Hogwarts kembali ramai usai OWL selesai. Bergerak seperti biasa, dari hari ke hari, tidak ada yang berubah. Anak tingkat 7 mulai menanti hari terakhir NEWT, meredam tawa yang terdengar begitu bangga dan lega. Musim panas sudah di depan mata, libur semester seperti yang seharusnya dijadwalkan menjadi penantian bagi mereka yang belum sempat kembali sebelumnya.
Lalu di antara semua carut-marut itu, terdapat hidup yang mulai berubah secara perlahan. Tidak ada lagi pengecualian tempat di meja makan, sapaan di koridor sepi, patroli lebih lama untuk menghabiskan waktu bersama, atau bujukan untuk makan malam di tengah banyak evaluasi.
Hidup keduanya—mungkin Claire, berubah lebih kosong.
Claire masih sering pergi ke ruang staf, berbincang dengan para Professor untuk berbagi gosip dengan secangkir teh di tangan. Ia bahkan mulai kembali datang ke Great Hall untuk makan malam. Claire tidak menghilang dari koridor, ia masih sering menawarkan telinga bagi para murid, memberikan respon atas apapun yang didengarnya.
Rutinitas Claire masih berjalan seperti biasa. Hanya saja, ada satu bagian yang hilang. Bagian yang selalu disempatkan ada oleh satu orang. Bagian yang jarang dilewatkan untuk ditilik.
Claire belajar bahwa melepaskan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir dalam bentuk kebiasaan yang tidak lagi diisi.
Ia berhenti menunggu langkah tertentu di belakangnya saat koridor mulai sepi. Berhenti menoleh setiap kali mendengar suara langkah yang menggema di lantai batu. Bahkan berhenti mengira bahwa setiap malam akan ada ketukan singkat di pintu ruangannya—ketukan yang selalu datang terlalu pelan untuk disebut permintaan, tapi terlalu konsisten untuk diabaikan.
Di ruang staf, sore itu, udara terasa hangat oleh aroma teh dan percakapan ringan.
"Jadi kau benar-benar pulang musim panas ini?" tanya Sprout sambil menuang madu ke dalam cangkirnya.
Claire mengangguk dengan senyum tipis seperti biasa. "Yes, Professor. Kontrakku habis musim panas ini," jawabnya kemudian.
"Anak-anak akan sangat kehilangan dirimu, Claire," timpal Sinistra yang membuat Claire terkekeh malu.
"Dan mungkin seseorang juga akan kehilangan kehadiramu," ujar McGonagall dengan senyum menggoda. Jahil. Yang justru membawa tawa bagi beberapa rekan kerjanya.
Berbeda dengan atmosfir ruangan yang berubah riang karena beberapa godaan jahil menimpali. Claire justru mengulum senyumnya. Ia tidak berani meluruhkan ekspresi bahagianya. Alih-alih berusaha untuk menampakkan wajah malu.
"Tapi jujur saja, kalau sampai tidak bersama, sepertinya aku yang akan patah hati," timpal Binns.
"Shut. Jangan mencampuri kehidupan pribadi orang lain, sir," kata McGonagall.
"Kau yang memulainya kalau kau lupa, madam," sarkas Binns kesal yang semakin memberikan tawa pada ruangan.
Sprout mendengus. "Lagipula, memangnya kau bisa merasakan patah hati?"
"Itu kiasan, ma'am. Astaga," jawab Binns tak habis pikir.
Sementara mereka berdebat, seorang bertubuh tinggi menyita atensi beberapa di antara mereka.
"Daripada patah hati, lebih baik beritahu saja kapan kau akan mengundangku," ujar Hagrid yang membuat Claire jelas mengernyit.
Kepala Claire meneleng sepersekian derajat. "Undangan?" bingungnya lirih, bahkan lebih terlihat seperti gumaman tanpa suara.
"Pernikahan?" ucap Hagrid dengan dua tangan terangkat, seperti sedang menawarkan sesuatu.
"Ah." Claire sedikit terkejut. Ia lantas terkekeh, bagi yang terlalu memperhatikan, itu akan terdengar kaku dan dipaksakan. Lalu ia menggigit bibir bawahnya sedikit dan tersenyum seperti sebuah pajangan.
Ucapan-ucapan jahil terus dilemparkan hingga membuat Claire canggung sendiri. Sebab kenyataannya berkata lain, dan ia tidak bisa menumpahkannya di sana. Tidak pula menyanggah apa yang mereka katakan. Seolah ia meminta waktu untuk membukanya sendiri, tanpa dirinya.
Tawa itu redam seketika, lalu kembali menguat saat Claire meninggalkan ruang staf untuk pergi ke ruangannya, digantikan oleh kedatangan Snape. Mereka tidak berpapasan, bahkan tidak saling melihat kepergian dan kedatangan satu sama lain.
Beberapa kejadian berlangsung sama, seperti loop yang sudah diatur oleh sutradara. Hal itu kian menguatkan asumsi publik—tentunya di lingkup Professor—mengenai hubungan keduanya yang nampaknya semakin menguat.
Dan bagian lucunya, tidak ada yang menyangkal dari kedua belah pihak. Mereka setidaknya memiliki pola pikir yang sama. Urusan pribadi bukanlah konsumsi publik.
Claire juga sempat menunggu—bukan dengan harapan, tapi dengan kewaspadaan. Menunggu kalau-kalau Snape akan melakukan apa yang biasa ia lakukan. Muncul tiba-tiba, berkata terlalu halus, atau terlalu jujur. Tapi hari-hari berlalu, dan tidak ada apa-apa.
Begitu saja, Hogwarts kembali riuh oleh para murid yang sudah menyelesaikan semua ujian mereka. Ujian akhir semester bagi tingkat satu sampai empat, ujian OWL bagi tingkat lima, dan NEWT bagi tingkat tujuh. Euforia menggema di koridor. Tawa keras, gurau yang tidak dipaksakan kembali terdengar begitu menghibur di telinga Claire.
Hingga akhirnya libur musim panas datang. Para murid mondar-mandir dengan koper setengah penuh, suara tawa terdengar lebih sering, seolah kastil ikut menghembuskan napas panjang setelah berminggu-minggu menahan tekanan.
Claire berdiri di depan gargoyle batu yang menjaga kantor Dumbledore, tangannya terlipat di depan dada. Ia menunggu. Bukan dengan gelisah—lebih tepatnya dengan sikap seseorang yang sudah terlalu lelah untuk gelisah.
Pertemuan mereka berlangsung singkat. Administratif. Dumbledore membicarakan kepulangannya, beberapa hal kecil mengenai penyelesaian kontraknya. Claire mengangguk, menjawab seperlunya, dan tersenyum di waktu yang tepat, dan berpamitan. Ia pandai berpura-pura hadir.
Saat ia keluar dari kantor itu, lorong di depannya hampir kosong. Dan di sanalah Snape berdiri.
Tidak dramatis. Tidak disengaja. Hogwarts selalu memiliki cara untuk mempertemukan orang-orang, bahkan ketika mereka tidak lagi saling mencari.
Pria itu masih di sana. Menatap lurus ke arahnya, lalu sepersekian detik beralih ke depan. Ia seolah mempersilakan Claire untuk pergi terlebih dahulu sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya.
Dan Claire terus melangkah usai sempat melambat. Persis saat langkahnya menyamai tempat berdiri Snape, Claire membuka mulutnya, lalu mengatupkannya kembali. Ia menelan ludah, menata kata untuk diucapkan tanpa terdengar menyedihkan atau menjijikan.
Beberapa detik, dan setelahnya Claire menegakkan bahu. Pandangannya lurus ke depan. Mulutnya terbuka.
"Senang pernah mengenalmu sebagai seseorang yang... berbeda. Maaf karena pernah mengusikmu," Claire menjeda, membiarkan udara di antara mereka bergerak pelan, menyapu surai keduanya tanpa benar-benar menyentuh. "Setelah ini... kita tidak perlu melanjutkan apa pun."
Kemudian, langkahnya kembali mengayun. Membawa Claire pergi dari siapapun dan apapun yang pernah menjadi masanya di sini. Ia menyelesaikannya sebelum benar-benar pergi.
Snape hanya berdiri. Tidak mengiyakan, tidak menyangkal, apalagi mengejar. Diam. Seperti Severus Snape yang dikenal banyak orang.
Dengan kesadaran penuh, langkah Claire yang menjauh menjadi penanda bahwa segala sesuatu di antara mereka telah usai. Tidak diupayakan untuk dipertahankan, tidak pula diminta untuk dilanjutkan. Ia berakhir begitu saja. Tanpa drama, tanpa penyesalan untuk diucapkan.
Dan selamanya, Snape akan hidup berdampingan dengan apa pun yang tertinggal di ruangannya. Perkenalan, tawa, gurau, kasih sayang, hingga perpisahan. Semuanya akan ia telan mentah-mentah. Dingin dan pedih. Setiap hari.
《—Chapter 49 is done—》
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequoia | Severus Snape
FantasyTidak pernah ada dalam agenda hidup seorang Claire Eleanore Edevane untuk kembali menginjakkan kaki di Hogwarts setelah hari kelulusannya. Selain karena pernah terjadi tragedi malang yang membuatnya sengsara, Hogwarts jugalah yang membuatnya menuai...
