so sorry for the typo, cuz i'm only hooman
.
.
.
Seperti yang sudah Claire jadwalkan sebelumnya, siang tadi ia memutuskan untuk kembali ke Hogwarts. Dengan harapan Claire bisa menemukan beberapa ketenangan yang entah kenapa menjauhinya selama sembilan hari kemarin. Dalam kata lain, liburannya sama sekali tidak memuaskan, bahkan untuk sekedar bernapas lega saja Claire kesusahan. Penyebabnya siapa lagi kalau bukan John Bangsat Kaisar.
"Tagihan listrik melonjak, makanan habis, apartemen kotor—arghh!" Claire menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri sembari menangis ala-ala.
Ternyata U-No-Poo yang ia kirim untuk kakak kesayangannya beberapa waktu lalu itu merupakan kesalahan besar yang mengancam keselamatan apartemen juga kewarasan Claire. Sebab katanya, "Siapa yang duluan memulai perang, ha? Kau, 'kan?! Asal kau tahu, numbnuts! Aku hampir kehilangan suspect-ku karena hadiah bodohmu itu. Jadi seharusnya pembalasan seperti ini bukan apa-apa bagimu, nona cantik!"
Meskipun pada akhirnya, Kai tetap Claire usir dari apartemennya tadi pagi. Ia memutuskan untuk menggunakan sihir dalam rencana khusus itu. Ah, mungkin lebih tepat untuk menyebutnya—memindahkan. Claire memindahkan manusia iblis itu ke suatu tempat yang merupakan tempat impian Kai untuk menikmati mimpi. Bisa jadi sekarang ia tengah bersuka cita di rooftop gedung 60 lantai itu.
Dirasa usai dengan kemarahan jiwa birunya, Claire melempar bantal yang sedari tadi menutupi wajahnya entah ke mana. Ia lantas mendudukkan dirinya sembari merapikan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kai sialan," umpatnya sebelum akhirnya memilih untuk bangkit dari kasur.
Ia sudah merasa cukup dengan tidurnya selama tiga jam ini. Bahkan rasanya lebih menyegarkan daripada tidur selama delapan jam di apartemennya yang kondisinya begitu malang.
Usai dengan urusan kamar mandi, Claire mematut dirinya di depan kaca. Sibuk menerawang, mau ke mana ia sore ini. Mengelilingi kastil, atau pergi ke Hogsmeade untuk berburu makanan. Atau juga pergi ke dapur, membuat kue bersama para Elf. Claire dihadapkan dengan pilihan sulit.
Sampai pada akhirnya, Claire memilih untuk abai dengan berbagai opsi yang direkomendasikan otaknya. Ia beralih untuk mengganti celananya lalu memakai sepatu dan tidak lupa juga dengan jaketnya. Bodoh rasanya kalau keluar ruangan tanpa memakai jaket saat suhu sedang berada di titik rendah seperti ini.
Kakinya melalang, membawanya untuk meninggalkan kastil. Dia akan mengunjungi Hagrid. Sudah lama Claire tidak berbincang dengan big man itu.
"Hagrid, kau di dalam?" tanyanya kala sampai ketukan ketiga pintu belum juga terbuka.
Lalu saat tangannya hendak mengetuk untuk yang kelima kalinya, Claire berhenti. Kalaupun Hagrid ada di rumah, satu ketukan saja cukup, tidak perlu sampai empat—apalagi tadi ia sempat memanggil namanya. Hagrid yang ia tahu bukanlah tipe yang seperti ini.
Jadi karena hal demikian, Claire memilih untuk berbalik sembari menghela napasnya. Mungkin sedang tidur, atau...
"Apa mungkin Hagrid sedang di Hutan Terlarang untuk mengurusi satwa liarnya?" tanyanya menerka.
Tanpa mau membuang waktu lebih lama, Claire melanjutkan langkahnya masuk ke tempat yang sebenarnya ingin ia jadikan sebagai tempat praktik bagi anak kelas satu. Hitung-hitung selain mencari Hagrid—yang benar ada di sana atau tidak—ia juga bisa meninjau hutan bagian mana yang sekiranya memiliki tingkat riskan yang rendah.
Lagi, Claire dibuat bernostalgia hampir di setiap langkahnya. Tentang ia yang selalu mendapat detensi kemari nyaris setiap minggu, atau tentang uji nyalinya bersama Sam saat tahun ketiga mereka—untuk menjelajah Hutan Terlarang ini dari pagi sampai sore hanya untuk menemukan kawanan centaur dan seekor unicorn. Atau juga tentang acara kencannya dengan Adrian yang cukup anti-mainstream.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequoia | Severus Snape
FantasíaTidak pernah ada dalam agenda hidup seorang Claire Eleanore Edevane untuk kembali menginjakkan kaki di Hogwarts setelah hari kelulusannya. Selain karena pernah terjadi tragedi malang yang membuatnya sengsara, Hogwarts jugalah yang membuatnya menuai...
