36. Right Time

384 51 10
                                        

Setelah hari di mana Cassandra menyatakan bahwa pria dengan rambut panjang hitam itu adalah miliknya, Claire mengambil jarak lebih dengan keduanya. Dia mengurangi frekuensi interaksinya dengan Snape, mengambil langkah lebih jauh dengan pria itu.

Seperti tadi pagi, kala Claire tengah menunggu air masak untuk melarutkan bubuk cokelatnya—Snape datang menghampiri. Pria itu menyejajarinya, jarak mereka tidak sampai satu meter sebelum Claire akhirnya bergeser lebih jauh. Dan saat Snape hendak mendekatinya lagi, Cassandra mengisi ruang di antara mereka, hingga akhirnya Claire memilih untuk mundur sebab cokelatnya sudah jadi.

Lalu saat Cassandra izin ke kamar mandi, Snape mengambil kesempatan itu untuk mengunjungi meja Claire. Tapi kala senyumnya hendak melebar, teriakan dari dalam kamar yang disusul keluarnya Cassanda menghentikannya. Langkahnya yang bahkan belum keluar dari area mejanya lantas Snape bawa untuk mengikuti permohonan Cassandra sebab di dalam kamar mandi ada belalang sembah. Padahal tongkat wanita itu ada di nakas kamar yang jaraknya tidak sampai lima meter dari kamar mandi.

Tidak sampai disitu saja, saat Claire hendak pergi ke asrama Slytherin untuk tidur. Snape mengikutinya dari belakang, belum juga pria itu berhasil berjalan di sampingnya, lengan Claire sudah lebih dulu digandeng oleh Cassandra. Membuat sang master ramuan menghentikan langkahnya dan kembali ke laboratorium.

Kemudian saat Claire hendak memejamkan matanya, Cassandra berpindah tempat ke sampingnya dan memohon padanya untuk jangan dulu tidur sebab ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Dan coba tebak apa itu.

Claire hanya mengangguk setiap kali Cassandra bertanya. Dia selalu seantusias itu bercerita tentang Snape. Tidak ada yang penting, hanya puji dan puja akan kehebatan seorang Severus Snape yang mempertaruhkan nyawanya untuk dunia sihir, atau tentang saat Cassandra menenangkan pria itu di hari di mana Lucius Malfoy mati.

Dan jam lima pagi ini, dengan langkah tanpa suara, Claire meninggalkan chamber juga Cassandra. Dia ingin membuat ramuan lebih gasik agar setidaknya nanti ia bisa sarapan ataupun makan siang sembari duduk, bukan berdiri.

Setibanya di laboratorium, netranya tidak menangkap satu entitaspun di sana. Sama seperti keadaan di luar, hening bak tak ada manusia seorangpun.

Baguslah, Claire jadi bisa membuat ramuannya dengan tenang. Mungkin akan lebih sempurna lagi jika ditemani secangkir kopi panas yang kepulannya—setidaknya bisa mengusir seluruh pepak di kepala. Ya, Claire akan membuat kopi terlebih dahulu.

Baru juga kakinya kembali melangkah satu jengkal, jantungnya sudah berdegup begitu kencang. Pertanyaan-pertanyaan seperti: apa pria itu ada di dalam kamar? Atau, apakah pria itu mengetahui dirinya berada di sini? Bagaimana kalau nanti pria itu tiba-tiba keluar kamar bersamaan dengan langkah kakinya menyejajari pintu? 

Bagaimana kalau

Apakah pria itu

Mungkinkah—

"Shut up!" lirihnya penuh penekanan sembari memukul kepalanya. "Just. Dont. Give. A. Fuck," sambungnya sembari meyakinkan diri sebelum akhirnya kembali melajukan langkahnya. Lalu saat ia hampir menyejajari pintu, Claire menambah kecepatan jalannya dengan langkah lebar.

Dengan hela napas lega, ia mengusap dadanya kala berhasil sampai di depan meja yang kini dialihfungsikan sebagai kitchen set ini. 

Claire lantas menoleh ke arah pintu. "Jangan dulu bangun sebelum Cassandra ke sini, okay?" bisiknya. 

Detik berikutnya, Claire isi dengan gerakkan hati-hati. Saat mengambil stoples bubuk kopi hitam, memanaskan air dengan sihir, atau saat ia membuat susu guna ditambahkan ke cairan hitam yang wanginya syahdu bukan main ini.

Sequoia | Severus SnapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang