Jalanan Boston yang basah setelah hujan sore selalu terasa aneh bagi Claire. Drafting tube tergantung di bahu, pikirannya setengah di kantor firma, setengah di kampus. Tiga tahun sudah berlalu sejak ia pindah ke Amerika Serikat, meninggalkan rutinitas yang dulu terasa monoton namun nyaman. Kini hidupnya dilingkupi oleh thesis untuk mengejar gelar Bachelor of Science in Architecture di MIT, lalu pekerjaannya di firma arsitektur yang ia bangun bersama dengan beberapa temannya.
Loop hidup Claire tidak pernah jauh dari kampus, apartemen, dan firma. Sesekali ia menghadiri pesta yang diadakan teman-teman kampus atau rekan firmanya. Claire tidak memungkiri, beberapa kebiasaan kecilnya berubah di sini.
Claire memilih untuk kembali ke firma, dia terbiasa bermalam di sana setelah kelas untuk mengerjakan draft alih-alih kembali ke apartemen. Namun kali ini meja kerjanya nampak sedikit berbeda. Di antara invoice dan laporan proyek, ada sebuah amplop cokelat tebal yang menonjol. Tertulis dengan tinta rapi, tulisannya khas Adrian Pucey.
Claire mengangkat alisnya dan tersenyum tipis. Undangan pernikahan.
Ia menatap amplop itu beberapa detik, merasakan campuran nostalgia. Hubungan mereka dulu—meskipun tidak terlalu dramatis—selalu hangat dan penuh tawa. Adrian Pucey, meskipun mantan kekasihnya, tetap teman yang dekat. Tidak ada rasa sakit, tidak ada dendam. Hanya pengakuan bahwa kehidupan terus berjalan.
"Kau jadi kembali ke Inggris minggu besok?" tanya Hannah, salah satu teman seperjuangannya untuk mendirikan firma dan mendapatkan klien pertama.
Alih-alih lantas merespon dengan kata-kata, Claire menyerahkan amplop itu pada Hannah.
"Wow. Hold on, you said that your ex's name..."
"Yep," ucap Claire menjawab kata yang menggantung Hannah.
Mata menyipit Hannah berubah menjadi membesar. "How absurd it is..." ujarnya tak habis pikir. Baginya hubungan dengan mantan kekasih itu hal tabu.
"Told you i have a good relationship with him tho."
Hannah mengangguk paham. "Tapi kau tidak menetap lama 'kan di Inggris? Katanya ingin segera menyelesaikan thesis-mu, lalu kita pindah ke Italia. Mekayla akan benar-benar menjadi Hulk dan menghancurkan Amerika kalau kau terus menunda," ujar Hannah.
Claire tertawa ringan. Mekayla dua tahun lalu pindah ke Italia mengikuti suaminya. Namun sejak Claire ke Amerika, Mekayla tak pernah absen menemuinya setiap bulan. Bahkan pada tahun pertama, ia menetap hampir enam bulan dan enggan kembali ke Inggris. Karena itu, ketika Claire dan teman-teman firmanya mengutarakan niat memindahkan kantor ke Italia—karena menurut mereka Amerika terlalu berisik bagi mereka—Mekayla selalu mendesak agar dipercepat. Wanita itu menjadi sangat dekat dengan teman-teman Claire.
"Aku di sana hanya satu minggu, Hannah," kata Claire.
Mata Hannah menyipit, telunjuknya mengarah tepat di wajah Claire. "I'll take your word for it," ancamnya.
Claire hanya tertawa kecil lalu melemparkan pensil ke arah Hannah saat wanita itu terus menatapnya demikian seraya berjalan mundur.
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Namun entah kenapa rasanya sedikit berat untuk kembali ke Inggris setelah sekian lama pergi. Ya, selama ini ia tidak pernah kembali. Keluarganya yang menemuinya di USA atau mereka saling bertemu di negara lain. Bukan karena alasan spesifik, Claire bosan dengan Inggris.
Atau mungkin memang ada satu alasan yang masih begitu keras Claire kubur dalam-dalam. Mereka memang tidak pernah mengisi setiap sudut Inggris, bahkan hanya satu bagian kecil yang pernah mereka datangi. Namun entah kenapa, setiap ia menatap langit Inggris, selalu ada bayangan yang tidak pernah Calire kehendaki. Terlebih lagi langit musim panas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequoia | Severus Snape
خيال (فانتازيا)Tidak pernah ada dalam agenda hidup seorang Claire Eleanore Edevane untuk kembali menginjakkan kaki di Hogwarts setelah hari kelulusannya. Selain karena pernah terjadi tragedi malang yang membuatnya sengsara, Hogwarts jugalah yang membuatnya menuai...
