Ruang rapat entah kenapa terasa lebih sempit dari yang Claire pernah bayangkan. Tumpukan parchment bersegel Kementerian tersusun rapi, seolah ingin menegaskan bahwa waktu dan mungkin kesabaran tidak berada di pihak Hogwarts.
Perwakilan Kementerian membuka suara, dengan nada datar yang terlalu halus untuk disebut ramah.
"Empat bulan tanpa proses belajar-mengajar bukanlah jeda sebentar," kata Grimholt, jari-jarinya mengetuk salah satu laporan yang ia bawa. "Setengah semester hilang. Kami perlu memastikan ketertinggalan ini ditangani secara efektif," sambungnya memberikan penekanan pad akata efektif yang nyaris tak terdengar bagi mereka yang tidak memperhatikan.
Beberapa Professor menggeser posisi duduk mereka. Ada yang mengangguk pelan, ada yang menunduk, hingga membaca ulang catatan yang sama untuk ketiga kalinya.
"Usulan awal kami adalah pemadatan kurikulum," lanjut Grimholt. "Materi inti dipertahankan, sementara sesi praktik yang berisiko tinggi seperti Potions, Defense Againt the Dark Arts, Transfiguration—dapat sangat dikurangi."
Hening.
Snape—yang memegang penuh hak untuk berbicara—baru mengangkat kepalanya setelah kalimat Grimholt selesai sepenuhnya. Ia tidak tergesa. Tidak pula nampak tersinggung. Hanya menutup buku catatannya dan meletakkan quill dengan presisi.
"Pengurangan praktik," kata Snape dengan suara datar, "adalah cara tercepat untuk menghasilkan penyihir yang tidak tahu apa yang mereka lakukan—terutama pada bidang ramuan dalam hal ini. Mereka cukup percaya diri untuk mencobanya tanpa pengawasan."
Beriringan dengan usainya kalimat Snape, beberapa pasang mata terangkat ke arahnya.
"Dalam ramuan, teori tanpa aplikasi bukan efisiensi. Itu ilusi kendali. Risiko tidak berkurang, ia hanya dipindahkan ke tempat yang tidak terlihat," tambah Snape tanpa meninggikan nada.
Grimholt menatapnya, tidak defensif, tapi tidak pula sepakat. "Kami berbicara soal keselamatan," ucapnya datar.
"Dan saya berbicara soal tanggung jawab," sanggah Snape. Ia nampak tenang untuk seseorang yang tengah dicecar. "Jika waktu menjadi masalah, maka solusinya bukan menghapus proses, melainkan mengaturnya ulang."
Suara Snape tidak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan dengan menyebutkan beberapa alternatif seperti pembentukan kelompok praktik yang lebih kecil, jam tambahan yang terjadwal, dan adanya pengawasan penuh. Tidak ada kata yang terdengar emosional. Tidak ada pembelaan diri. Hanya sistem.
Ruang rapat itu kembali sunyi. Namun kali ini berbeda. Claire mengangkat tangan sedikit, cukup untuk meminta giliran berbicara. Ia melihat adanya ruang untuk memperkuat argumen Snape.
"Jika tujuan kementerian adalah memastikan standar tetap terpenuhi," ucap Claire dengan suara tenang, "maka pendekatan berbasis pemotongan justru berisiko menciptakan celah jangka panjang."
Pandangannya masih lurus pada Grimholt. "Pemulihan bukan soal kecepatan, melainkan stabilitas," lanjutnya, "Murid yang kehilangan ritme belajar membutuhkan struktur, bukan tekanan tambahan yang tidak terarah."
Claire menyusun kata-katanya dengan hati-hati agar tidak terdengar seperti sebuah opini.
"Rencana yang diajukan oleh Professor Snape memberi ruang bagi evaluasi bertahap. Jika gagal, kementerian masih memiliki pijakan untuk intervensi. Jika berhasil, Hogwarts mempertahankan otonominya tanpa mengorbankan keselamatan," final Claire tanpa mengubah tone suaranya.
Di seberang sana, Grimholt nampak mencatat sesuatu. Sebelum akhirnya ia mengangkat pandangannya kembali ke Claire, jemarinya kini saling bertaut di atas meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequoia | Severus Snape
FantasiTidak pernah ada dalam agenda hidup seorang Claire Eleanore Edevane untuk kembali menginjakkan kaki di Hogwarts setelah hari kelulusannya. Selain karena pernah terjadi tragedi malang yang membuatnya sengsara, Hogwarts jugalah yang membuatnya menuai...
