Satya memang tidak ikut nongkrong bareng geng Cowok Manis sepulang dari Dansi Heaven Club kemarin. Ia memutuskan untuk nginap di apartemen Tio karena jaraknya tidak jauh dari situ. Tio sendiri untungnya sudah hafal tabiat sahabatnya tersebut, Ia selalu jadi korban gendongnya setiap mabuk bersama Obi atau Nira waktu di New York – tergantung siapa yang masih melek. Kebiasaan itu berlanjut di Jakarta walau tidak seintens dulu, dan lagi-lagi kenangan itu menggerogoti otaknya tanpa ampun.
Tio menyerahkan selimut warna coklat pucat pada Satya yang sudah memejamkan mata. "Nggak di New York, nggak di Jakarta, lo tetep aja nyusahin gue." Sahabatnya yang super tampan dan beralis tebal itu menggelengkan kepala.
Dalam pejaman, Satya masih mampu menarik selimut tersebut hingga menutup seluruh badannya, walau kakinya menggantung di pinggiran sofa. "Lena ama Shanty nggak asyik. Sial sekarang gue jomlo." Ia tersenyum lebar seperti badut. "Oh seorang Satya yang tampan pasti bakal dapat pacar lagi. Perempuan lain di dunia masih banyak." Tawanya membahana seperti sedang berada di surga.
Tio menatapnya ngeri, ia terbiasa dengan racuan tidak jelas Satya setiap mabuk dalam tingkat apa pun. "Dasar sinting," gumamnya sebelum kembali ke kamar.
Pagi harinya, Satya merapikan selimut dan bergegas mandi. Walau pengarnya masih ada, Satya mampu menghalaunya dengan baik. Satu lagi kenapa Tio selalu jadi tempat tampungannya setelah mabuk adalah si sobat menyediakan satu tablet aspirin lengkap dengan air mineral dan tulisan 'GWS Bro'. Dia langsung menenggaknya cepat sebelum nyusul Satya yang sudah menyiapkan sarapan di piring.
Memori New York kembali menguak, masing-masing dari mereka berempat dulu punya spesialisasi masak. Tio yang jago bikin sarapan, Obi yang jago bikin makan malam, dan Nira yang jago bikin kopi dan minuman sejenis. Roti bakar dikombinasikan dengan Nutella memang sempurna sekali.
Tio yang baru makan ujung roti hanya bisa geleng-geleng lihat gaya makan sahabatnya yang termasuk bar-bar ini. "Lo kayak nggak dikasih sarapan seminggu aja."
Satya telan makanannya dulu sebelum komentar. "Gue belum makan malam kemarin di Dansi, harap maklum lah, Bro." Ia mengangkat alis dengan senyum seringai.
Decakan adalah jawaban Tio saat ini.
Mereka berdua kembali ke sarapan masing-masing sambil membicarakan topik tentang New York, pekerjaan, dan spare part terbaru motor. Entah sudah berapa pembicaraan mereka habiskan, topik beralih pada Nira dan pembahasan batu pemberian Obi.
"Bentar-bentar." Tio mengangkat tangan, berusaha mencerna omongan Satya yang secepat subway jurusan Lower Manhattan–Upper West Side dengan mengangkat satu kakinya di atas kursi. "Lo lihat Nira sama cowok di Genki Sushi PP beberapa hari lalu?"
Satya menegak teh hangat yang ia tuang sendiri dari teko putih yang Ia tahu adalah pemberian Bundanya Tio. "Tumbenan banget lo gercep pergosipan, biasanya pacaran sama alat musik melulu. Baiklah, intinya waktu gue mau makan malam sama Lena di PP ugh, gue lihat tuh Nira. Mau gue sapa eh dia asyik ngobrol ama cowok sambil jalan barengan gitu, mana ketawa-ketawa pula. Jarang gue lihat Nira seceria gitu kalau bukan nonton acara komedi favoritnya."
"Tapi, kan, bukan berarti Nira pacaran sama tuh cowok, Sat?"
"Naif lo masih nggak ilang-ilang, Yo." Satya bersungut sebal sambil nunjuk pisau oles berlumur selai coklat untuk roti bakar kedua. "Nira itu nggak pernah pamerin ke kita siapa pasangannya, buktinya apa? Dia tahu-tahu bawa Abraham ke tongkrongan langganan kita di Elmhurst dan dengan entengnya ngumumin lagi dekat nih. Sekarang kita tinggal nunggu waktu kapan anak itu nunjukkin ke kita bertiga." Satu suapan roti bakar dengan lapisan Nutella menari-nari di mulut Satya sampai lolos ke kerongkongan.
"Benar juga." Tio manggut-manggut. Di antara mereka berempat, Nira benar-benar paling menutup rapat kehidupan pribadinya.
"Kita tunggu tanggal mainnya, mungkin kali ini Nira bakal kasih undangan ke kita." Satya tersenyum licik. "Ah kalau bener mereka pacaran beban kita ringan banget, Yo. Males gue dikenalin sebagai teman kondangan ke relasinya Nira, apa lagi yang cantik-cantik. Rusak citra gue sebagai pria ganteng ntar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Reputasi | ✓
Misterio / Suspenso[SERI PANDORA #3] (21+) Cover by: shadriella. Satya Narayan Anggara (28), adalah cowok humoris, ganteng, gampang bergaul, dan digadang-gadang menjadi penerus Grup Anggara. Sebelum itu, Satya bekerja sebagai supervisor divisi pemasaran untuk jenjan...
