46. Night Duty

91 22 2
                                        

Hogwarts tidak pernah berubah. Penuh akan tawa, cerita, dan keonaran. Claire baru saja selesai mengisi kelas tingkat tiga dengan materi Boggart. Sebenarnya tidak terlalu melelahkan, jika saja tidak ada murid yang tiba-tiba adu mulut. Mereka anak perempuan dari Slytherin dan Gryffindor—meributkan perihal anak laki-laki yang menjalin hubungan dengan keduanya.

Bahkan mengajar mahasiswa masih beribu-ribu kali lebih mudah daripada anak pubertas.

"Apakah mereka sampai melakukan kekerasan fisik, dear?" tanya Sprout yang dibalas gelengan oleh Claire.

"Tidak sampai melakukan kekerasan fisik," balas Claire, "hanya saling beradu argumen dan... menangis."

Professor Sprout tersenyum maklum. "Ah, cinta muda. Campuran paling berbahaya setelah ramuan Polyjuice yang gagal."

Claire terkekeh singkat, meski senyum itu cepat meredup. Ia menurunkan cangkir tehnya, memandangi permukaan cairan yang bergetar halus seolah mencerminkan pikirannya sendiri. Ada jeda kecil—terlalu lama untuk sekadar lelah.

Pintu ruang guru berderit pelan. Suhu ruangan seolah turun sepersekian derajat ketika sang pemilik resmi Dungeons melintas masuk. Snape tidak mengatakan apa pun, hanya melempar pandang singkat ke arah mereka sebelum mengambil tempatnya. Di samping Claire.

Tindakan Snape tidak lantas membuat Claire menoleh. Setelah makan malam waktu lalu, Claire memang sengaja untuk mengurangi pembicaraan dengan Snape, entah kenapa ia merasa tidak berani menatap kehitaman Snape. Rasanya Claire tidak bisa menahan emosinya, ia takut terlalu sentimental dan semuanya berubah kacau.

Jadi untuk dua hari terakhir, Claire sengaja menghindar dari Snape. Seperti tidak menghadiri makan malam, pergi ke chamber dan beristirahat lebih cepat, atau memilih jalur yang lebih jauh dan memutar daripada berpapasan dengan Snape.

Mungkin memang seharusnya ia mengomunikasikannya pada Snape alih-alih diam. Namun Claire masih butuh waktu dan ruang untuk mencerna—siapa Head Girl sekaligus pasangan James Potter itu bagi Snape.

Percakapan di ruang staf berjalan hangat, sehangat teh yang sudah terlalu lama berada digenggaman Claire. Di saat semuanya bersuara, menimpal banyak cerita dan tawa, Claire berusaha sekuat yang ia bisa untuk ikut menimbrung. Ia sebisa mungkin bersikap layaknya Claire Edevane yang Snape kenal sebagai partner membuat ramuan. Meskipun tidak dipungkiri Claire menangkap kernyitan Snape saat ia memaksa untuk menatap kehitaman pria itu.

Untuk beberapa waktu ini Claire meminta alam bersahabat dengannya. Namun nampaknya permintaan itu tidak diindahkan, bahkan dibuang tanpa belas kasih. Sebab malam ini adalah jadwal rutin Claire untuk berpatroli. Dengan Snape.

"Kenapa seolah kau sedang menghindariku?" suara itu menginterupsi keheningan koridor Barat.

Tidak lantas menjawab, Claire menunggu Snape berjalan di sebelahnya.

"Aku tidak menghindari siapa-siapa," jawab Claire dengan senyum tipis khasnya.

Snape tidak lagi menyahut. Ia lebih memilih untuk mengamati langkah Claire. Masih seperti biasa, hanya terasa lebih berat dan sedikit jauh...?

Koridor timur membentang panjang, obor-obor menyala stabil. Hogwarts pada jam patroli selalu terasa berbeda—lebih sunyi, dan entah kenapa, lebih memaksa orang untuk mendengar pikirannya sendiri.

Claire menangkap basah dirinya, sehingga kini Snape dapat dengan leluasa menatap kecokelatan Claire yang selalu nampak cantik dan memaksa untuk bertahan di sana.

"Kenapa?" tanyanya Claire.

"Kau melewatkan makan malam lagi," ujar Snape kemudian.

Claire mengalihkan pandangannya. "Banyak yang harus aku koreksi," jawabnya.

Sequoia | Severus SnapeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang