3. Budaknya Tuan Snape

710 89 6
                                        

Fifth Year-End of 1993

Tahun kelima. Usia Claire sekarang sudah menginjak 17 tahun. Tidak ada yang istimewa, semuanya masih damai pada tempatnya... 

"EDEVANE!"

... atau mungkin tidak?

"Ada apa, Prof? Argumen benarku ada yang pongah? Bukankah memang benar, kalau rincian bahan ramuan yang kau sampaikan barusan memiliki sedikit kesalahan? Akui saja sudah. Lagipula mengakui kesalahan seperti itu tidak akan membuatmu mendapakan dosa besar," tukas Claire dengan senyum miring yang kentara.

Di depan sana, Snape menampakkan wajah kebas dengan rahang yang terlihat jelas. Giginya ia gertakkan seirama dengan emosi yang ia tahan mati-matian. Matanya terpejam sejenak. Ini sudah setengah jam, dan argumen antara dirinya dengan bungsu Edevane itu masih saja berlanjut.

Semua ini berawal dari Snape yang tengah menjelaskan materi mengenai satu ramuan yang dimana dalam penjelasan tersebut terdapat sedikit kepongahan di dalamnya. Karena ketidak telitiannya itu Snape bermaksud untuk menyembunyikan kesalahannya-- err, tidak perlu repot-repot menyembunyikan juga sih sebenarnya. Toh tidak akan ada yang berani menegurnya. 

Kalau saja! 

Kalau saja tidak ada sosok mendongkolkan keturunan iblis neraka yang menyamar menjadi seorang bocah sinting bernama Claire. Kelas tidak akan sekacau sekarang.

Di sisi lain, Snape juga merutuk dirinya sendiri yang dengan ceroboh agaknya melupakan keberadaan makhluk jadi-jadian itu di kelasnya.

"Prof, akui saja. Daripada nanti saat praktik malah kelas menjadi benar-benar hancur karena kesalahan kecilmu saat menyampaikan teori. Lebih baik kau mengakui kesalahanmu itu dan mengulang penjelasanmu." Lagi, Claire menjatuhkan telak harga diri Snape.

Kelas hening. Tidak ada yang berani melerai, sekalipun si tampan keturunan negeri Pizza di samping Calire ini. Ia bahkan sudah mengurut pelipisnya, sebab perempuan di sampingnya masih enggan mengalah. Begitu juga dengan pria tua di depan sana yang tidak mau harga dirinya semakin terinjak. Meskipun tidak dipungkiri kalau yang dikatakan Claire memang benar adanya.

Disisi yang berbeda, alih-alih tertawa puas penuh kemenangan, anak-anak asrama Snape yang selalu saja menyulut emosi Claire ini  justru ikut jantungan melihat sengitnya perdebatan antara Kepala Asramanya dengan sang bandit dari Gryffindor itu. Takut-takut kalau Snape benar-benar kalah dalam argumen ini.

"Miss Edevane! Ku peringatkan kau--"

"Peringatkan apa, Sir?" penggalnya dengan senyum menantang, kontras dengan air wajah Snape yang sudah tidak ada titik baiknya sama sekali. 

"Bukankah seharusnya kau berterima kasih kepadaku--setidaknya, karena sudah membantumu mengoreksi kesalahanmu itu? Kau tidak perlu repot-repot malu, yang kau butuhkan hanyalah me-nga-kui. Mengakui apa? Kecerobohanmu. Kecerobohanmu dalam menjelaskan rincian ramuan yang tergolong riskan dampaknya jika sampai salah, meski hanya kesalahan kecil seperti yang kau lakukan tadi," imbuhnya tepat sebelum suara Snape kembali mengalun di telinganya.

"GET--"

"Bukan malah mendebatku dan menyuruhku keluar. Kalau seperti itu caramu menanggapi suatu koreksi, kau tidak ayal hanya seorang guru picik, Sir. Sorry not sorry, but i've to do this, atau praktik minggu depan akan mengantarkan banyak murid ke Hospital Wing." 

Final.

Claire sudah menarik napas panjang dan mulai malas untuk mengeluarkan banyak kata dari mulutnya. Ia kini akan memilih untuk diam dengan terus memajang senyum simpul yang nampak ramah di wajah ayunya, jika saja matanya tidak menyorot tajam membalas tatapan Snape yang tidak kalah menusuk.

Sequoia | Severus SnapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang