11. Severus, Thank You

580 79 8
                                        

maaf yaa kalo ada notifikasi tapi bukan update chapter baru. abaiin aja, ga usah digubris. cuma mau ganti sesuatu, nanti juga tahu kok.

.

.

.

"Oh dear, malang sekali nasibmu. Belum dua bulan penuh kau ada di sini, dan kau sudah terbaring di Hospital Wing karena para murid." Itu suara McGonagal, Claire mengenalnya. Wanita tua itu juga terasa seperti tengah mengelus sayang kepalanya.

"Pengagummu benar-benar luar biasa, Severus." 

Peeves?

"Diam kau." Lalu suara cekikikan si Poltergeist terdengar nyaring tepat setelah dirinya mendapat teguran dari sang penghuni Dungeon.

"Headmaster." Itu Sinistra. "Bagaimana dengan hukuman bagi para murid? Disamaratakan atau ...?"

"Oh no, of course, Madam. Mereka yang terbukti sebagai pelaku kekerasan akan mendapat hukuman lebih berat. Dan aku juga akan mengirim surat panggilan kepada orang tua mereka."

Desah lega yang juga diselipi ketidak percayaan mengekori jawaban Dumbledore. 

"Aku masih tidak percaya dengan perangai mereka." McGonagal kembali bersuara dengan nada kecewa.

"Seperti binatang buas." Cicitan Sybill agaknya mengundang keterkejutan, sebab setelahnya Claire tidak mendengar respon apapun. 

Kecuali, "Tidak, mereka bukan binatang buas, Ma'am. Mereka anak-anak. Remaja yang masih mengalami masa pubertas dengan ketidakstabilan emosi. Dan mereka menyalurkan emosinya pada sesuatu yang tidak seharusnya. Mereka hanya anak-anak yang butuh bimbingan lebih, Ma'am." Begitu kata Dumbledore yang Claire dengar terakhir kali sebelum kesadarannya kembali menghilang. 

...

...


"CATCH YA AHAHAHA!!"

Blip

...

Seharusnya Claire tahu, dia takut kecoak. Mustahil dia bisa menangkap makhluk luar tata surya yang bahkan lebih menyeramkan dari Grindelwald dan Voldemort. Alien saja kalah menakutkannya. 

Dan mustahil pula, jika Kai berubah menjadi kecoak yang lihai mengembat makanannya. 

Lalu dengan sisa sakit kepala yang masih begitu terasa, Claire berusaha bangun dari baringnya. Dia lantas menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang sembari mengambil gelas berisi air putih di atas nakas. Kerongkongannya terasa kering-kerontang.

Jujur saja, setelah mendengar samar-samar suara para professor yang berbincang mengenai tragedi tadi, Claire tidak lagi pingsan. Ia memilih melanjutkan pejamannya dengan tidur hingga dini hari ini, sialnya. 

Usai menyumbang calon urine, Claire menghela napas kala melihat arlojinya. "Kenapa tidak sampai pagi saja sih?" 

Tanggung memang bangun jam segini, tapi kalau dia tidur lagi yang ada kepalanya pecah karena kebanyakan tidur. Jadi karena alasan demikian, Claire memilih untuk berdiri. Ia menggunakan kembali sepatunya dan memakai kacamata minusnya.

Claire memilih untuk kembali ke ruangannya dan menghabiskan sisa malam di sana, daripada berdiam diri di sini dengan suasana agak seram.

"Kenapa mau pergi?"

"Oh fuck! PEEVES!!" 

Demi apapun Claire terkejut setengah mati. Rasanya seperti jantungnya meluncur ke usus besar dan terus melaju hingga berhenti di ujung gerbang anus.

Sequoia | Severus SnapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang