"My dad isn't here, he's taking care of another business in... Italy if i'm not mistaken, and so is mom. So... it's just the children. Kau tidak akan kikuk bertemu dengan mereka, kan?" tanya Claire memasuki mansion seraya melepas blazer coklatnya.
Snape hanya diam dan melempar Claire dengan tatapan yang sulit diartikan. Seperti berkata, 'asal kau di sampingku', atau 'asal tidak ada bocah berkepala kosong, aku siap'.
Mansion ini cukup luas untuk dihuni satu orang. Fasad batu alam berpadu indah dengan kayu memberikan kesan mewah dan tenang pada waktu yang sama. Bangunan beratap pelana craftsman dan berlantai dua ini berdiri begitu anggun dalam ketenangan. Gaya classic American dengan sentuhan modern mewarnai tiap sudut mansion ini.
Baru satu langkah kaki mereka menginjak area ruang tengah, keduanya menemukan seorang anak laki-laki yang nampak berusia 3 tahun tengah merebahkan dirinya di atas sofa. Tangannya sibuk memegang botol berisi susu, sesibuk mulutnya. Matanya setengah tertutup, lebih mirip seperti sedang menahan kantuk.
"William," panggil Claire yang membuat anak bernama William Hunter-Edevane itu membuka mata seratus persen.
Tanpa mengeluarkan kata, William meletakkan botol susunya ke atas meja dengan hati-hati lalu berlari ke arah Claire dengan membentangkan tangannya.
"I miss you," ucap William yang terdengar sedikit serak. Anak yang Snape tebak keponakan Claire itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher aunty-nya. Ia nampak menangis.
"I miss you too, boy. Don't cry," balas Claire seraya mengusap kepala William. Ia melempar tatapan pada Snape dengan senyum tertahan.
Tak lama William mengangkat kepalanya, ia menangkup wajah Claire dengan tangan kecilnya. "Miss you, El," katanya lagi lalu mencium ujung hidung Claire.
Hal itu jelas membuat Claire terkekeh, ia balas mencium ujung hidung keponakannya. "Miss you too, my boy," sahut Claire seraya mengusap air mata dari wajah William. Anak itu tersenyum lebar dan mengangkat alis.
Saat kepalanya menoleh, senyum itu memudar. "Who are you, sir?" tanyanya begitu berani.
Belum sempat Snape menjawab, tangan kecil William sudah lebih dulu terjulur ke arahnya.
"William Hunter-Edevane," ujar William memperkenalkan namanya. Masih terdengar tidak begitu jelas dalam penyebutan 'R'.
Snape lantas meraih tangan kecil itu. "Snape. Severus Snape," jawabnya tidak datar, namun tidak dapat dikatakan bersahabat.
Jabatan tangan mereka terlepas, seirama dengan senyum William yang mengembang. "Uncle? Can i call you uncle Sev?" tanyanya begitu sopan.
Anggukan singkat mengawali jawaban Snape. "Yes."
Melihat itu, Claire tak mampu menahan senyumnya. Ia mencium salah satu pipi William. Tidak sia-sia ia membacakan buku mengenai attitude dari sejak William berusia 5 bulan 20 hari.
"Where's Papa?" tanya Claire sembari berjalan entah ke mana, Snape hanya mengekor.
Baru bertemu dengan anak kecil, Snape merasa sedikit kikuk saat William terus-terusan menoleh ke arahnya dengan netra biru berbinarnya. Iya, anak itu memiliki warna iris yang berbeda, mungkin dari ibunya.
Mereka sampai di dapur, di mana semua orang tengah berkumpul. Ada yang sibuk memasak main course, memanggang roti, membuat adonan dessert, memotong buah yang rasanya tidak selesai-selesai sebab ada yang memakannya terus-terusan.
"Professor Snape?"
Dan ya, acara makan semangka Samuel terhenti saat Snape berhenti di dekatnya. Ia lantas membersihkan tangan dengan tissue yang ada di atas meja kitchen bar, menjabat tangan Snape secara formal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequoia | Severus Snape
FantasyTidak pernah ada dalam agenda hidup seorang Claire Eleanore Edevane untuk kembali menginjakkan kaki di Hogwarts setelah hari kelulusannya. Selain karena pernah terjadi tragedi malang yang membuatnya sengsara, Hogwarts jugalah yang membuatnya menuai...
