"Bos, ini benar-benar mengejutkan."
"Lebih baik dari dua kemarin, kan?" Si Bos tersenyum bangga. Pekerja memang dapat diandalkan untuk urusan bongkar-membongkar isi laptop Aziz. "Pertemanan tuh nggak selamanya murni, rupanya."
Pekerja hanya manggut-manggut, masih belum mengerti maksud si Bossnya secara utuh.
Bos masih memilah-milah dan tersenyum saat membuka isi fail bagaikan mendapat emas batangan puluhan kilogram. Di situ terpampang nyata kegiatan yang dilakukan secara ilegal. Bos tahu bahwa barang-barang yang merupakan onderdil sepeda motor itu belum mendapatkan izin dagang di Indonesia. Belum lagi ketika melihat tabel keuangan yang hasil debit dan kreditnya berjumlah ratusan milyar.
"Benar-benar, ya, si Aziz ini." Mata si Bos masih terpaku pada betapa banyak sekali gambar-gambat hasil rekaman cctv yang memperlihatkan aktivitas teman-temannya Aziz, sementara si Pekerja memajukan badan di samping kursi besar Bos yang empuk. "Semua dokumen, aktivitas, sampai keuangan aja diginikan. Aziz licik juga selama ini."
"Tapi, Bos." Si Pekerja mengerutkan alis, semua tampak aneh baginya. "Menurut saya, seharusnya Aziz tidak menyimpan semua data aneh ini di laptopnya, orang kalau mau jahat pasti data–data begini tidak akan disimpan di laptop utama, Pak."
"Memang, saya tahu." Bos setuju dengan pemikiran si Pekerja. "Bisa saja selama ini Aziz membackupnya di banyak perangkat, tapi poin paling penting di sini adalah kita mendapatkan bahan untuk menjatuhkan teman-temannya Satya pakai ini. Tidak ada yang boleh membantu dia sampai nama baiknya benar-benar merosot. Kamu paham?"
Pekerja menjawab dengan anggukan.
"Baik, silakan lanjutkan pekerjaanmu." Bos mengarahkan tangan ke pintu, tanda si Pekerja harus pergi.
Selepas kepergian Pekerja, Bos kembali mengotak-atik semua data dan fail dari Aziz tadi untuk ia olah. Namun, wajahnya berubah panik setelah membuka salah satu fail tentang salah satu dari tiga teman Aziz.
***
Setiap pagi, Terry selalu memulai hari dengan olahraga jogging bersama Papa di sekitar kompleks perumahan sebelum bekerja. Tidak jarang mereka berdua juga menyapa beberapa tetangga yang ikut lari bersama. Kegiatan ini sudah jadi rutinitas bersama sejak Terry masih sekolah dasar, alasan Papanya melakukan ini agar membiasakan diri untuk hidup sehat di tengah kesibukan sekaligus membangun waktu berkualitas antara Papa dan putrinya. Jika punya waktu lebih, mereka biasanya main golf berdua di Pondok Indah Padang Golf.
Namun, kali ini Papa belum beranjak dari sofa kesayangan. Padahal setelan training Nike dan sepatu Skechers Max Protect Sport Men's Sneakers sudah membungkus tubuh beliau dengan rapi. Tidak ada sapaan dan senyum manis seperti biasa, makin menguatkan asumsi Terry bahwa ada hal aneh yang mengganggu pikiran.
Terry mengambil duduk sofa panjang. "Pa, kok diam saja? Anaknya yang cantik dan manis ini sudah siap lho."
Kepala Papa beranjak dari ponsel, menampakkan wajah datar. "Bisa jelaskan ke Papa tentang ini?" Beliau mengotak-atik ponselnya dan beberapa detik kemudian notifikasi ponsel Terry berbunyi.
Mata Terry melebar seketika saat menampilkan laman media sosial Lambe Tempe. Ternyata itu adalah fotonya dari belakang saat bertemu dengan Koko Tian di restoran favorit mereka beberapa minggu yang lalu. Fotografer sialan itu juga mengambil sudut dari samping sehingga wajah mereka berdua tampak dari samping. Namun, pada kolom keterangan itu yang bikin kesal di mana kalimatnya tertulis 'Pacar misterius penulis The Traveler Supper terungkap: Hanya pria miskin yang tidak selevel dengannya tapi tampan sekali'.
"Kamu ingat dengan perjanjianmu sama Papa waktu itu?"
Pertanyaan yang disampaikan dengan nada datar dan menusuk itu sukses bikin sekujur tubuh Terry bergetar sehingga mengepalkan kedua tangan di balik punggung agar tidak ketahuan Papa. Namun, bukan Terry namanya jika ia tidak jujur, maka anggukan adalah jawabannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reputasi | ✓
Mystère / Thriller[SERI PANDORA #3] (21+) Cover by: shadriella. Satya Narayan Anggara (28), adalah cowok humoris, ganteng, gampang bergaul, dan digadang-gadang menjadi penerus Grup Anggara. Sebelum itu, Satya bekerja sebagai supervisor divisi pemasaran untuk jenjan...
