13. Slander

425 75 9
                                        

"ARGHH! I'LL KILL YOU, SEVERUS RUBISH SNAPE!"

BRUK

Tepat sebelum Claire melayangkan tinjunya lagi, Snape sudah lebih dulu meraih kedua tangan keturunan Edevane itu dan membalikkan posisi. Kini Claire yang terbaring dengan Snape berada tepat di depan wajahnya. Kedua tangannya dikunci Snape di samping kepala Claire. Ia jadi tidak bisa meninju wajah si pemilik manik hitam, padahal jarak dekat lebih ampuh.

Deru napas antara keduanya bertarung di celah yang ada. Mungkin bagi mereka yang otaknya kotor, posisi seperti ini akan memungkinkan terjadinya adegan dewasa. Tapi bagi dua manusia ini tidak. Justru yang tersirat di kepala mereka hanyalah, bagaimana untuk melenyapkan satu sama lain. Otak mereka hanya berisi tentang balas dendam.

Lantas beberapa detik setelahnya, saat deru keduanya mulai normal, Claire menelengkan kepalanya ke samping kiri, seringaian sarkas terlihat jelas. "Rupanya kau tidak hanya seorang penindas, tapi juga seorang cabul yang suka melecehkan wanita, eh?" tanyanya yang tentunya langsung menarik pitam Snape.

"Shut your fucking mouth. Tidak usah membuat kesimpulan bodoh seperti itu," katanya rendah namun terdengar sekali bahwa ia marah.

"Tapi bukankah memang begitu? Ini buktinya," ujar Claire kian memancing sembari menunjuk tubuh Snape yang mengukungnya menggunakan dagunya. "Kalau kau memang bukan seorang yang cabul, mana mungkin kau betah di posisi ini," imbuhnya dengan kekehan sarkas.

"Diam," geramnya, "Sebelum aku benar-benar membunuhmu."

Tawa sumbang lantas terdengar. "Bunuh saja aku, kebetulan aku sudah mengantuk."

"You—"

Dugh!

Seketika itu juga, roh Snape terasa seperti terangkat dari raganya sebelum akhirnya kembali menyatu. "A-Aww—aa-arkhh—shh." Cicitan malang terdengar menggembirakan di telinga Claire.

"Aku tahu," katanya sembari melepaskan genggaman tangan Snape yang kian mengerat namun kian mudah untuk dilepas. Dan setelahnya, ia mendorong tubuh Snape yang kepalanya sudah tenggelam di kasur—ke samping kanan dengan hanya menggunakan telunjuknya.

Claire lantas berdiri. "Pasti sakit, ya?" lanjutnya dengan senyum lebar. "Makanya jangan cabul."

Snape jelas masih belingsatan ke samping kanan dan kiri sembari memegangi asetnya. Patah, pasti ini patah. Begitu duganya dalam benak.

Lalu saat ia masih menderita begitu parah, Claire menepuk pantatnya dua kali yang sontak membuatnya menatap wanita—setan, iya SETAN! Menatap setan gila itu dengan rasa yang masih tidak karuan.

"Aku akan tidur, seperti yang kau perintahkan tadi. Selamat malam, Professor Severus Snape yang terhormat," pamitnya seraya melambaikan tangan, berdadah ria dan melayangkan flying kiss untuk pria yang masih belingsatan.

Telunjuknya mengudara, menunjuk Claire yang sudah berbaring manis tengah merapikan selimut di tubuhnya.

"Oh me?" Claire menunjuk dirinya sendiri lalu terkikik. "Iya, sama-sama. Aku juga tahu kok kalau aku cantik. Good night, Sir. Have a nice dream, pai-pai," sambungnya dan sekali lagi melambai lebay yang meledek.

Menit-menit selanjutnya telinga Claire masih dialuni suara rintihan Snape, hingga akhirnya ...

"YOU LITTLE SHIT—EURGHH!"

Yang sontak membuatnya tersenyum dalam perjalanan menuju lelap.

Yes, menang!


—S E Q U O I A—



Sequoia | Severus SnapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang