41. Heat Beneath the Astronomy Tower

92 20 3
                                        

Terhitung sudah satu bulan setelah pemasifan ramuan penawar yang Snape buat ke seluruh penghuni Hogwarts, dari yang terjangkit parah hingga kritis—berangsur membuahkan hasil yang memuaskan. Bahkan McGonagall yang semula dinyatakan kritis dan hanya memiliki waktu singkat—perlahan mulai menggapai hidupnya lagi. Namun meski begitu, para murid yang masih di rumah belum diperbolehkan untuk kembali sampai semuanya kembali seperti semula. Sebab para murid yang terjangkit dan dirawat di sini juga masih menempuh beberapa perawatan rutin yang dipantau oleh para Healer.

"I always knew you could, Sev," ucap McGonagall yang sudah mulai kuat untuk menggenggam tongkat. Yang disanjung hanya menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak kasat mata. 

"Never underestimate the master of potion, Minerva," ujar Dumbledore menimpali yang disetujui oleh Claire juga Madam Pomfrey. 

Kebetulan sekarang mereka tengah berada di chamber McGonagall sengaja untuk memantau kesembuhan Head House of Gryffindor itu. Dan tujuan Claire itu, jelas karena ia dipaksa oleh Snape, sebab pria itu dipaksa oleh sang Headmaster untuk memantau perkembangan seniornya.

"And maybe we should say thank you to Miss Edevane, karena kehadirannya mampu memberikan motivasi dan inspirasi untuk kepala asrama Slytherin ini, sampai dia berhasil membuat ramuan penawar," tambah Dumbledore sembari menepuk bahu Snape yang memang berdiri di sampingnya.

Digoda seperti itu, Claire tidak berani mengeluarkan suara apapun selain tersipu dan mengalihkan pandangannya ke manapun asal tidak bertemu dengan pendar McGonagall, Dumbledore, Pomfrey, sekalipun Snape. Sedang si pria yang bahunya ditepuk hanya menatap Dumbledore dengan kernyitan yang mengisyaratkan peringatan lalu disusul helaan napas. 

Reaksi keduanya lantas mengundang gelak tawa ringan para tetua Hogwarts yang mampu memberikan kehangatan di ruangan ini. 

"I think I should leave to go back to making potions. If we still need it, anyway," ujar Snape mengambil beberapa langkah mundur. 

"Alright, you can leave. Dan Miss Edevane bisa tetap di sini untuk menemani Minerva. Innit, Claire?" kata Dumbledore yang menghentikan langkah Snape.

"It would be wiser to leave Ma'am McGonagall alone. She needs a lot of rest," sanggah Snape dengan lugas. "Doesn't she?" tanyanya mencari dukungan validasi.

"Tidak juga, aku sudah banyak beristirahat, Sev. Aku butuh teman agar tidak stres. Sudah, kau kembali saja ke Dungeons, biar Claire menetap di sini beberapa saat. I never had a conversation with her since she was here with us," final McGonagall yang membuat Snape kehilangan argumen.

Lalu dengan hela napas kasar yang terdengar berat seperti 'Severus Snape' biasanya sebelum Claire datang—Snape mengaku kalah. Ia mengangguk dan pamit undur diri dari mereka semua, juga dari Claire. Tentu saat kakinya melangkah keluar chamber, umpatan ringan keluar dari mulutnya. Seharusnya dia memang tidak membawa Claire kemari, jadi ditahan kan sekarang wanitanya. Shit.

Berbeda dengan Snape yang kesal, Claire justru ikut terkekeh saat Dumbledore dan dua wanita penunggu Hogwarts tertawa ringan. Mereka, terutama McGonagall dan Dumbledore selalu suka menggoda Snape. Seru saja melihat pria datar yang bahkan jarang melempar senyum kepada mereka as his senior and teacher as well—mendengus kesal dan merotasi matanya. 

Tak lama dari keluarnya malaikat dari Hospital Wing, ruangan menyisakan tiga manusia. Claire bukan hanya ditanyai mengenai hubungannya dengan Snape yang kian hari kian kentara itu, ia juga ditanyai tentang kehidupannya di dunia Muggle, kisah percintaannya, pertemanannya, keluarganya, hingga pekerjaannya. Semua yang bisa menjadi topik, mereka lemparkan pada Claire. Bukan apa, mereka hanya ingin tahu saja bagaimana kehidupan Head Girl Gryffindor yang begitu fenomenal setelah lulus dari Hogwarts. Just like grandparents interviewing their granddaughter.

Sequoia | Severus SnapeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang