Chamber Snape berada jauh di bawah kastil, di area Dungeons yang jarang dilewati murid. Untuk mencapainya, seseorang harus menuruni tangga batu sempit yang berputar, melewati lorong dingin dengan dinding lembap dan obor yang jaraknya terlalu jauh satu sama lain. Tidak ada plakat nama di pintunya—seolah ruangan itu memang tidak dimaksudkan untuk dikunjungi.
Dingin seolah sudah menjadi selimut bagi tempat ini. Jauh di bawah kebisingan Hogwarts di hari terakhir OWL, ruangan ini mampu memberikan ketenangan. Sudah lama rasanya Claire tidak menginjakkan kaki ke tempat di mana ia kesusahan mendapat sinar matahari dan harus selalu mengkonsumsi vitamin D.
Tiga ketukan tidak mendapat jawaban, Claire memutuskan untuk mendorong pintu yang tidak tertutup rapat. Sepertinya Snape pergi terburu-buru... atau entahlah. Claire kemari hanya untuk mengambil novelnya yang tertinggal.
Benar. Ruangannya kosong, Snape tidak terlihat di mana-mana.
Claire melangkah pelan, ia menggumamkan izin di ambang pintu. Dia datang kemari bukan untuk mencuri, hanya mengambil apa yang tertinggal. Maka dengan gumaman izin, ia membuka pintu kamar Snape yang anehnya tidak dikunci dengan mantra. Lagipula memang siapa yang ingin mencari masalah dengan sang master ramuan dengan menyusup ke tempat pribadinya? Tidak ada.
Di atas nakas tidak ada, di laci nakas pun nihil. Ia justru menemukan satu kertas yang tintanya sudah memudar. Nampak seperti kartu ucapan natal yang sudah sangat lama, tidak setahun dua tahun—mungkin satu dekade...? Entah, Claire hanya mengedikkan bahunya acuh lalu kembali menutup laci nakas.
Claire berdiri, mengedarkan pandangannya ke sekeliling seraya berpikir. Di mana kira-kira Snape menyimpan novel miliknya? Bukan apa, hanya saja kemarin saat ia bertanya, Snape bilang sudah menyelesaikan novelnya. Jadi Claire berniat untuk mengambilnya dan membacanya lagi. Ia merindukan Mr. Darcy-nya.
Saat netranya lelah berkeliling, Claire menjatuhkannya ke atas permukaan kasur. Sprei-nya nampak rapi, seperti tidak pernah dipakai untuk tidur. Sementara dulu, saat ia masih menggunakannya—bersama Snape—sprei itu tidak pernah layak disebut rapi.
Hembusan napas pelan terdengar sebelum Claire memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan menuju kursi. Kursi yang sudah lama ia tinggal. Padahal dulu setiap ia bangun tidur, lelah, makan, berbincang, kursi itu yang ia tempati. Seperti sebuah nostalgia. Meskipun baru beberapa bulan berlalu, Claire sudah berjalan begitu jauh dari kenangan-kenangan yang ada di ruangan ini.
Entah karena sedang lelah sebab ujian OWL yang masih berlangsung atau memang patut untuk diberi kesedihan—dada Claire terasa ditekan saat ingatan-ingatannya melintas. Saat Claire berlari menuju ruangan ini dengan tergesa karena Dumbeldore memindahkan barang-barangnya tanpa izin, berdebat dengan Snape, melihat Snape berpenampilan santai dan berbeda untuk pertama kalinya, atau tentang ia akhirnya jatuh pada pesona seseorang yang dulu ia sebut sebagai perisak.
"Ow, shit," gumam Claire lalu menengadah untuk mencegah air matanya turun.
Hogwarts di bawah sini terasa lebih menyenangkan dan hangat. Saat di mana jarak bukanlah sebuah penghalang baginya dan Snape untuk bertemu, berbincang, bercanda, berdebat.
Berusaha menghalau pikirannya, Claire meraba ke bagian bawah meja. Benar. Ada laci di sini. Apa mungkin Snape menyimpan novelnya di sini.
"Oh God, found it," kata Claire lirih dengan senyum.
Namun saat jemarinya berhasil menarik novelnya keluar, kening Claire berkerut. Ada sebuah foto di atasnya. Tidak besar dan usang. Claire mengambilnya.
Dua anak kecil—mungkin tingkat pertama berpose layaknya potret resmi yang dipaksakan. Anak laki-laki berambut hitam itu berdiri kaku, bahunya tegang seolah kamera adalah ancaman. Di sampingnya, seorang gadis kecil berambut merah-oranye tersenyum canggung namun hangat, matanya hijau terang, dan nampak hidup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequoia | Severus Snape
FantasyTidak pernah ada dalam agenda hidup seorang Claire Eleanore Edevane untuk kembali menginjakkan kaki di Hogwarts setelah hari kelulusannya. Selain karena pernah terjadi tragedi malang yang membuatnya sengsara, Hogwarts jugalah yang membuatnya menuai...
