47. Nothing That Matters

64 17 12
                                        

Lily Evans, gadis kecil dengan mata hijau yang ditemui Snape di taman bermain dekat rumah mereka. Keduanya saling mengenal jauh sebelum Hogwarts datang—atau dapat Claire katakan, jauh sebelum James Potter merebutnya dari Snape. Saat itu usia mereka 9 tahun, Lily mengetahui dirinya penyihir dari Snape, dan Snape yang memberi tahu Lily mengenai dunia sihir. Mereka memiliki ikatan yang kuat jauh sebelum akhirnya dipisahkan oleh asrama dan asmara.

Lily bukan hanya teman, dia adalah satu-satunya tempat aman Snape saat itu. Dunia seakan tidak berpihak pada Snape—McGonagall tidak menceritakan lebih banyak tentang ini—dan Lily hadir. Polos, murni, dan tulus. Lily mampu memberikan dunia baru yang tidak pernah berani Snape impikan. Lily berhasil memberikan tawa pada hidup Snape yang terlalu gelap dan suram untuk sekedar dilihat.

Lily adalah cinta pertama Snape. Hidup dan mati Snape, hanyalah untuk Lily. Hingga suatu tragedi terjadi, karena Snape dan rasa cemburunya. Tragedi keji yang mengangkat nama Harry Potter—juga menjadi titik balik Snape menyerahkan 'nyawanya' pada Dumbledore sebagai taruhan untuk membayar semua yang sudah ia perbuat.

Setidaknya itu yang ia dapatkan dari McGonagall beberapa hari lalu. Tidak banyak dan tidak kompleks, sebab Claire tidak memintanya sebanyak itu, dan McGonagall masih menghormati Snape sebagai tokoh utama yang lebih berhak atas cerita ini.

Ingin sekali Claire tidak memikirkan perihal ini. Sebab berani bersumpah, otak Claire terasa lebih berat dan pusing. Ia kesusahan untuk lebih fokus seperti sebelumnya dan itu mengganggu.

Lalu seperti sebuah kebiasaan, Claire memilih jalan menuju chamber-nya alih-alih ke Great Hall untuk makan malam. Ia tidak berselera untuk makan bersama ratusan anak-anak yang bising dan akan membuatnya kian pusing.

Namun saat ia hampir sampai di depan pintu chamber-nya, sebuah tangan melingkar di perutnya secara tiba-tiba. Claire terkejut, terlebih lagi saat wajah Snape terlalu dekat dengannya.

"Makan malam di Great Hall," kata Snape yang lebih cocok dikatakan sebagai titah. Ia melepaskan tangannya dari sana dan melangkah ke hadapan Claire. "Kalau masih ada yang mengganggu pikiranmu, bicarakan padaku. Jangan seperti ini."

Claire terpaku sejenak. Cara Snape berkata-kata seolah ia tahu apa yang masih mengganggu Claire hingga kini.

Gelengan singkat dengan senyum tipis mewarnai air wajah Claire. "Aku baik-baik saja. Hanya lelah dan butuh lebih banyak istirahat."

"Tapi kau melewatkan makan malam."

"That's alright."

"Dulu kau yang bilang padaku jangan pernah melewatkan makan malam setelah beraktivitas seharian," ujar Snape. Tatapannya menajam sepersekian detik lalu berubah. Decihan terdengar sarkas. "Apakah kata-katamu hanya berlaku saat pandemi, miss? Agar aku tidak sakit dan kau tidak bekerja sendirian? Sungguh egois."

Mendengar bagaimana Snape menyinggungnya terang-terangan, Claire hanya menjatuhkan pandangannya sejenak sebelum menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan.

"Bukan seperti itu, Sev. Aku hanya lelah," kata Claire benar-benar mengisyaratkan bahwa ia lelah.

"Dan kau akan berakhir sakit jika kau beristirahat dengan perut kosong," ucap Snape tetap pada pendiriannya untuk membuat Claire pergi ke Great Hall. Atau setidaknya makan malam. Snape tidak pernah percaya setiap kali Claire bilang ia sudah makan kudapan dari house elf.

Claire menggeleng sembari mengulum bibirnya. "Aku tidak akan sakit."

Tanpa aba-aba, Snape mengangkat tangannya dan menempelkan punggung tangan ke kening Claire. Hal itu jelas membuat Claire terkejut, tapi yang bisa ia tunjukkan hanya pejaman mata dan helaan napas pelan.

Sequoia | Severus SnapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang