43. Cassandra's Light Flame

71 18 4
                                        

Penyambutan kembalinya para murid diselenggarakan begitu meriah dan mewah, apalagi dengan adanya sesi appreciation untuk Snape—terutama—dan Claire juga para Healer yang sudah menjadi pahlawan untuk apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Dan dengan kesadaran penuh, popularitas Snape semakin menguat kala ia maju ke depan. Tentu dengan wajah datar, Snape menerima penghargaan dari kementerian.

Hogwarts benar-benar kembali hidup hari ini. Dan pemeran utamanya adalah Severus Snape. Yang justru membenci dirinya ada di situasi ini. Kalau disuruh memilih antara dipuja seperti sekarang atau dianggap seperti bayangan, Snape memilih yang kedua. Ia malas menjadi pusat perhatian.

Namun nampaknya dunia tidak pernah peduli pada preferensi Snape.

Tepuk tangan bergema lebih lama dari yang seharusnya. Sorak sorai para murid— terutama dari meja Slytherin, mengisi aula besar. Snape menerima plakat tanpa senyum atau rasa hormat yang berlebihan, hanya mengangguk singkat dan beralih dari panggungnya

Saat berjalan kembali ke tempat para hero berdiri, netra Snape secara refleks menangkap keberadaan Claire, lalu kakinya memilih untuk berhenti tepat di samping wanitanya. Ia hanya ingin meredam ketidaksukaannya terhadap ruangan yang terlalu berisik seperti ini. Terasa menusuk gendang telinganya bak samurai. Namun setidaknya masih ada Claire di sana, tersenyum ke arah semua orang, Kingsley, Dumbledore, Healer, dan dirinya begitu tulus dan tenang.

Setidaknya itu cukup baginya untuk merasa lebih damai.


_______


Ruang staff kembali menghangat kala para Professor memilih untuk mampir usai acara penyambutan selesai. Hari ini kelas belum dimulai. Besok, akan mulai padat dari yang sebelumnya.

"Cong... rats, Sir?" ujar Claire usai berjalan canggung menjauh dari kerumuman Professor di meja panjang menuju meja yang lebih kecil, di mana hanya ada Snape di sana.

"Jika itu upaya ucapan selamat, kau bisa berusaha membuatnya lebih meyakinkan," kata Snape. Netranya mengikuti arah gerak Claire yang memilih untuk duduk di hadapannya alih-alih menyandarkan pinggul di meja.

Claire terkekeh pelan, matanya terlihat berbinar—seperti tengah mengutarakan sejuta bangga pada Snape.

"Kau berhasil membuat Hogwarts berdiri dan bertepuk tangan," ujar Claire, "itu sebuah pencapaian, kau tahu?"

Snape menyipitkan mata. "Sesuatu yang tidak perlu. Aku lebih suka lorong kosong tanpa suara berisik para bocah," balas Snape menolak.

"Kau menyelamatkan mereka, pun orang tua mereka. Setidaknya biarkan mereka berterima kasih dengan cara merayakanmu lebih meriah hari ini," ucap Claire yang membuat Snape mendengus lalu melempar pandangannya ke meja panjang. Hal itu membuat Claire terkekeh. "Kau terlihat seperti ingin mengutuk siapa pun yang menyebut namamu dengan sorak sorai."

"Beberapa sudah masuk daftar," balas Snape yang mengundang tawa Claire. Wanita itu menunduk dan menutupi wajahnya. Berusaha untuk meredam suara tawa dan getaran tubuhnya—membuat Snape mengangkat salah satu sudut bibirnya sekejap sebelum netranya kembali ia lemparkan ke meja besar dan senyumnya luntur saat para Professor memperhatikan mereka.

Snape kurang menyukai ini. Ia ingin berekspresi lebih bebas dengan Claire, seperti saat waktu berpihak pada mereka. Nampaknya setelah ini, ia akan kesulitan untuk memiliki banyak momen bersama Claire. Rasanya Snape ingin egois saja jika ujungnya akan seperti ini. Seolah ia mengulang sejarah hidupnya. 

"Aku merasa tidak terbiasa?" Alih-alih menjauh, Snape melanjutkan pembicaraan di antara mereka.

"Dengan popularitas?" tanya Claire. "Itu mustahil, Slytherin mengajarkan kemasyhuran."

Sequoia | Severus SnapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang