Oxford selalu memiliki caranya sendiri untuk memberikan kisah manis pada sepasang insan. Akhir minggu yang sibuk bersamaan dengan cuaca dingin yang masih dapat ditoleransi. Jingga nampak memenuhi sudut-sudut kota akademik ini.
"Kapan terakhir kali kau pergi ke London?" tanya Claire pada pria di sebelahnya. Mereka baru saja ber-apparate di salah satu gang yang sepi orang.
"Dua tahun lalu?" jawab Snape yang terdengar tidak yakin. Ia berakhir mengedik saat masih mencoba mengingat. Snape memang jarang ke London, ia lebih sering ke Dungeons, Great Hall, kelas—Hogwarts. Lagipula ada urusan mendesak apa dia sampai harus menginjakkan kaki di pusat muggle itu?
Tidak ada.
"Ah, i see," gumam Claire seraya mengangguk paham.
Keduanya memilih untuk bungkam saat suasana ramai jalanan di kota Oxford mengalihkan. Claire terlalu sibuk memikirkan kudapan manis apa yang akan ia beli di sana, dan apakah ia akan membeli kopi juga atau beralih ke store lain untuk memberi jus buah. Sementara Snape fokus untuk memperhatikan sekitar. Benar-benar banyak orang, dari yang lokal hingga turis. Namun di samping itu, Snape sesekali menoleh ke samping hanya untuk menemukan apakah Claire masih ada di sampingnya atau menghilang di telan muggle.
"Apartemenmu jauh dari sini?" tanya Snape memecah keheningan di ruang mereka.
Claire sontak menoleh dengan gelengan, sepersekian detik kemudian ia mengangguk. "Tidak dekat, tapi juga tidak jauh. Kalau menggunakan transportasi umum, kurang lebih lima belas menit. Kalau jalan kaki, mungkin ada satu jam...? Kalau aku mampir dulu ke Pub," sahut Claire yang diakhiri tawa kikuk. Ia bahkan memelankan enam kata terakhirnya.
Pernyataan gamblang Claire membuatnya mendapatkan lirikan elang juga helaan napas berat dari Snape. Lantas saja Claire menyambar saat Snape hendak mengeluarkan satu kata.
"Aku ke Pub bukan untuk mabuk, lho ya!" ujar Claire seraya menunjuk Snape dengan telunjuknya untuk sekejap. "Burger di sana enak, beda dengan burger di tempat lain apalagi di tempat fast food. And the beer is also brewed in-house. So... yeah," sambungnya mengklarifikasi.
"Tapi kau selalu berakhir mabuk?" tembak Snape, "meskipun kau tidak berniat demikian."
And she was too stuned to speak.
"I think it was human nature, no?" ungkap Claire lirih masih diakhiri tawa kikuk.
Snape melancarkan jarinya untuk lagi-lagi menghimpit hidung bangir Claire. "Naughty," katanya.
Sementara Claire mengusap puncak hidungnya sembari mengerucutkan bibirnya, Snape menariknya untuk lebih dekat dengan merengkuh pinggang wanita di sampingnya.
"Berapa kali kau di antar pulang dalam keadaan mabuk?" tanya Snape dengan pandangan lurus ke depan.
"Tidak sering kok—sepertinya, aku biasanya tidak minum terlalu banyak," jawab Claire yang direspon oleh Snape dengan dua anggukan dan tatapan yang terkesan memaksakan 'iya'.
Claire hendak menambah pembelaan diri, namun saat hidungnya menangkap aroma hangat roti dan kopi, ia terdiam. Senyumnya lantas mengambang. Rasanya sudah sangat lama ia tidak mengunjungi Salleo Bakery, saat libur tahun baru kemarin ia tidak sempat datang kemari. Terlalu sibuk dengan acara keluarga, teman, dan sempat diundang makan malam bersama para dosen dan guru besar Oxford.
Melihat ekspresi Claire yang berubah secepat cahaya, Snape paham bahwa tempat yang ingin dituju ada di depan sana. Nampak ramai, namun masih terkesan kondusif. Mereka berbelok masuk dan berhenti tepat di depan etalase berisi kudapan-kudapan manis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequoia | Severus Snape
FantasyTidak pernah ada dalam agenda hidup seorang Claire Eleanore Edevane untuk kembali menginjakkan kaki di Hogwarts setelah hari kelulusannya. Selain karena pernah terjadi tragedi malang yang membuatnya sengsara, Hogwarts jugalah yang membuatnya menuai...
