37. Great Drama

438 54 12
                                        

"Forgive me." 

Kata-kata itu keluar begitu enteng bak tanpa hambatan. Seolah yang berlutut di hadapannya kini bukanlah seorang Severus Snape. Sebab mau sampai dipikir menggunakan otak Nicholas Tesla sekalipun tidak akan pernah bisa masuk di akal manusia normal. 

Bagaimana bisa, pria yang dulunya terkenal begitu dingin, datar, kejam bin bengis bisa berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena kehadiran seorang Claire Edevane yang notabenenya musuh bebuyutan pria ini? Bagaimana bisa, seorang yang bahkan masuk ke dalam list Death Eater bisa berlutut di hadapan seorang wanita asing sepertinya?

Mungkin kalau ada daftar '7 keajaiban dunia' yang satu ini bisa masuk. 

Karena memang setidak masuk akal itu. Tapi mau berbicara sampai berbusa pun, ketidak masuk akalan memang wajar dalam hal cinta. Bukan?

"Forgive me."

Lagi. Snape kembali memohon. Namun, selirih suara pun tidak terdengar dari pihak Claire. Wanita itu masih geming menatap pria yang berhasil mengegoiskan hatinya itu dengan tatapan yang masih sama. Sukar diterjemahkan dengan gamblang.

"Forgive me."

Untuk yang ketiga kalinya, Snape akhirnya melepaskan genggamannya pada tangan Claire. Untuk kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha dan menunduk.

"Forgive me."

Mungkin sampai kiamat datang, Snape akan tetap pada posisinya. Mengucapkan kata yang sama berjuta-juta kali. Sebab hingga kini, ia tetap menolak untuk kembali kehilangan dengan dosa yang belum tertebus. Ia enggan untuk kembali mati dalam peti penuh penyesalan.

"Forgive me."

Hingga pada yang kelima, kepalanya terangkat. Wajah ayu yang begitu asri untuk ditatap-ada di hadapannya. Tangan halusnya yang selembut salju perlahan menggerayangi wajah Snape. Menangkupnya dengan ibu jari yang mengusap begitu hangat. Mengundang senyum tipis yang lambat laun mengembang hingga mata.

"Thank—"

PLAK

Bahkan tidak terselip satu detik pun scene ini akan terjadi. 

"Untuk semua sandiwara bodohmu yang terlewat tolol."

"Cla—"

PLAK

Satu lagi...

"Untuk sikap kasarmu padaku saat tanganku hampir mati rasa."

PLAK

Dan lagi...

"Untuk sikap menjijikanmu saat aku sedang sekarat."

PLAK

Mungkin terakhir kalinya?

"Untuk ciumanmu dengan Cassandra."

Ya, tamparannya terhenti. Kini kedua pipi Snape terasa begitu panas sekaligus perih bukan main. Tamparan Claire tidak bisa dianggap sebagai gurauan wanita semata. Yang satu ini berbeda. Memang preman Claire ini.

"Is it ov—"

BUGH


—————


"Ssh, aww—"

"Shut up." 

Snape otomatis langsung diam tak berkutik. Mulutnya kembali mengatup, mendorong ringisan yang sudah sampai di ujung lidah untuk kembali masuk ke dalam hati. 

Sequoia | Severus SnapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang