29. Peeves

421 59 6
                                        

Suara itu sontak saja membuat pagutan mereka terlepas—padahal tadi Snape sudah berhasil membuai Claire.

"Peeves!" seru Claire seraya mendorong Snape dan mundur beberapa langkah.

Sedang Snape, dia hanya mengelap sekitar bibir yang terkena lip balm Claire lalu berjalan mendekati si poltergeist sembari menyakukkan satu tangannya.

"Ada apa?" tanyanya dengan nada yang sama sekali tidak bersahabat.

"Kau... Jangan bilang kalau kali—"

"Tidak usah ikut campur. Cepat katakan sebelum aku panggilkan sir Baron," potong Snape yang langsung membuat Peeves mengembangkan senyum lebar.

"Tidak perlu repot-repot, Severus Tobias Snape. Aku ke sini hanya untuk me—Uuuh." Kembali terpotong, kali ini karena tubuh transparan-nya ditembus oleh lima storage box berisi bahan-bahan ramuan.

Ia berdehem lalu melanjutkan, "Headmaster menyuruhku untuk memberikan surat ini pada kalian. Satu untuk berdua, ya. Katanya ia malas menggandakan." Diulurkannya surat itu pada Claire yang lumayan jauh di belakang sana sementara di hadapannya persis ada Snape.

Tentu saja surat itu langsung dirampas oleh sang ahli ramuan. Ia mengalih dari tempatnya untuk berdiri di tempat di mana Claire mungkin bisa terlihat oleh mata Peeves.

Hal itu jelas mmebuat si poltergeist ini mencebik. "Aku tidak akan mengambil milikmu, Severus! Aku tidak tamak," katanya kemudian.

"Syukurlah kalau begitu," sahut Snape yang dengan begitu ia membenarkan dugaan Peeves akan hubungannya dengan si cantik Claire.

Belum selesai Snape membaca paragraf pertama, Peeves sudah merecoknya dengan membisikan sesuatu. "Tapi aku tidak berjanji milikmu tidak diambil oleh seseorang yang baru datang."

Secara kontan Snape mengernyit dalam, menatap nyalang Peeves yang mulai berdiri menjauh sedang di sampingnya sudah ada Claire yang menatapnya juga Peeves secara bergantian.

"Kalian kenapa?" tanyanya kemudian.

"Tidak ada," jawab Snape.

"Benar?"

"Benar, Miss. Tidak ada kok." Kali ini yang menjawab Peeves dengan disertai senyum lebar mencurigakan.

Claire rasanya tidak mau percaya dan berniat mendesak Peeves, tapi karena malas juga ada sesuatu yang nampaknya lebih penting dari tatapan setan perusuh itu, Claire mengendik. Ia mengalih untuk mengintip surat yang dipegang oleh Snape.

"Ini sur—"

"Ramuan penawar yang kau buat sudah ada kemajuan, Sev?" potong Peeves yang membuat Claire menoleh dan megernyit bingung sebelum akhirnya ia menatap Snape untuk meminta kejelasan.

Yang ditanya agak sedikit gelagapan. Ia lantas berdehem dan membalas tatapan Claire setelah mengirimkan surat kematian pada Peeves. "Nanti ku je—"

"Orang-orang di atas sudah sekarat. Ramuan penawarmu bagaimana? Headmaster mendesakmu untuk melanjutkan prosesnya. Pasalnya sudah hampir empat minggu ini ramuanmu tidak ada kabar, sementara setiap hari para manusia yang sekarat semakin bertambah. Kau berhenti mengunjungi Headmaster setelah kematian Lucius. Ada apa? Kau depresi? Atau ikut sekarat karena kematian kawanmu? Atau..." Ia tidak lagi mengeluarkan suaranya, tapi matanya yang menatap Claire seakan melanjutkan kata-katanya yang sengaja ia putus.

Hingga akhirnya ia mengalihkan padangannya untuk menatap kembali obsidian yang kini tengah berusaha untuk mengirimnya ke neraka—sembari mengendik. "I don't wanna care about what happened between you two. Tapi yang jelas, orang-orang sekarat itu membutuhkan ramuan penawarmu secepat mungkin. Headmaster percaya kalau kompsisi yang kau buat waktu itu akan berhasil," sambungnya dengan nada serius.

Sequoia | Severus SnapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang