Minggu pagi dan Great Lake. Perpaduan antara dinginnya udara dan hamparan hitam yang memikat mata—nyatanya mampu membuat Claire mau meninggalkan selimut juga bantalnya untuk sekedar duduk dan menggambar di tepian.
Dulu, saat ia masih menjadi seorang murid, Claire sering datang kemari. Bersama Sam, Ad, Angel, atau hanya dengan dirinya sendiri. Sama halnya seperti sekarang, ia datang hanya untuk berdiam diri, mengistirahatkan mata juga pikirannya dari hiruk-pikuk sekolah. Tapi halnya berbeda saat ia datang bersama Adrian, Claire akan berubah menjadi orang paling cerewet sedunia hanya untuk menceritakan hal-hal remeh temeh sampai yang paling serius yang terjadi belakangan saat mereka tidak bertemu.
Ah ... Indahnya masa-masa itu.
Hela napas panjang terdengar, Claire memilih untuk melanjutkan goresan pensilnya alih-alih bernostalgia ke masa-masa dimana dirinya masih bermimpi tinggi.
SPLASH
Kepala Claire sontak terangkat. Keningnya mengernyit dalam, seirama dengan pandangannya yang ia coba untuk tajamkan di balik kacamatanya. Mengedarkan pandangnya menyusuri hamparan hitam di depannya. Tangannya perlahan melepas pensil dan menggantinya dengan tongkat.
Suara air yang dipukul oleh sesuatu membuatnya kembali teringat: ini Danau Hitam—tempat di mana para makhluk air yang mengerikan hidup.
Satu menit ...
Dua menit ...
Lalu menit-menit selanjutnya hanya diisi oleh suara gemericik air dan gesekan daun yang disapu angin. Prasangkanya tidak terbukti.
Tapi saat ia hendak kembali meneruskan aktivitasnya di kertas putih, suara itu datang lagi—sampai sekiranya ada lima kali, hingga membuat Claire terjaga.
Dengan penuh kewaspadaan, Claire memilih untuk merampungkan acara menggambarnya sampai di sini. Sebab kini ia sudah berdiri dari duduknya dengan tongkat yang siap di tangan kanannya.
BLBUK
Tepat saat suara yang berbeda dari sebelumnya terdengar, Claire segera mengdarkan pandangannya dengan lebih seksama. Matanya lantas menyipit kala menangkap satu objek yang hanya nampak sebagian di udara dan sebagian lagi di air.
"Merpeople?" gumamnya menduga.
Detik selanjutnya, objek itu menghilang—kembali masuk ke dalam air. Namun sayangnya hal itu tidak berhasil membuat Claire tenang. Hati juga pikirannya justru semakin kalut. Bagaimana kalau ternyata objek itu menangkap keberadaaanya dan tengah berenang ke arahnya? Atau malah tengah memberitahu kawanannya bahwa ada mangsa enak di tepian danau? Pertanyaan dampak negatif thinkingnya pun mencuat ke permukaan.
BLBUK
Mata Claire membleiak saat objek itu ternyata benar-benar berenang ke tepian—ke tempat di mana sekarang ia berdiri. Lalu saat objek itu hendak berbalik, Claire langsung merapalkan mantra.
"STUPEFY!" Tanpa berpikir panjang.
BLARK
Seketika itu juga Claire tersentak setengah mati saat dugaannya salah besar. Bukan Gryndillow apalagi Merpeople. Melainkan seorang lelaki yang dari perawakannya ia ketahui betul.
"Snape?!" pekiknya, "Accio Snape!"
Satu detik kemudian, objek itu kembali mencuat dan terbang begitu cepat ke arahnya. Lalu tanpa aba-aba pria keturunan Snape itupun jatuh dengan begitu keras ke permukaan tanah yang tak kalah kerasnya. Hingga membuat sang perapal mantra membeliak dan mendesis.
Pendaratan yang kurang sempurna. Kurang.
"Eurghh!" Dari suaranya saja Claire tahu kalau itu pasti sakit sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequoia | Severus Snape
FantasiaTidak pernah ada dalam agenda hidup seorang Claire Eleanore Edevane untuk kembali menginjakkan kaki di Hogwarts setelah hari kelulusannya. Selain karena pernah terjadi tragedi malang yang membuatnya sengsara, Hogwarts jugalah yang membuatnya menuai...
