"Aku surat dari Headmaster," kata Claire yang lantas menarik atensi Snape. Pria itu baru saja keluar dari kamar seusai menuntaskan hajatnya.
"Apa isinya?" tanya Snape sembari mendekat.
Claire memberikan surat yang digenggamnya pada Snape. "Cassandra mengundurkan diri. Alasannya karena ia mendapatkan tugas darurat dari kementerian, dan tidak bisa digantikan. Kemungkinan nanti ia akan kemari untuk mengambil barang-barangnya dan berpamitan," sahut Claire yang diangguki oleh Snape usai ia membaca isi suratnya.
"Hope she's okay. Ayo makan siang dulu, aku tahu kau sudah sangat lapar," ajak Snape seolah ia tidak menaruh kepedulian sama sekali pada kemunduran diri Cassandra yang notabene-nya adalah temannya.
Mendengar hal tersebut, Claire mengernyit sekejap sebelum akhirnya mengikuti ajakan Snape. Tidak tahu saja Claire kalau pria keturunan Tobias ini tengah menghela napas lega sembari berseru di dalam benaknya sebab bebannya sudah menghilang. Muak sekali rasanya menghadapi Cassandra dengan segala kehebohan yang tidak bisa ia tolerir lagi. Snape tahu Cassandra memang tipikal ceria dan sangat talkative, tapi entah kenapa semenjak pertemuan mereka dengan Claire saat salju pertama turun—sikapnya berubah. Berubah menjadi lebih dan lebih aneh, hingga membuat Snape kelelahan menghadapinya.
"Jujur saja aku takut..." kata Claire setelah hampir seperempat jam ruangan ini hening tanpa adanya percakapan.
"Takut kenapa?" tanya Snape seadanya.
Dengan hela napas yang terdengar berat, Claire mengangkat pandangannya untuk menatap Snape yang sudah sedari tadi menaruh atensi padanya.
"Hm?" Snape memastikan sebab Claire hanya menatapnya dan tidak segera menjawab pertanyaannya.
Diberi isyarat demikian, Claire justru menjatuhkan atensinya dan menggeleng pelan. "Nah... Nothing," bisiknya yang membangkitkan kernyitan di dahi Snape.
Tentu ada sesuatu yang mengganjal pikiran Claire, sialnya perempuan itu sudah menggunakan mantra Occlumency. Tidak biasanya perempuannya begini. Apalagi sampai menggunakan mantra untuk memagari pikiran seperti itu. Seolah Claire memang tidak ingin berbagi bebannya dengan Snape, entah apa alasannya.
"If she's mature, Claire. She would understand."
Usai Snape mengucapkan beberapa kata itu, Claire hanya mengangguki. Mereka menghabiskan makan siang mereka dengan diselingi beberapa percakapan ringan, dan dapat dikatakan perbincangan kali ini masih Claire yang mendominasi. Ia menceritakan keluarganya but the most tell is Kai. Tidak satu dua kali Claire menggeleng dan menghela kasar napasnya kala bercerita mengenai pria itu.
Rutinitas kembali berputar seperti loop yang tiada hentinya. Perlahan namun pasti, matahari digeser singgasananya oleh sang malam tanpa bulan, memberikan dingin yang cukup membuat tubuh bergidik.
"Ramuanmu penawarmu bagaimana, Sev?" tanya Claire sembari membawa cokelat panas untuk dirinya sendiri dan duduk di meja bersama Snape yang sudah menghabiskan teh buatan Claire.
Gelengan mengawali jawaban Snape. "I don't know, Cassandra took it to the ministry. Dan sekarang wanita itu mengundurkan diri, jadi aku belum tahu bagaimana progresnya."
"Oh? Kau sudah menyelesaikannya?" Mengingat beberapa hari lalu terdapat kerenggangan di antara mereka, ditambah lagi dengan kondisi bahu juga tulang selangkanya yang memburuk—Claire tertinggal update-an penting.
"Sudah, tiga hari lalu," jawab Snape yang lantas diangguki Claire. Progresnya lebih cepat dari dugaan Claire.
"A master of potion, eh?" ledekan Claire itu dengan cepat mendapat balasan sebuah jentikan dari Snape di kening Claire.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequoia | Severus Snape
FantasyTidak pernah ada dalam agenda hidup seorang Claire Eleanore Edevane untuk kembali menginjakkan kaki di Hogwarts setelah hari kelulusannya. Selain karena pernah terjadi tragedi malang yang membuatnya sengsara, Hogwarts jugalah yang membuatnya menuai...
