Restoran Bakmi yang legendaris yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan tertua di ibukota adalah tempat pertemuan Vika dan Satya. Dari kejauhan, tangan Satya terkepal, ingin rasanya menonjok muka perempuan sok kalem itu. Perempuan yang sudah menghancurkan hidupnya itu, seharusnya ia sudah tahu kenapa dari dulu Vika selalu bersedia setiap Satya minta tolong padanya waktu itu. Manusia memang pandai pakai topeng, tapi untuk kasus Vika dia terlalu nyaman dalam benda penutup muka itu.
Kasihan sekali, pengap kayaknya muka busuk itu saking terlalu nyaman pakai topeng.
Deritan kursi yang didorong Satya bikin pandangan Vika teralih dari ponsel. "Eh sudah datang lo rupanya."
"Sudah daritadi sih," jawab Satya pendek.
Senyum ramah Vika perlahan pudar, hawa dingin menyusup ke bahunya yang terbungkus oleh kemeja tipis warna biru langit. Walau tertutup oleh rambut ikal panjang, Satya tetap berkali-kali menelan ludah dan mengerjapkan mata. Berkali-kali ia mengingatkan diri untuk tidak terlena dengan dada Vika yang sintal itu meskipun ukurannya kecil.
Pelayan datang dan menyodorkan buku menu, dan Satya menghalanginya pergi karena ia sudah tahu menu apa yang dipilih. Pelayan itu mencatat, mengambil buku menu, kemudian pamit. Setidaknya kehadirannya tadi bisa bikin Satya bernapas sejenak.
"Kalau kayak gini jadi inget waktu kerjain proyek promosi diskon tanggal kembar buat marketplacenya Mie Gara." Vika membuka obrolan, bermaksud mencairkan suasana aneh ini. Tidak biasanya Satya diam.
Mata Satya tertuju ke jarinya yang bermain-main di atas meja, senyum miringnya sedikit tercetak tanpa memandang lawan bicara sama sekali. Ia sungguh ingat momen itu, momen bikin semua orang lembur di kantor termasuk atasan mereka yang perfeksionis itu. "Memang masa yang indah untuk dikenang, tapi kadang kehadiran gue juga bikin kalian terus menerus memandang gue sebelah mata, kan? Mentang-mentang gue anak Bos, gitu."
Teruslah keluarkan emosi negatifmu, Sat, biar aku makin leluasa menghabisinya.
Pernyataan itu bikin Vika tertohok, tapi ia memutuskan untuk bertahan. Obrolan mereka tertunda karena pelayan sudah datang bawa dua makanan dan satu minuman, soalnya Vika sudah pesan teh panas dan tersisa setengah.
"Berarti gue bener," sambung Satya sambil memainkan sumpit, mengaduk-aduk bakmi dan topping. Sedikit demi sedikit menuangkan kuah kaldu dari mangkok kecil ke piring bakmi.
Hawa dingin itu semakin menyiksa bulu roma Vika, Satya di depannya kali ini bukanlah Satya yang ia kenal. "Tumbenan lo sensi gini, Sat. Memang mereka ngomongin jelek-jelek tentang lo, tapi gue nggak ikut-ikutan sama sekali lho."
"Lo masih nggak sadar juga rupanya." Satya menggumam seraya tertawa pelan. Dia bertanya-tanya apa perempuan di sampingnya ini sedang berlagak bodoh atau memang beneran bodoh.
"Nggak sadar gimana sih maksud lo?" Vika mengerutkan alis.
Obrolan mereka diinterupsi oleh dua mangkuk putih yang berisi mie pesanan masing-masing dan satu teh panas milik Satya. Satya tidak melanjutkan lagi, dia terlena dengan kriuknya pangsit goreng yang super lebar itu dengan kenyalnya daging saat bersatu padu dengan mie keriting yang ia tahu itu dibikin dari awal alias pakai proses goyang-goyangin tepung. Tidak lupa sesekali ia menuang kuah kaldu yang rasanya kayak kuah bakso gerobak itu. Bagi Satya, menuang seluruh kuah ke dalam bakmi merusak cita rasa, dan ia tidak peduli. Tidak mengherankan bakmi ini berkembang semakin pesat, dulu Papi dan Mami sering pesan bakmi ini waktu masih pakai gerobak dan dimakan di bangku belakang mobil.
Begitu mangkok besar dan kecil sudah licin, Satya baru bersuara. "Gini, gue jelaskan kenapa hari ini bawaannya kesel sama lo." Tangannya menyentuh sedotan untuk mengaduk-aduk cairan gelap di gelas kaca. "Lo terlibat dalam kejadian pembunuhan Sintia, dan ngefitnah gue yang jadi pelaku. Padahal sebenarnya lo yang nusuk dia, ya, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Reputasi | ✓
Mystery / Thriller[SERI PANDORA #3] (21+) Cover by: shadriella. Satya Narayan Anggara (28), adalah cowok humoris, ganteng, gampang bergaul, dan digadang-gadang menjadi penerus Grup Anggara. Sebelum itu, Satya bekerja sebagai supervisor divisi pemasaran untuk jenjan...
