kerepotan mengurus segala hal mengenai pengunduran dirinya untuk pergi ke Hogwarts karena alasan Remus beberapa waktu lalu. Permohonan Remus yang meminta belas kasihannya benar-benar ia turuti.
Hanya satu semester, bukan hal yang menakutkan. Meskipun tetap saja, Claire tidak suka mengajar.
"I don't like this," lirihnya sesaat sebelum kakinya menginjak lantai courtyard. Claire kembali menghela napasnya kala matanya yang menyapu pemandangan sekitar membawanya untuk menyelami nostalgia. Dan sialnya, ingatan yang merembes di kepalanya adalah tentang ia dan Adrian.
Sekejap memejamkan mata guna mengusir memori-memori itu, Claire mempercepat langkahnya. Berjalan bersamaan dengan para murid, membuatnya sedikit tersenyum. Jujur saja, ia sedikit rindu dengan suasana semester baru seperti ini. Apalagi saat menonton penyeleksian anak murid baru.
"Ah, Miss Edevane!" Tanpa diduga, sang kepala sekolah menyambutnya dengan ekspresi yang antusias. Tangannya yang direntangkan lantas dengan santunnya menyalami Claire. "Senang bisa melihatmu lagi," katanya.
Dengan senyum segan, Claire membalas, "Senang bisa melihatmu lagi, Professor."
Sampa akhirnya tautan tangan itu terlepas, digantikan dengan rangkulan akrab dari sang kepala sekolah pada Claire. Kakek itu menuntunnya menuju ruangan Claire sembari terus bertanya mengenai kehidupan mantan anak muridnya di dunia Muggle selama lima tahun terakhir. Mulai dari pekerjaan, percintaan, pertemanan dan Dumbledore juga menambahkan pertanyaan mengenai kondisi tulang selangka juga bahu Claire.
Pasalnya, mantan kapten Quidditch itu dulunya tidak mau meminum ramuan Skele-gro sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Dan kekhawatiran Dumbledore pun menjadi kenyataan. Claire mulai menceritakan perjalanannya untuk menyembuhkan cideranya. Dari mulai melakukan operasi Muggle, terapi Muggle, atau apapun yang mungkin bisa menyembuhkannya.
"Skele-gro terlalu menyakitkan, Professor. Dan aku terlalu pengecut untuk merasakan itu. Jadi aku memilih pengobatan Muggle yang memang kesembuhannya tidak seberapa dengan ramuan itu," katanya. Ia sudah terlalu depresi dan putus asa, hingga membuatnya menjadi seorang coward busuk.
Dumbledore mengangguk samar. "Tapi bukankah siksaannya terus terasa, Miss--"
"Oh, you can just call me Claire, Sir."
"Ah! I forgot!" Kedua tergelak sebentar, sebelum akhirnya kaki mereka berhenti tepat di depan ruang kelas Defence Against the Dark Arts.
"Memang, Sir. Siksaannya memang lebih sakit, tapi aku tetap tidak berani untuk meminum Skele-gro. Rasa sakit yang biasanya aku rasai masih di prosentase 0,99% dari rasa sakit setelah meminum Skele-gro," ujarnya menjawab rasa penasaran sang pemilik tongkat Elder ini.
Anggukan lagi-lagi nampak dibarengi dengan tatapan serius, dan kemudian di menit berikutnya berubah menjadi tatapan lembut. "Mungkin suatu saat kau akan berubah pikiran, Claire," ujarnya dengan senyum yang menyalur hingga matanya. "Hhh ... Rasanya sudah panjang sekali perbincangan kita, Claire. Kalau begitu aku akan permisi dulu, dan kau ku bebaskan untuk mengeksplor ruangan mu."
"Sampai jumpa di makan malam, Claire!" Setelahnya, Dumbledore pergi dengan tergesa bahkan tanpa menunggu jawaban dari Claire.
"Ah iya, sampai jumpa." Dan dia akhirnya tetap menyahut, meski dengan kelirihan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequoia | Severus Snape
FantasíaTidak pernah ada dalam agenda hidup seorang Claire Eleanore Edevane untuk kembali menginjakkan kaki di Hogwarts setelah hari kelulusannya. Selain karena pernah terjadi tragedi malang yang membuatnya sengsara, Hogwarts jugalah yang membuatnya menuai...
